Kolom Opini

Quo Vadis Guardian Of Sipil

Aktaindonesia.com – Manusia sebagai individu ternyata dalam realita nya tidak mampu hidup sendiri. Ia akan membuktikan bagaimana kehidupannya berjalan dengan senantiasa bersama dan bergantung pada manusia lainnya. Manusia saling membutuhkan dan harus bersosialisasi dengan manusia lain. Hal ini menyebabkan manusia dalam memenuhi kebutuhan tidak dapat memenuhinya sendiri.

Loading...

Ia akan bergabung dengan manusia lain untuk membentuk kelompok-kelompok dalam rangka pemenuhan kebutuhan dan tujuan hidup. Dalam hal ini manusia sebagai individu memulai kehidupan bersama dengan inidividu lainnya dalam berkelompok dengan manusia lain tentu ada suatu pergesekan antar satu sama lain dan memunculkan suatu yang dikatakan konflik.

Abraham harold maslow seorang psikolog, dalam teori hierarki kebutuhan dasar manusia salah satunya yakni kebutuhan akan rasa aman (safety,security needs) Kebutuhan-kebutuhan akan rasa aman ini diantaranya adalah rasa aman fisik, stabilitas, ketergantungan, perlindungan dan kebebasan dari daya-daya mengancam seperti kriminalitas, perang, terorisme, penyakit, takut, cemas, bahaya, kerusuhan dan bencana alam.

Dalam menjalan kan itu, tentulah butuh wadah yang berupa daewah atau wilayah, yang disebut itu dengan negara. Dalam konteks bernegara indonesia sebagai negara berkewajiban aktif dalam menjamin keamanan dari warga warga nya
Itu dibuktikan dengan bentuk secara konstitusional nya melalui uud 1945 “Setiap orang berhak hidup di dalam tatanan masyarakat dan kenegaraan yang damai, aman dan tentram yang menghormati, melindungi dan melaksakan sepenuhnya hak asasi manusia dan kewajiban dasar manusia sebagaimana diatur dalam undang-undang ini.”

Dalam pelaksanaan nya tentu negara membutuhkan instrumen dalam melaksanakan yakni dengan membentuk kelompok penjaga keamanan dan di indonesia pun dikenal dengan nama polisi
Polisi adalah suatu pranata umum sipil yang menjaga ketertiban, “Setiap orang berhak hidup di dalam tatanan masyarakat dan kenegaraan yang damai, aman dan tentram yang menghormati, melindungi dan melaksakan sepenuhnya hak asasi manusia dan kewajiban dasar manusia sebagaimana diatur dalam undang-undang ini.” dan penegakan hukum diseluruh wilayah negara.

Kepolisian adalah salah satu lembaga penting yang memainkan tugas utama sebagai penjaga keamanan, ketertiban dan penegakan hukum, sehingga lembaga kepolisian pasti lah ada di seluruh negara berdaulat.

Kadangkala pranata ini bersifat militaristis, seperti di Indonesia sebelum Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI) dilepas dari ABRI.

Polisi dalam lingkungan pengadilan bertugas sebagai penyidik. Dalam tugasnya dia mencari barang bukti, keterangan-keterangan dari berbagai sumber, baik keterangan saksi-saksi maupun keterangan saksi ahli

Jika dilihat bahwasanya polisi merupakan salah satu intrument negara yang mana memiliki fungsi yang penting sebagai Pemberian rasa aman dalam bermasyarat sesuai dengan uu no 2 tahun 2002 tentang kepolisian negara republik indonesia, dalam pelaksanaan nya tentu masyarakat yang dikenal sipil menilai ada yang ter rasa aman dan tidak sedikit pula terasa tidak aman , tentu lah kalau kita flash back kejadian yang terjadi tidak sedikit pihak dari kepolisian yang dikenal sebagai pengayom masyarakat tentu tak sesuai yang terjadi di lapangan, penulis melihat polisi sebagai pengayom masyarakat tidak terlihat seperti apa indikator pengayom, kita lihat yang terjadi di tengah masyarakat yang terjadi akhir akhir ini, tindakan repensif, Penulis melihat kepolisian dalam hal pengayom masyrakat belum becus menangani persoalan keamanan negara, jangan lah kita lihat contoh yang jauh jauh.

Beberapa minggu yang lalu terjadi kerusuhan yang terjadi di wamena yang menyebab kan meninggalkannya puluhan masyrakat dari etnis minang,bugis dll, itu beberapa contoh yang terkait lambat nya penanganan keamanan, lalu saya juga menyoroti bagaimana buruk nya kinerja pelayanan kepada masyarakat yang sangat buruk, seperti penyelesaian kasus, yang tebang pilih dan melihat masyarakat dari tingkat status sosial. Dan yang paling kontroversial mengutip dari artikel dari tirto.id dengan judul buzzer dan polisi dalam pusaran group whatsapp yang mana dikatakan ada indikasi bawah dari oknum kepolisian yang menyamar sebagai “buzzer” dalam gerakan para kaum “STM” dalam aksi membantu mahasiswa dalam menyampaikan aspirasinya.

Jika ini terus berlanjut maka akan terjadi stigma ketidak kepercayaan ditengah masyarakat bahwa polisi yang sebagai the guardian sipil menjadi the guardian of amoral. Apakah tak sadar yang meng gaji pihak kepolisian itu adalah rakyat ? Maka untuk itu agar tidak terjadinya kehilangan kepercayaan dari masyarakat , tentu polisi harus lah bisa mengandeng dan bersahabat dengan mahasiswa, kenapa mahasiswa tentu mahasiwa adalah seorang siswa (belajar) yang mempunyai sifat maha(besar) .

Maha disini adalah maha yang telah mempunyai nilai nilai agent of change, control social, moral force dan guardian of value. Tentu jika langkah ini terjadi, maka besar terjadi polisi pengayom masyarakat tidak hanya sekedar semboyan, tapi memang aktualisasi dari apa yang dilakukannya dimasyarakat.

Intinya besar harapan dari penulis, semoga apa yang telah terjadi dihari yang lalu seperti pergesekan mahasiswa dengan pihak kepolisian tidak terjadi lagi agar tercapainya masyarakat adil,makmur yang di ridhoi allah swt

Penulis : Abdurrahman Meinanda
Sekretaris Umum Himpunan mahasiswa Islam Cabang Padang

Loading...
Baca Juga :  Polisi Tembak Jambret Sadis di Pekanbaru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *