Kolom

Untuk Apa Kita di Lahirkan ke Dunia ?

AKTAINDONESIA.COM, PEKANBARU – “Were we born to love or to hate ?” Begitu sebuah pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang profesor, Raihani Ph.D, ketika mengakhiri pidato ilmiah dalam acara pengukuhannya sebagai guru besar di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif kasim, Riau, beberapa tahun yang lalu. Pertanyaan itu diajukannya setelah membahas secara panjang lebar tentang makna plurasisme dari berbagai perspektif. Pertanyaan seperti itu menjadi sesuatu yang sangat penting di saat bangsa dan umat mulai terjebak oleh sekat-sekat perbedaan yang sebenarnya sudah ada sejak dahulu, tetapi kini semakin kuat dan tajam karena bersamanya membonceng apa yang disebut sebagai kepentingan.

Perbedaan yang sejak azali sudah ada dicipta Yang Kuasa, bukan untuk dipertentangkan menjadi perpecahan, tetapi untuk disinergikan menjadi energi kehidupan. Berbeda tidak berarti berpecah. Berbeda berarti beragam, dan beragam bermakna bahwa hidup memang memerlukan diversifikasi, laksana tubuh yang tidak akan sehat secara sempurna kalau hanya mengkonumsi satu jenis makanan. Keberbedaan bukan untuk dipertembungkan, tetapi dirangkai menjadi laksana orkestra di mana masing-masing instrumen tetap dengan ciri dan kapasitasnya, namun bekerjasama melahirkan sebuah simponi yang menyuguhkan keindahan untuk siapa saja yang berada di sekitarnya di bawah komando seorang konduktor. Keberbedaan bukan untuk dilebur menjadi satu, tetapi untuk dirangkai menjadi hiasan warna warni bak pelangi di cakrawala yang biru.

Lalu, kembali ke pertanyaan yang tertera dalam judul, untuk apa kita dilahirkan, atau untuk apa kita dicipta oleh Yang Kuasa ? Untuk mencinta atau untuk membenci ?

Pertanyaan itu menjadi penting dikemukakan ketika melihat fenome kehidupan masyarakat hari ini di mana perbedaan diangkat sebagai alasan untuk saling berpecah, bahkan untuk saling membenci dan bermusuhan di antara orang dan atau kelompok-kelompok yang berbeda itu sendiri.

Baca Juga :  PII Sukses Gelar Latihan Kader Se-Sumatera Barat

Paling tidak, ada dua kata kunci yang tunjukkan oleh al-Qur’an untuk menjawab pertanyaan yang sangat mendasar tersebut: Pertama, manusia dicipta oleh Allah untuk mengabdi kepadaNya (QS.3:191); kedua, keberbedaan diciptakan oleh Allah untuk saling berinteraksi, saling bersinergi (QS.49:13). Mengabdi dan berinteraksi atau bersinergi adalah dua kata yang mengandung tuntutan untuk berbuat. Keduanya adalah kalimat perintah, yaitu tuntutan untuk melakukan sesuatu yang datang dari pihak yang lebih tinggi. Dua kata ini menjadi kunci untuk mencari makna apa sesungguhnya hakikat dari hidup, atau apa hakikat penciptaan kita sebagai manusia oleh Allah Yang Maha Mencipta, untuk mencinta atau membenci.

Bila diperhatikan secara cermat, dua ayat di atas mengandung pesan tentang hakikat penciptaan manusia di atas dunia. Ayat pertama mengatakan bahwa manusia dicipta oleh Allah adalah untuk mengabdi kepadaNya, sementara ayat kedua mengatakan bahwa perbedaan diantara sesama manusia itu diciptakan dengan maksud agar antara satu dengan yang lainnya berinteraksi menciptakan satu kolaborasi pengabdian kepada satu obyek yang sama, yaitu Allah Swt. Kesamaan obyek pengabdian mengajarkan kepada si pengabdi bahwa siapa dan apapun nama kelompoknya, semuanya hidup untuk satu tujuan yang sama, yaitu Allah, dan untuk mendapatkan sesuatu yang sama, yaitu ridha dan cinta kasih dari Allah, Zat Yang Maha Hidup, Zat Maha Pecinta dan Pengasih. Semua perbedaan bertemu, bermuara, dan bersatu pada satu titik dan ikatan yang sama, yaitu Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Perintah mengabdi, sebenarnya adalah perintah menanamkan cinta dan kasih kepada yang diabdi. Karena, tidak akan kata pengabdian, bila obyek yang diabdi tidak dicintai, tidak dikasihi. Oleh sebab itu, manusia lahir ke dunia adalah untuk mempersembahkan kasih, mempersembahkan cinta, karena hanya dengan cinta dan kasihlah hidup akan bahagia. Semakin tinggi rasa cinta, semakin tinggi juga rasa bahagia itu. Inilah fitrah manusia yang sesungguhnya. Cinta adalah fitrahnya. Ia tercipta oleh cinta. Ia dilahirkan membawa cinta. Ia dihidupkan untuk mempersembahkan cinta, cinta kepada Yang Maha Cinta, lalu cinta kepada semua yang dicinta oleh Yang Maha Cinta, yaitu semua manusia dan juga alam semesta. Hanya dengan cinta semua akan bermakna. Hanya dengan cinta semua akan terasa bahwa hidup adalah kesyukuran, dan kesyukuran adalah menu kebahagiaan yang sesungguhnya.

Baca Juga :  Dampak Negatif Kecanduan Game Online

Tetapi, kenapa yang menggejala dalam proses sosial akhir-akhir ini justru bukan cinta, tetapi silang sengketa dan akhirnya membawa petaka ?
Bapak Mohammad Natsir pernah berkata bahwa “bila tujuan kita sama, walau berangkat dari tempat yang berbeda, di tengah jalan kita sudah berjumpa.” Artinya, seperti diurai di atas, tujuanlah yang akan membuat orang bisa bersatu atau bersengketa. Untuk itu penulis ingin berkata, “bila tujuan berbeda, walau berangkat dari tempat yang sama, mulai melangkah kita sudah berpisah.” Lahirnya Indonesia menjadi bangsa yang satu, padahal berasal dari pulau dan suku yang berbeda, misalnya, adalah karena tujuan sama, yaitu merdeka dari jajahan kolonial yang membuat rakyat menderita. Tujuannya sama, berarti obyek pegabdiannya sama. Obyek pengabdiannya sama, berarti tempat tumpahan cintanya juga sama. Inilah dulu yang dialami oleh bangsa Indonesia, bangsa yang terdiri atas amat beragam budaya dan juga agama, tetapi bisa bersatu karena tujuan pengabdiannya satu. Semua mengedepankan kewajiban. Semua bertanya kepada dirinya, “apa yang bisa ku berikan untuk negeri ini ?” Semua melepaskan kepentingan-kepentingannya, sehingga tidak ada yang bertanya kepada dirinya, “apa yang bisa kuambil dari negeri ini ?” Begitulah. Manusia yang mengerti hakikat kehadirannya di dunia, akan memposisikan Allah sebagai satu-satunya pusat dari segala aktivitas dan harapan. Allah sebagai tujuan bersama, dan Allah sebagai sumber motivasi dari kebersinergian dan kebersamaannya mencapai makna hidup mencari bahagia. Itulah sebabnya tempat janin yang ada dalam perut ibu bernama rahim, kasih dan sayang. Di situ disemai bibit manusia, semaian yang bernama kasih, bernama sayang. Itulah fitrah dan itulah ketentuan Allah.
Tapi kenapa kini manusia berpecah dan berbelah, berantuk-antuk seperti makhluk yang tidak punya cinta ? Jawabnya adalah karena tidak mengerti fitrah, atau menentang fitrah. Tidak mengerti bisa berakibat sesat, dan menentang berarti melawat kualat. Tidak mengerti bisa diberi pengertian. Tetapi bila melawan, berarti menghadang hukuman. Hukuman dari Yang Maha Menghukum, Tuhan Pengatur Alam Semesta. Itu juga berarti melawan Tuhan itu sendiri. Berpecah karena mengejar kepentingan, berarti ada obyek lain sebagai tempat pengabdian selain Allah. Itu namanya syirik. Dan syirik tidak akan berampun.

Baca Juga :  Surah Al-Fatihah, Kandungan dan Keutamaannya

Maka, kita pilih yang mana ? Bersatu atas nama cinta, walau kita memang berasal dari yang berbeda, atau berpecah atas nama benci, lalu terima hukuman berupa kehancuran ? Inilah pertanyaan kunci untuk bangsa Indonesia yang kini sedang ada di mulut kebangkrutan.

 

Oleh : Prof. Alaidin Koto

Tulisan ini pernah diterbitkan di surat kabar Riau pos pada tahun lalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *