Nasional

Sosok Alm. Brigjen (Purn) Adityawarman Thaha

AKTAINDONESIA.COM, JAKARTA –

Brigjen (Purn) Adityawarman Thaha, kalangan aktifis dan sebayanya biasa mengenal dengan sapaan ‘Adit’. Namanya sebetulnya sangat familiar bagi masyarakat, dan namanya pun semakin mencuat semenjak disebut-sebut ditangkap oleh kepolisian menjelang Aksi Damai 212. Ia diamankan di rumahnya pada Jumat pagi 2 Desember 2016 oleh petugas dari Kepolisian Daerah Metro Jaya.

Adityawarman sebelumnya dikenal sebagai purnawirawan yang meniti kariernya di kesatuan Zeni Tempur Angkatan Darat. Ia dilahirkan di Suliki Gunung Mas, kabupaten Lima Puluh Kota, provinsi Sumatera Barat pada 4 Maret 1945. Adityawarman juga sempat menjabat sebagai Staf Ahli Panglima TNI.

Ia dikenal sebagai seorang ahli bahan peledak kelas dunia. Predikat ini diperolehnya saat menjalani pendidikan militer di Fort Bragg, Amerika Serikat. Adityawarman memperolehnya bersamaan dengan purnawirawan lainya, Sjafrie Sjamsoeddin, yang menyabet gelar serupa dalam bidang spionase dan anti-teror.

Selepas pensiun dari TNI, Adityawarman banyak berkecimpung di dunia politik dan keorganisasian. Ia tercatat pernah menjabat sebagai ketua Gerakan Ekonomi dan Budaya (Gebu) Minang periode 2001-20014. Selain itu, Adityawarman sempat menduduki posisi sebagai Ketua Pengurus Pusat (PP) Perhimpunan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia periode 2011-2015.

Dalam ranah politik, Adityawarman aktif sebagai juru kampanye Partai Bulan Bintang (PBB) dalam Pemilu 2014. Belakangan, seperti dikutip dari Media Indonesia, Adityawarman dikenal sebagai tokoh yang gencar menyuarakan bahaya pengaruh asing. Menurutnya, paham-paham seperti komunisme oleh Cina dan kapitalisme oleh Amerika Serikat pelan-pelan telah mengancam serta menghisap kekayaan Indonesia secara terselubung.

Dalam sebuah wawancara, Adityawarman mengaku berlatar belakang Islam yang kental. Ayahnya lulusan al-Azhar Kairo dan bekerja di Departemen Agama. Saat masih muda ia aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII). Bahkan ketika sudah aktif sebagai militer dengan pangkat mayor, ia mengaku pernah membuat pelatihan dasar bagi kader-kader PII.

Baca Juga :  MTQ Pangkalan Batang Hadirkan Qori Internasional

“Saya di TNI pernah dianggap ekstrim kanan dan pernah diadili di kesatuan. Untung saja ada Pak Feisal Tanjung saat itu menjadi komandan brigade,” seperti pernah disampaikannya kepada redaksi Suara Islam semasa hidupnya.

Ia dekat dengan tokoh-tokoh Islam. Saat itu, pada awal 1980an, Soeharto memang punya kecurigaan yang laten kepada kelompok Islam garis keras. Rentetan peristiwa seperti Talangsari dan Tanjung Priok mencerminkan pendekatan keras Soeharto kepada kolompok Islam garis keras.

Pada Pilpres 2014, ia mendukung Prabowo Subianto. Ia merasa Prabowo lebih cocok untuk kepentingan umat Islam. “Waktu itu Prabowo banyak membantu ‘ABRI Hijau’. Kalau nggak ada tangan dia, belum tentu dapat banyak berbuat.”

ABRI Hijau adalah sebutan untuk faksi Islam di dalam tentara Indonesia. Di dalamnya ada nama-nama seperti Faisal Tanjung, R. Hartono, dan Z.A. Maulani.

Sosok militer dan muslim militan asal ranah Minang itu kini telah tiada, redaksi AKTAINDONESIA.COM mendapat berita duka dari adik kandung beliau DR. Abas Thaha, Beliau dijemput sang khalik di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto Sekira pukul 23.40 Rabu malam (12/06).

Mantan staf khusus panglima TNI tersebut meninggal diusia 74 tahun

Jenazah Almarhum akan di bawa ke rumah duka Jln. B No. 1 RT 06/RW 04 Cempaka Warna, Cempaka Putih Jakarta Pusat sebelum di makamkan di pemakaman Tanah Kusir pada siang Kamis.

Selamat jalan bang Adit… Semoga Allah senantiasa mengampuni akan segala dosa dan salahmu…(red)

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *