Tersungkurnya Bilal Saat Syahadat Dalam Azan

AKTAINDONESIA.COMAZAN merupakan panggilan bagi umat Islam untuk memberitahu masuknya salat fardu. Dikumandangkan oleh seorang muazin setiap salat lima waktu. biasanya setelah azan selalu di iringi dengan iqomah sebagai seruan bahwa salat akan dilaksanakan.

Selain itu azan juga termasuk sebuah aktifitas sakral yang mempunyai nilai nilai sangat tinggi bagi Umat Islam, ada makna dan nilai filosofis ideologis yang sangat tinggi dalam mengumandangkannya.

Dalam sejarahnya ada kisah di balik usulan azan yang disampaikan oleh Sayidina Umar bin Khatab. Dalam literatur Islam diceritakan mengenai mimpi Sayidina Umar bin Khatab tentang kalimat-kalimatnya dalam tidurnya.

Lalu dalam mimpinya, Sayidina Umar bin Khatab mendatangi Rasulullah SAW dan kemudian beliau memerintahkan Sayidina Umar untuk mengajari Bilal bin Rabbah kata-kata tersebut. Dalam hadis riwayat Abu Daud, hal serupa juga dialami sahabat Rasululah lainnya, yakni Abdullah bin Zaid.

Mimpi yang dialami Sayidina Umar bin Khatab rupanya sangat serupa dengan yang dimimpikan oleh Abdullah bin Zaid.

Seiring berjalannya waktu, azan pun mulai dikenal di kalangan umat Muslim kala itu. Sehingga dengan sendirinya azan pun makin dikenal sebagai bagian dari budaya Islam yang sangat krusial.

Kendati demkian sepeninggal Rasulullah SAW, terdapat kisah mengharukan dari Bilal bin Rabbah. Di dalam literatur Islam diceritakan bagaimana rasa sedih atas kehilangan Rasulullah sangat membekas di hati umat Muslim, tak terkecuali Bilal.

Bilal bin Rabbah dikabarkan hanya mampu mengumandangkan azan sebanyak tiga kali usai meninggalnya Rasulullah.

Hal itu lantaran beliau tak sanggup melanjutkan mengucap kalimat-kalimat azan pada lafadz: “Asyhadu anna Muhammad ar-Rasulullah,”. Yag artinya: “Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah,”.

Dalam melafalkan kalimat tersebut, Bilal kerap tersungkur dan menangis sehingga para jamaah yang mendengarnya pun ikut terbawa suasana.

Baca Juga :  Pengkritik Suara Azan Minta Bebas, Berikut Isi Suratnya..

Tak hanya itu, saking sedihnya Bilal akan kepergian Rasulullah, beliau izin pamit pergi dari Madinah sebab kota tersebut dipenuhi dengan bayang-bayang dan kenangan Rasulullah di setiap sudutnya.

__Terbit pada
05/12/2019
__Kategori
Khazanah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PropellerAds