SD Negeri ini Hanya Memiliki 26 Orang Siswa

AKTAINDOENSIA.COM, CIREBON -Sekolah Dasar Negeri (SDN) 3 Karangwuni, Kecamatan Sedong, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, terlihat tidak seperti sekolah pada umumnya, bangku pendidikan tingkat dasar yang biasa terasa ramai dengan anak-anak, namun tidak berlaku untuk sekolah ini. Sekolah ini terasa sangat sepi karena hanya sedikit murid yang belajar disini.

Hanya tiga ruangan kelas yang dimanfaatkan untuk kegiatan belajar mengajar. Padahal, ada enam rombongan belajar (rombel) dari kelas I, II, III, IV, V dan VI. Pihak sekolah menggabungkan dua kelas dalam satu ruangan.

Kebijakan tersebut dilakukan lantaran jumlah siswa hanya bisa dihitung jari. “Total muridnya dari kelas I sampai VI ada 26 orang. Yang paling sedikit itu satu kelasnya ada dua murid,” kata Dawud, salah seorang guru SDN 3 Karangwuni, Kamis (28/11/2019).

Dawud menjelaskan, untuk kelas I dihuni oleh dua siswa, kelas II dihuni sembilan siswa, kelas III hanya dua siswa, kelas IV dihuni enam siswa, kelas V dihuni tiga siswa dan kelas IV dihuni enam siswa.

Kondisi ruang belajar yang sepi dari murid di SDN 3 Karangwuni Cirebon

Menurut Dawud, kondisi memprihatinkan itu terjadi sejak tahun 2000. Dawud berharap adaa solusi dari Pemkab Cirebon terkait kondisi tersebut.

“Di sini juga guru sedikit. Rata-rata honorer. Harusnya ada perhatian juga untuk guru honorer,” kata Dawud.

Senada disampaikan Hendriana Andriana Lesamana, salah satu guru honorer di sekolah tersebut. Hendriana mengajar di kelas III dan IV dengan jumlah delapan orang. “Dijadikan satu kelas, iya tanpa sekat,” kata Hendriana.

Hendriana mengaku kesulitan saat menyampaikan materi belajar. Ia harus bolak-balik dan menyesuaikan materi belajar. Terlebih lagi, ruangan kelasnya tak memiliki sekat.

“Inginnya ada sekatnya, biar tidak mengganggu. Karena kelas rangkap ini pusing sebenarnya. Mengajar di kelas III, kadangan kelas IV kelewat,” ucap Hendriana.

Baca Juga :  Suara Misterius Di Langit Pantura

Hendriana berharap pemerintah bisa memberikan bantuan tambahan ruangan kelas. Selama ini, kata dia, proses belajar mengajar berjalan kurang efektif karena kelas rangkap atau digabung. “Mudah-mudaha ada bantuan kelas, atau bisa disekat,” ucapnya.

Di tempat yang sama, Izhar Fardilah salah satu siswa kelas VI mengaku tak nyaman dengan kondisi ruangan kelasnya. Izhar berharap masing-masing kelas memiliki ruangan. “Inginnya (kelas) sendiri-sendiri jangan digabung. Ya teman mah banyak,” ucap Izhar.

__Posted on
28/11/2019
__Categories
Edutech

Author: Akta Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

PropellerAds