Tokoh Anti Belasting Dari Magek

AKTAINDONESIA.COM, BUKITTINGGI – Dalam pergolakan Pajak di Sumatera Barat yang puncak termasyhur dengan Perang Kamang 15 Juni 1908. Gubernur Sumatera Barat FA Heckhler dalam laporannya kepada Gubernur General Van Heutsz di Batavia menyebut dua orang tokoh anti pajak yaitu Dt.Rajo Pangulu dari Kamang dan Dt.Parpatiah Nan Sabatang dari Magek.
Menurut tulisan Rusli Amran dalam Pemberontakan Pajak 1908, aktifitas terbesar menentang belasteng (pajak langsung) adalah berkisar di Nagari Kamang. Sebelah selatan Nagari Kamang berada Nagari Magek (Laras Magek) yang Kepala Larasnya dijabat oleh Agus Warido, orang pilihan Kontrolir Oud Agam, J.Westennenk. Di Magek rakyat juga menentang pungutan belasteng. Menjelang meletusnya Perang Kamang 15 Juni 1908 suasana disini ikut memanas untuk menentang pajak yang dikomandoi oleh seorang tokoh adat, M.Yusuf Dt.Parpatiah Nan Sabatang. Aktifitas Dt.Parpatian Nan Sabatang ini juga dikhawatirkan oleh Westennenk. Ini dapat diketahui dari laporannya (Westenenk) kepada Gubernur Heckler tertanggal 14 Juni 1908. Westenenk melaporkan bahwa keadaan di Kamang dan di Magek saat itu sangat serius, dan tidak menguntungkan (berbahaya). Diharap tindakan darurat segera diambil dengan menangkap para ‘pengacau’. Sasaran penangkapan adalah para mereka yang gencarnya menyuarakan anti pajak yang berada di Tangah (Kamang). Mereka ini antara lain seperti Garang Dt.Panindih, Kari Mudo, Dt.Rajo Pangulu, Dt.Siri Marajo dan lain-lain. Formasi patroli Belanda disusun dan langkah-langkah yang akan diambil sudah direncanakan dengan bantuan 3 (tiga) patroli tentara. Kemudian setelah diadakan penangkapan-penangkapan di Tangah, kita tunggu apa yang akan dikerjakan penduduk.
Pada Senin malam 15 Juni 1908 patroli tentara belanda sebanyak 50 orang lewat Kapau menuju Tigo Lurah dan Tangah yang dipimpin oleh Letnan Bouldingh sebelum masuk ke Kamang terlebih dahulu menjalan aksinya untuk menangkap anti pajak di Magek. Sasaran penangkapan langsung ditujukan kepada M.Yusuf Dt. Parpatiah Nan Sabatang, yang berdomisili di Simpang Pakudoran, Kampung Koto Marapak, Nagari Magek. Datuak Parpatiah Nan Sabatang adalah seorang pemberani. Ketika serdadu belanda akan menangkapnya, walaupun sudah berhadapan dengan serdadu belanda yang memegang senjata api, beliau tidak gentar. dia memberikan perlawanan yang cukup hebat. Datuak Parpatiah berhasil membunuh Warido, melukai Penghulu Kepala Tigo Lurah dan dua serdadu belanda (laporan Westennenk). Perlawanan Datuak Parpatiah Nan Sabatang terhadap tentara belanda juga dapat diketahui sebagaimana yang dikisah oleh salah seorang keluarga besar dalam satu rumah gadang, yang ikut menyaksikan peristiwa bersejarah tersebut, yaitu Nenek Dawiyah (waktu itu berumur ± 9 tahun) kepada menantunya (Bapak M, Sutan Pangulu, 83 th). Sewaktu beliau dijemput paksa oleh tentara belanda yang didampingi oleh Laras Magek Agus Warido dan Penghulu Kepala Tigo Lurah sekaligus sebagai penterjemah atau penunjuk jalan. Ketika hendak meninggalkan rumah, dekat pintu menjelang turun ke halaman Datuak Parpatiah berhasil menikamkan kerisnya ke perut Warido dan langsung tersungkur mati di halaman. Selain itu Dt Parpatiah juga berhasi melukai Penghulu Kepala Tigo Lurah dan 2 orang tentara belanda. Kemudian Datuak Parpatiah diikatkan pada batang duku dekat lumbung padi, setelah itu ditembak mati oleh serdadu belanda, gugurlah beliau sebagai pahlawan bangsa yang patut kita kenal, kita kenang dan kita hormati. Terima kasih.
&&&

Baca Juga :  Peranan Magek Dalam Perang Kamang

Makam M.Yusuf Dt. Parpatiah Nan Sabatang di Jorong Lurah Ateh Nagari Magek.

By. Hirwan Saidi