Sarung Konstituante

AKTAINDONESIA.COM, JAKARTA – Sidang Konstituante pertama, tangggal 12 November 1956 di Bandung Syekh Sulaiman ar-Rasuli, Ulama kharismatik dari Minangkabau itu maju ke depan. Pria 85 tahun itu, memakai jas tertutup drill dan bridal warna putih, bersarung bugis warna hitam, berkupiah haji lengkap dengan sorban, yang ujungnya tergantung di punggungnya. Ia melangkah tanpa ragu, Bangsa ini akan memulai sidang sehabis pemilu yang aduhai itu.

Sebagai ulama, Beliau membuka sidang, dimulai sidang dengan membaca Al-fatihah, kemudian disambung kata-kata pujian. Ruang sidang senyap, bagai malaikat yang lewat. Ulama yang ganjil, sudahlah bersarung bersurban, dalam sidang yang sangat nasionalis ini, anggota sidang yang berjumlah sekitar 550 orang itu, diajak menunduk membaca Al-Qur’an.

“Seperti di pondok saja” kata tokoh PKI Aidit dengan suara keras. Reaksi Aidit ini berbuntut panjang sebab kalangan atheis ingin Sulaiman dilengserkan dari pimpinan sidang.

“Mantap ini” kata Natsir dari Masyumi.

Sidang dengan susunan meja bundar itu, berlansung saat Bandung sedang bergelora, belum lama berlansung Konferensi Asia Afrika [KAA]. Pemenang pemilu 1955 dari Perti berkumpul sesudah sidang, mereka merapat pada Sulaiman, berdiskusi dan kemudian beristirahat di penginapan.

Mereka yang bersidang adalah pemenang pemilu 1955, dan Syekh Sulaiman merupakan utusan Perti bersama enam orang lainnya. Sulaiman adalah anggota tertua, yang dalam majelis dihormati, namun karena usianya 85 tahun, ia tak sekuat anak muda dalam sidang. Namun karena Aidit yang selalu usil, Sulaiman menanggapinya dengan sikap kuat kokoh.

Sidang pertama sampai ketujuh, ia tetap menjadi pemimpin sidang. Sidang-sidang itu abai akan cuaca Bandung sehingga sering berlansung hingga larut malam, sejumlah kawan dan muridnya berbicara agar Inyiek bisa beristirahat saja di hotel. Ia tak enak hati, lantas kemudian mengundurkan diri karena badannya memang mulai tidak sehat. Pimpinan sidang ia serahkan pada Ridwan dari Partai NU.

Baca Juga :  Pesona Sumatera Barat

Suatu hari ia memanggil Kasim Sabil, dan memintanya menggantikan posisi beliau sebagai anggota Konstituante.

“Gantikan Buya, kau masih muda”.

Kisah bermula, setelah kemerdekaan Wakil Presiden Muhammad Hatta mengeluarkan Maklumat Nomor X. Waktu itu 3 November 1945 Isinya adalah seruan agar mendirikan partai-partai politik sebagai wadah menyalurkan aspirasi rakyat. Sulaiman cepat tanggap, maka pada 22 November Perti menjadi partai dengan nama Partai Islam Perti. Namun maklumat ini terpaksa diabaikan karena Belanda melakukan agresi sampai 1949. Memasuki 1950, matahari mulai terbit di balik kabut bangsa Indonesia. Tibalah 1955 saat pemilu diadakan. Dalam pesta demokrasi itu, Perti dapat 7 kursi di Konstituante dan 4 kursi di DPRD. Karena itulah kemudian Syekh Sulaiman memimpin sidang Konstituante pertama di Bandung.

Kisah Inyiek memimpin sidang itu sampai ke Canduang, sampai kerumah, sampai ke telinga anak istri beliau, menantu dan cucu beliau Semua merasa bangga dan bahagia. Orang yang mereka hormati tampil gemilang, namun beliau Inyiek malah biasa-biasa saja.

Sumber Referensi :
*] Buku “Inyiak Sang Pejuang” Oleh Khairul Jasmi.
*] Buku Ayah Kita (1978) Oleh Buya Baharuddin Rusli.