Berita  

Syafaat : Anak di INHU Masih Didera Banyak Persoalan

AKTA INDONESIA – Ketua Komisi IV DPRD Indragiri Hulu Muhammad Syafaat SHI ME mengapresiasi penghargaan yang diraih Indragiri Hulu sebagai Kabupaten Layak Anak (KLA) kategori Nindya. Penghargaan ini diterima langsung Bupati Inhu, Jumat (21/7/2022) kemarin di Jakarta.

“Kita mengapresiasi konsep, langkah, dan kinerja Pemkab Inhu yang sudah berusaha mewujudkan program pembangunan yang berorientasi pada hak dan kewajiban anak,” tutur anggota DPRD Inhu dari Dapil 4 ini.

Akan tetapi Syafaat menilai, secara realistis, sesungguhnya masih banyak terjadi persoalan.

“Masih banyak indikator-indikator layak anak yang harus dipenuhi. Perkara terbaru misalnya, terjadi tindak pidana asusila terhadap anak berinisial N (9), yang dilakukan seorang anak berusia 15 tahun. Nah, ke depan bagaimana upaya membangun sinergitas antar lembaga agar Anak-anak kita merasa bebas, aman, dan nyaman saat berada di lingkungannya,” ujar Syafaat.

Ketua DPD PKS Inhu ini juga menyoroti dari sisi kebijakan anggaran. Menurutnya, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Komisi IV beberapa waktu lalu, anggaran di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indragiri Hulu masih sangat rendah.

“Dengan anggaran yang minim yang kita punya, akselerasi pembangunan terkait anak tentu sangat lamban. Sementara pembangunan anak sangat penting sebab juga menentukan kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Inhu di masa depan,” ujarnya.

Minimnya ruang publik yang memenuhi hak-hak anak juga menjadi persoalan. Sebab, selain lingkungan terkecil seperti rumah dan sekolah, anak juga butuh ruang yang lebih luas untuk mengeksplorasi minat dan bakatnya.

“Dan itulah fungsi ruang publik. Lingkungan tempat anak bermain dan berinteraksi lebih luas. Pertanyaannya, sudah memadaikah ruang publik kita. Sudah ada kah ruang publik yang ramah anak di Inhu, ini?,” beber Syafaat.

Baca Juga :  Sejarah Rokok

Syafaat melanjutkan, sejumlah persoalan masih mendera anak-anak saat ini. Termasuk di Kabupaten Inhu.

“Masih tingginya angka kriminalitas yang dilakukan oleh anak, anak-anak yang terjerat narkoba dan kenakalan lainnya, anak-anak yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga, kurangnya fasilitas permainan edukasi anak, program gizi untuk anak, ruang publik yang memiliki orientasi edukasi untuk anak, dan juga anak-anak terlantar serta anak anak yatim,” papar Syafaat.