Sejarah Hubungan Negeri Sembilan dan Minangkabau

AKTAINDONESIA.COM, SEREMBAN – ~Gambaran Hubungan dan kedekatan budaya Minangkabau dan Negeri Sembilan~

Bagaimana Masyarakat Negeri Sembilan menjelaskan tentang asal usul dan tata sosial mereka, dapat disimak dalam petatah-petitih berikut :

Asal asal usul usul
Akhir bokosudahan
Solilit Pulau Peroco
Seri Alam di Minangkabau

Tok Bendaro di Sungai Tarap
Tok Indomo di Saruaso
Tok Kali di Padang Gonting
Tok Mengkudum di Sumanik.
Takik durian di tasik rajo
Si Balong bolantak bosi
Singkat lukah, lukah hanyut
Singkat pemerintah Pagaruyung

Sojoman dato’ bujang, nenek gadih
Putih kepalo tatkalo itu
Gagak hitam bangau putih
Adat sentoso dalam nogori eh
Air eh jernih orang eh ramai
Komudian duduk pandang momandang
Pandang ke darek moranti bosanggit dahan
Pandang ke hulu gaung eh dalam
Pandang ke baroh lopan eh lueh
Turun dari Pagaruyung

Rajo badorah putih
Baduo dongan Batin Monggalang
Lalu naik gunung Rombau
Lalu turun ke Sori Monanti
Komudian duduk bosuku-suku
Barapolah suku, duo boleh
Suku bertuo, bobuapak, bolombago
Kemudian duduk dokek rumah
dokek kampung
Laman sobuah sopomainan
Pigi sobuah sopomandian
Jamban sobuah sopoulangan

Petatah-petitih diatas, isinya menjelaskan struktur social di Minangkabau, asal usul nenek moyang masyarakat Negeri Sembilan, dan bagaimana mereka berkembang biak dan meneruskan tradisi ditempat asalnya, dan bagaimana mereka membina masyarakat baru.

Ikatan Keluarga Minang Sedunia (IKMS)
Hubung-kait kultural juga kelihatan dari pengabadian nama-nama Nagari asal masing-masing perantau Minang ke Negeri Sembilan menjadi nama Suku, nama daerah baru di tanah rantaunya.
Itulah sebabnya banyak nama-nama kampung, daerah, suku di Negeri Sembilan yang berasal atau setidak-tidaknya memiliki warna Minangkabau.
Secara resmi di Negeri Sembilan terdapat 12 Suku, yaknih :

1. Tanah datar
2. Batuhampar
3. Seri Lamak Pahang
4. Seri Lamak Minangkabau
5. Mungka
6. Payakumbuh
7. Seri Malanggang (Simelenggang)
8. Tigo Batu
9. Biduanda
10. Tigo Nenek
11. Anak Acheh
12. Batu Belang.

Baca Juga :  2 Dari Indonesia, Berikut 4 Profesor Termuda Di Dunia

Ternyata dari 12 nama Suku tersebut diatas, 9 diantaranya adalah berasal dari Luhak Lima Puluah Koto, yakni:
Suku Batuhampar (berasal dari Batuhampa),
Seri Lamak Pahang (berasal dari Sarilomak),
Seri Lamak Minangkabau (Sarilomak),
Mungka,
Payakumbuh,
Seri Malanggang (Simalonggang)
Tigo Batu (Situjuah Batur),
Tigo Nenek dan Batu Belang (Batu Bolang)
satu berasal dari Luhak Tanah Datar, yakni nama Suku Tanah Datar sendiri.
Sedang nama Suku Biduanda dipastikan berasal dari campuran minangkabau dengan Penduduk Asli Semang, Sakai dan Jakun, dan Suku Anak Acheh diperkirakan berasal dari keturunan Aceh.

Adat yang dipakai di Negeri Sembilan adalah Adat Datuk Perpatih Nan Sabatang.
Perbedaan terdapat pada pewarisan harta pusaka, dimana di Minangkabau harta dibedakan menjadi dua bahagian : Harta Pusaka Tinggi dan Harta Pusaka rendah.
Harta Pusaka Tinggi dibagikan menurut ketentuan Adat, yakni dari Mamak turun ke Kemenakan, sedang Harta Pusaka Rendah (Harta pencaharian Bapak) dibagi menurut Hukum faraidl.
Sedang di Negeri Sembilan, hanya dikenal harta warisan yang dibagikan kepada anak sesuai dengan Hukum faraidl.

Kalau kita perhatikan Bendera Negeri Sembilan yang terdiri dari tiga warna : kuning, merah dan hitam, ternyata juga memiliki hubungan dengan warna kebewsaran Minangkabau.
Kuning warna dasar bendera, merah melintang serong di sebelah atas, dan warna hitam dibawahnya, keduanya membentuk empat persegi.
Bendera ini diresmikan pada tahun 1895, ketika Inggeris berhasil mempersatukan kembali Datuk-datuk Undang yang Empat dengan Yamtuan Muhammad sehingga Kerajaan Negeri Sembilan kembali utuh.

Menurut sumber Negeri Sembilan, warna kuning berarti kedaulatan raja, warna merah melintang serong berarti pengaruh Kerajaan Inggeris, dan warna hitam berarti hak kebesaran Penghulu (Undang) dan jajarannya.
Segera setelah kemerdekaan Malaysia pada tanggal 31 Agustus 1957, maka warna merah ditukar artinya dengan perlindungan Persekutuan (Federal) Malaysia.
Ikatan Keluarga Minang Sedunia (IKMS)

Ternyata warna-warna bendera Negeri Sembilan, memiliki pertautan atau persamaan dengan warna-warna adat di Minangkabau, sebagaimana terdapat pada warna Marawa, warna dasar hiasan atau motif Rumah Adat, warna-warna dominan pada pelaminan dan baju kebersaran adat, yang digunakan pada setiap upacara resmi adat dan kenegaraan di Minangkabau dan Sumatera Barat.

Baca Juga :  BRCN Tanah Putih Tanjung Melawan Gelar Lomba Anak Sholeh

Seperti sudah dimaklumi, gelar Pimpinan tertinggi di Negeri Sembilan adalah Yang Dipertuan Besar Negeri Sembilan (Yamtuan), berbeda dengan 8 kerajaan Negeri lainnya di Semenanjung Melaka, dimana 7 diantaranya bergelar Sultan (Sultan Kedah, Trenggano, Pahang, Melaka, Selangor, Johor, Perak, Kelantan), satu bergelar Raja (Raja Perlis), dan satu lainnya bergelar Yang Dipertuan (Yamtuan), yakni Negeri Sembilan.
Ternyata gelar Yang Dipertuan tersebut juga dipakai di Minangkabau.,
Bedanya, kalau di Negeri Sembilan disebut Yang Dipertuan Besar , maka di Pagaruyung disebut Yang Dipertuan Sakti Raja Pagaruyung.

Bagaimana kedekatan kultural masa lalu itu dibuhul ulang kembali oleh Pemerintah dua ibukota : Seremban dan Bukittinggi.
Pada tanggal 6 Desember 1986, dideklarasikan Kota Kembar antara Bandar Seremban (Ibukota Negeri Sembilan) dan Kota Bukittinggi (bekas ibukota Sumatera Tengah dan Kota perjuangan di Sumatera Barat).
Adapun latar belakang deklarasi tersebut adalah aspek sejarah, aspek adat resam, cara hidup dan kebudayaan yang masih digunakan di Negeri Sembilan.
Deklarasi Kota Kembar antara Bandar Seremban di Negeri Sembilan.
dan Kota Bukittinggi di Sumatera Barat, dua kota yang dianggap memiliki potensi budaya, potensi politik dan potensi administrative kenegaraan di dua negeri.

Setelah hubungan cultural kembali dibuka, maka kedua negeri mencoba memberikan makna, dan merekat erat hubungan kultural tersebut, dengan antara lain melakukan pemberian gelar adat kepada pimpinan/tokoh yang memiliki peran penting bagi pertautan budaya tersebut.

Penganugerahan gelar itu misalnya pemberian gelar Datuk Perba Jasa Diraja kepada Prof. Drs, Harun Zain (bekas Gubernur/Menteri Nakertrans), dari Yang Dipertuan Besar Negeri Sembilan DYMM Tuanku Jaafar tgl 20 Juli 1970.
Gelar Datuk Seri Utama kepada Ir.H. Azwar Anas (bekas Gubernur/Menteri Perhubungan/Menko Kesra), dari DYMM Tuanku Jaafar Yang Dipoertuan Besar Negeri Sembilan.

Baca Juga :  30 Ucapan Selamat Idul Fitri 1443 H

Pemberian gelar Perkasa Alam Johan Berdaulat kepada DYMM Yang Dipertuan Besar Negeri Sembilan, oleh Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar tanggal Agustus 1985.
Dan pemberian gelar Datuk Tan Patih Johan Pahlawan, kepada Sri Dato’ Samad Idris (bekas Menteri Kebudayaan, Belia dan Sukan Malaysia), tanggal 7 September 1989, oleh LKAAM Sumbar.
Dan kelihatannya akan banyak lagi pemberian gelar Sangsako dari Yang Dipertuan Pagaruyung dan LKAAM Sumbar, pada tokoh-tokoh Negeri Sembilan khususnya dan Malaysia umumnya, guna menambah eratnya hubungan kedua hala serumpun.

Menurut sumber-sumber Negeri Sembilan, rumah-rumah Penghulu atau dato’ apalagi rumah-rumah rakyat pada umumnya tidak menggunakan atap dengan arsitektur Minang (Rumah Bagonjong), tapi lebih mirip pada rumah Melayu Riau.

Barulah setelah hubungan dibina kembali setelah tahun 1968, maka bangunan rumah gadang atau Rumah bagonjong dipopulerkan dan dibina di Negeri Sembilan.

Bangunan lama Istana Seri Menanti, yang sejak lama dijadikan tempat persemayaman Yang Dipertuan Besar Negeri Sembilan tidak menggunakan arsitektur Minang, demikian juga bangunan baru Istana Seri Menanti (yang mulai digunakan tahun 1930).
Demikian juga halnya Istana Hinggap di Seremban.

Dan Bangunan Pejabat Menteri Besar, semuanya bangunan modern bercorak barat.
Bangunan yang agak mendekati bentuk “Gonjong” adalah atap Mesjid Negeri Negeri Sembilan. Wisma UMNO Jelebu yang dibangun 1980, Dewan Besar Kuala Klawang (1981), Teras atau serambi Kompleks Pejabat Daerah Jelebu.
Dan yang terbaru yang merupakan duplikat 100 % Rumah Adat Minang modern adalah bangunan Dewan Undangan Negeri di Seremban.
Konon kabarnya arsitek bangunan Dewan Undangan Negeri ini didatangkan dari Sumatera Barat.
Bangunan ini merupakan buah karya Rais Yatim ketika dia menjadi Menteri Besar Negeri Sembilan.
Ikatan Keluarga Minang Sedunia (IKMS)