News

Polemik UAS, Sanusi: Masyarakat Jangan Terpancing Perpecahan

AKTAINDONESIA.COM – Terkait polemik Ustadz Abdul Somad, Sanusi menghimbau agar pemuda tidak terpancing perpecahan yang mengangkat isu SARA.

Loading...

Belum lama ini potongan video ceramah Ustadz Abdul Somad yang di unggah di media sosial menghidupkan polemik di tengah-tengah warganet. Potongan video yang berdurasi kurang dari tiga menit itu memunculkan tudingan bahwa Ustadz yang kerap di sapa UAS telah memecah belah persatuan di NKRI.

Polemik semakin meruncing setelah dikabarkan ada sekelompok Organisasi Masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang melaporkan UAS ke Kepolisian Daerah NTT. Padahal menurut laporan dari viva Polda NTT belum menerima laporan apapun dari masyarakat. Sedangakn menurut Republika, Ormas yang bernama Brigade Moe NTT itu hanya melakukan konsultasi, “mereka ini hanya sebatas konsultasi dengan sejumlah penyidik di Polda NTT.”

Ujung dari meruncingnya polemik ini adalah perpecahan di kalangan masyarakat. Netizen berdebat melalui fitur komentar di berbagai media sosial. Barisan pendukung UAS saling singunggung-menyinggung terhadap apa yang di belanya.

Menanggapi hal ini, Sanusi,  Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Terpilih asal Kabupaten Bengkalis angkat bicara, “Bila diteruskan akan meningkatkan konflik horizontal di tengah masyarakat,” kata Sanusi. Sanusi menilai, ada pihak yang menginginkan perpecahan Indonesia di hari kemerdekaan Indonesia “Semua bermuara pada pengunggah potongan video pendek UAS.” Padahal menurut Sanusi video itu merupakan rekaman video tiga tahun yang lalu dan untuk kalangan internal umat islam, “saya telah menyaksikan klarifikasi UAS” lengkap Sanusi menyebutkan rujukannya

Tokoh masyarakat yang di gadang-gadang untuk maju sebagai Calon Kepala Daerah Bengkalis ini menambahkan bahwa idealnya yang di musuhi bukan sesama anak bangsa, “musuh pemuda saat ini adalah korupsi, kemiskinan, kebodohan, serta perpecahan” kata Sanusi.

Ia menambahkan bahwa masalah ditingkat daerah atau pusat akan semakin sulit di selesaikan apabila Indonesia dalam keadaan terpecah, “problematika kita, baik dalam skala global maupun lokal masih cukup berat apabila kita bersatu untuk mengentaskannya. Dan demikian maka kita akan semakin kesulitan untuk mengentaskan permasalahan apabila kondisi masyarakat dalam keadaan terpecah.” Kata Sanusi kepada aktaindonesia melalui ponsel

Pria lulusan Magister di bidang hukum ini sependapat dengan Tokoh Lembaga Adat Melayu Riau, Al-Azhar yang dikutip oleh JPNN, “Untuk itu, LAM Riau mendorong pihak yang terkait membawa kasus fitnah itu ke ranah hukum.” Sanusi berharap agar pihak yang memiliki kewenangan melakukan proses hukup pada pihak yang pertama kali memotong dan mengunggah video UAS ke Media Sosial. “Saya sangat yakin ada pihak yang tidak senang dengan persatuan dan kerukunan antar umat beragama di Indonesia. Oleh sebab itu, saya sangat berharap agar yang berwenang segera menemukan pihak itu dan menelusuri apa motif mereka memviralkan potongan video ceramah UAS, serta memprosesnya sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.”

Menutup wawancara, Pria lulusan Universita Islam Negeri Sultan Syarif Kasim ini menyampaikan harapannya: “Belum lama ini, kita telah sama-sama menyambut kehadiran NKRI di usia ke 74. Dan pada tanggal 18 Juni ini, tepat 74 tahun yang lalu, melalui sidang BPU PKI Indonesia telah berkonsesus untuk menjadikan Pancasila sebagai Dasar Negara. Dan sila ketiga dari pancasila berbunyi Persatuan Indonesia. Oleh sebab itu, mari kita bersatu guna menyongsong  masa depan bangsa lebih baik.” Pungkasnya.

Loading...
Baca Juga :  50 Orang Tewas Dalam Insiden KA di Kongo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *