Kolom

Polemik Kongres,KOHATI Dimana?

Aktaindonesia – Melihat realita kekinian secara global bangsa ini tengah dilanda keprihatinan yang bekepanjangan,baik dalam persoalan sosial,ekonomi,dan politik yang menempatkan kaum perempuan sebagai korbannya. Salah satu kasus yang paling mendasar saat ini adalah kurang stabilnya perekonomian negara,permasalahan ini menempatkan kaum perempuan harus mampu mengahadapinya untuk tetap bertahan hidup. Disamping itu juga minimnya keterwakilan kaum perempuan dalam parlemen dirasa sangat menjadi permasalahan utama hari ini,seyogyanya keterwakilan perempuan itu untuk saat ini bisa sepadan dengan kaum laki-laki,yaitu minimal 40% bukan lagi 30%.

PropellerAds
Loading...

Sekelumit contoh permasalahan tersebut memang didasari oleh minimnya kualitas SDM dari kaum perempuan,sikap apatis yang masih menggerogoti sebagian masyarakat kita membawa dampak yang kurang baik bagi perkembangan kaum perempuan sehingga keterpurukan itu memang agak sulit dikendalikan.

Oleh sebab itu diharapkan suatu pencerahan yang mampu membangkitkan semangat berintelektual dan memperbaiki diri bagi kaum perempuan,sehingga selayaknya Kohatilah yang menjadi barometer utama mencapai cita-cita luhur tersebut karena dirasa memiliki kemampuan dalam merespon persoalan-persoalan di negara ini.

Hal ini memang hampir senada dengan tujuan HMI-Wati alias Kohati,yaitu “Terbinanya Muslimah Berkualitas Insa Cita” tersebut.
Dalam perjuangannya,KOHATI memiliki domain isu yang lebih kearah keperempuanan terutama terkait Keislaman,Kesejahteraan,Pemberdayaan,Egalitarianisme dan Demokrasi,serta Etika atau Moralitas Masyarakat.

Fungsi Kohati sendiri adalah sebagai wadah peningkatan dan pengembangan potensi kader HMI-Wati dalam wacana dan dinamika keperempuanan,sedangkan perananya adalah sebagai pencetak dan pembina muslimah sejati untuk menegakkan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan,sehingga jika ditelaah lebih lanjut fungsi dan peran Kohati dalam Keorganisasian HMI adalah sebagai akselerator pencapaian tujuan HMI itu sendiri dan pengkaderan bagi HMI-Wati terutama yang diarahkan pada pembinaan akhlak,intelektual,keterampilan,kepemimpinan,kekeluargaan,dan beberapa kualitas lain yang menjadi kebutuhan anggota. Adapun keberhasilan pergerakannya ditentukan oleh anggotanya.

Melihat dari sejarah terbentuknya Kohati maka jelas bahwa Kohati merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dari tubuh HMI,itu artinya tidak ada alasan HMI untuk tidak mendukung segala bentuk aktivitas Kohati. Di dalam analisis tujuan Kohati kita bisa melihat dengan jelas bahwa kohati merupakan salah satu akselerator pencapain tujuan HMI.

Beberapa waktu belakangan ini rumah besar kita HMI mengalami polemik yang cukup besar yaitu dualisme yang disebabkan oleh saudara Respiratori Saddam Al-Jihad dan saudara Arya Kharisma Hardi yang mana masing-masing dari mereka tidak ada yang mau menurunkan ego untuk menyelamatkan rumah besar ini. Tentu saja saya sebagai kader HMI terutama kader HMI-Wati merasa risau dengan polemik yang ada. Ada pepatah yang mengatakan bahwa semakin tinggi sebuah pohon maka akan semakin kencang angin yang menerpanya.

Kita semua tentu sepakat dengan pepatah ini,namun perlu kita garis bawahi bahwa angin apa yang dimaksud? Apakah angin buatan ataukah angin yang memang datangnya dari Sang Creator Kosmos yang pada dasarnya menguji kita untuk bertambahnya iman kita? Dari hari ke hari,minggu ke minggu,bahkan bulan berganti rupanya polemik ini tidak menemukan akhir ataupun titik penyelesaian bahkan makin bertambah runyam dan membabi buta. Lantas mau sampai kapan kita membiarkan hal ini berlarut-larut?

Kita tidak menafikkan bahwa tidak lama lagi kita akan menghadapi konstelasi politik HMI,sebut saja KONGRES. Yang mana isu yang beredar KONGRES tidak hanya satu melainkan ada dua KONGRES sekaligus.

Jujur saja saya merasa bingung dengan keadaan ini,apakah ini yang disebut sebagai prestasi HMI sebab bisa melaksanakan KONGRES di dua tempat yang berbeda sedangkan organisasi lain tidak? Lantas di mana posisi KOHATI hari ini yang katanya suara Kohati adalah suara Tuhan? Apakah KOHATI hari ini sudah dibungkam atau terlalu terlena dengan isu-isu perempuan diluar sana sehingga membuat KOHATI terlihat tidak mempunyai nilai tawar atau solusi untuk polemik yang sedang menimpa rumah besar kita HMI?
Harapan besar saya bahwa KOHATI mampu mengambil peran dalam polemik yang terjadi hari ini di tubuh HMI.

KOHATI harus mampu menawarkan solusi atas pelemik yang terjadi pun kohati harus bisa menjadi wadah pemersatu atas perpecahan ini. Kenapa harus KOHATI? Sebab siapa lagi yang mampu didengar selain suara HMI-Wati yang mana dari rahimnya ia melahirkan generasi yang akan melanjutkan khittah perjuangan yang selama ini digaungkan oleh para founder father kita.

Tetapi jika KOHATI sudah memberikan saran ataupun solusi lantas keadaannya tidak berubah,maka perlu dipertanyakan dimana hati nuraninya. Apakah karena kepentingan perut membuat ia lupa bahwa ada makhluk yang harus ia kasihi? Sekiranya masih ada setitik perasaan yang membuat mereka masih mau mendengarkan aspirasi yang akan di sampaikan oleh KOHATI kedepannya demi mempertahankan rumah besar kita,itupun kalau KOHATI mau mengambil peran dalam keadaan ini.

Kalau diawal polemik ini KOHATI mengambil peran dengan alasan bahwa ingin menyelamatkan HMI,maka hari ini kita tidak lagi berbicara soal hal itu tapi hari ini kita berbicara bagaimana peran KOHATI dalam menghadapi polemik KONGRES. Sebab apa,bukan sebuah prestasi ketika KONGRES HMI yang mana merupakan pengambilan keputusan tertinggi dan menghasilkan berbagai macam solusi untuk Bangsa ini menjadi tidak sakral hanya karena kita tidak bersatu.

Jangan dulu berbicara soal solusi kondisi bangsa kita kalau untuk menyelesaikan persoalan internal kita saja tidak bisa. Jangan lagi ada pepatah bahwa “JAGALAH KOHATI SAMPAI KE TITIK HATINYA” ataupun “ NIKAHILAH KOHATIMU MAKA SEMPURNALAH HMI MU” itu hanya omong kosong belaka ketika HMI-Wati tidak mengambil peran dalam hal ini dan HMI-Wan tidak lagi mengindahkan suara HMI-Wati.

Entah setan apa yang merasuk kalian saudara Respiratori Saddam Al-Jihad dan saudara Arya Kharisma Hardi. Terakhir dari saya, mungkin bisa dijadikan renungan bersama:

“Ada satu yang hilang dari HMI ku,tak seperti dahulu saling bersatu. Ada yang tla berubah dari HMI ku,hilangnya kasih sayang itu menyakitkanku. Percuma ada cinta,kalau tuk bertengkar terus. Percuma ada rindu kalau tak saling bersatu.”

Bahagai HMI
Jayalah Kohati
Yakin Usaha Sampai.

Penulis : Sri Irawati Mukhtar
Bendahara Umum KOHATI Badko Jabodetabeka-Banten (2018-2020)

Loading...
Baca Juga :  Kisah Haru: Ketika Saudara Kandung Masuk Sumur Angker

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *