Peserta Didik Pemilik Masa Depan

Peserta Didik Pemilik Masa Depan

Peserta Didik Pemilik Masa Depan

AKTAINDONESIA.COM, PONTIANAK – Rhenald Kazali (2017) dalam bukunya “Disruption” mengatakan bahwa masa depan adalah era disrupsi ini dicirikan setidaknya tiga karakterisik: (1) speed yakni bergerak cepat karena didukung teknologi; (2) surprises, yakni banyak kejutan yang terkadang tidak masuk rasional, misalnya siapa yang menyangka orang yang biasa-biasa saja justru dipilih rakyat menjadi pemimpin dan siapa menyangka anak drop out SMP berusia 26 tahun mencatatkan diriya sebagai orang kaya baru di Indonesia, siapa menyangka muncul telemedika dan wearable mengubah pelayanan medis; dan (3) sudden shift, yakni banyak hal mengalami pergeseran tiba-tiba, bukan menghilang.

Istilah masa depan sering ditukargantikan dengan istilah abad ke-21 dan Revolusi Industri 4,0 yang beerintikan asumsi “cyber physical system”. Adapun karakteristik utama era “Cyber Physical System adalah sebagai berikut: (1) internet; (2) big data (banyak, lengkap,  dan jejaringan terkoneksi dimana-mana (ubiquitous mobile supercomputing) dan terjaga privasinya; (3) artificial intelligence, seperti: robot, pesawat tanpa awak, mobil tanpa supir, kulkas pesan sendiri, medis oleh pakar IT, hadirnya asisten guru guna memenuhi kekurangan guru dan ruang kelas.

 Internet

Kehidupan kita tidak bisa dipisahkan dengan internet, baik dilihat dari usia, (usia SMP, 13-18 tahun menggunakan internet sebanyak  75,5%), tingkat pendidikan (SD = 25%, SMP = 48,5%, SMA/SMK = 70,5%, S1 = 79, 2%, S2/S3 = 88,2%), dikutip dari Kompas, 2 Fevruari 2018).

Riset membuktikan bahwa handphone digunakan saat proses pembelajaran berlangsung, yakni sebesar 52%, sebesar 90% siswa di dalam kelas menggunakannya untuk mengirim pesan dan bahkan mereka gunakan pada saat ujian, yakni 10%. Konsentarsi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran kurang terfokus, handphone yang semulanya berfungsi mendekatkan yang jauh, sekarang telah berubah fungsi menjauhkan yang dekat.

Sebanyak 70% laki-laki berusia 18-24 tahun (usia sekolah/kuliah) mengunjungi situs porno setiap bulan, sementara 30% wanita melakukan hal yang sama, dikutip dari Tempo, 11 Maret 2012, 25 Nopember 2012 dan 3 Februari 2013.

Data saat ini, setidaknya 2,9% masyarakat Indonesia merasa sangat kepada internet dan 55% diantaranya berusia 15-19 tahun. Bukti lain, jika ke tempat kerja atau ke sekolah/kampus, lupa membawa hp, dapat dipastikan kita akan kembali ke rumah untuk mengambil hp yang tertinggal itu, sepertinya hp sudah tidak bisa terpisahkan dari diri kita masing-masing. Riset membuktikan sebanyak 34% orang tua bersikap positif terhadap anaknya yang memiliki akun facebook dan sebesar 67% orang tua berteman dengan anaknya melalui facebook, dikutip dari Tempo, 9 Desember 2012.

Pada saat sosialisasi RPJMD Provinsi Kalimantan Barat 2019-2024, bapak Sutarmiji selaku gubernur Kalimantan Barat berkelakar, menceritakan pengalamannya berkampanye ke berbagai daerah nun jauh di pedalaman. Beliau menanyakan kepada masyarakat, “Apa yang bapak/ibu/sdr perlukan; jalan (infrastruktut) atau yang lain?”. Erkejutnya beliau ketika mendengar jawaban masyarakat yang ingin bapak gubernur lebih memprioritas membangun tower (jaringan internet).

Di pihak lain, tidak sedikit, masyarakat yang menyalahkan kehadiran internet ketika banyak karakter, akhlak dan kepribadian anak menjadi rusak dan melemah.

Mc Lutan seorang pakar komunikasi menyatakan bahwa “Kita jangan terlalu  mudah menyalahkan atau mengkambinghitamkan perangkat teknologi untuk mengampuni dosa-dosa para penggunanya”, dikutip dari Nicholas Carr (2010) dalam bukunya “The Shallow”.

Big Data

Apabila anda menguasai big data (baik secara kuantitas maupun kualitas, dan data besar tersebut berjaringan (networking)) dan terjaga privasinya, berarti anda memiliki informasi yang sangat penting untuk memenangkan kompetisi.

Pada saat ini, modal sumber daya alam, sumber daya manusia belumlah cukup untuk kehidupan yang lebih baik, masih diperlukan sumber daya data (big data), bahkan ada yang lebih ekstrim mengatakan bahwa mereeka yang menguasai big data, maka ialah yang menguasai dan memenangkan setiap kompetensi di dunia ini.

Artificial Intelligence

Kehadiran kecerdasan buatan merubah banyak hal dalam menyelesaikan pekerjaan yang lebih efektif dan efisien. Kecerdasan buatan akan semakin efektif dan efisien menjalankan fungsinya apabila dipasok atau disediakan big data yang banyak, lengkap dan terintegrasi.

Dampaknya, banyak pekerjaan manusia selain pekerjaan tersebut hilang, pekerjaan manusia digantikan oleh robot. Dampak ikutannya jumlah penggangguran dari tahun ke tahun bertambah banyak terutama mereka yang tidak memiliki literasi, kompetensi dan karakter.

Ketika kita masih asih bicara tentang guru dan ruang kelas adalah kurang, dunia pembelajaran sudah giat-giatnya bicara kecerdasan buatan yang akan membantu guru agar pembelajaran lebih menyenangkan dan efektif, seperti kehadiran virtual reality kardus, papan tulis pintar, mikroskop kamera, dan ribuan aisten guru, dikutip dari Tempo, Oktober I/2018.

Baca Juga :  Teknologi untuk Dinginkan Pakaian Hazmat

Paradigm lama atau masa lalu dalam pendidikan dan pembelajaran masih kental dalam masyarakat kita. Masa sekarang dan masa yang akan datang tidaklah demikian, Future is Now atau Tommorow is Today.

Tidak kalah pentingnyaa ketika, semua sudah tergantung pada internet, bid data dan kecerdasan buatan, maka peran keamanan terhaadap tiga perangkat tersebut tidak boleh terabaikan.

DEMOGRAFI INDONESIA EMAS BERKARAKTER

JUMLAH GENERASI TAHUN
75.000.000 jiwa Tradisionist Pra 1946 (>73 tahun)
80.000.000 jiwa Boby Bommer 1946-1964 (54-72 tahun)
60.000.000 jiwa Generasi X 1965-1979 (39-53 tahun)
82.000.000 jiwa Millenial 1980-1994 (24-38 tahun)
72.000.000 jiwa Generasi Z 1995-2012 (6-23 tahun)

(Sumber, David tillman dan Jonan Stillman (2018), “Generasi Z”,

terjemah: Lina Yusuf, Jakarta: Gramedia

Bonus demokrafi, hanya terjadi raturan tahun sekali, ia ibarat pisau bermata dua, yakni menjadi ancaman atau peluang. Olh karena itu generasi Z dan generasi millennial haruslah menjadi generasi produktif, untuk itu pembangunan manusia adalah penting saat Indonesia Emas (satu abad Indonesia Merdeka) pada tahun 2045 nanti

Tujuh karakteristik generasi Z, yakni: (1) figital; (2) hiper-kustomisasi; (3) realistik; (4) FOMO; (5) wenocomist; (6) DIY, dan (7) terpacu,

Figital, generasi Z adalah generasi pertama yag lahir kedunia dimana segala aspek fisikm baik manusia dan tempat memiliki ekuivalen digital. Virsual merupakan bagian dari realitas mereka. Sejumlah 91% generaasi Z mengatakan bahwa kecanggihan teknologi sutu institusi berdampak terhadap keputusan mereka bekerja pada institusi tersebut.

Hiper-Kustomisasi, generasi Z berusaha keras mengidentivikasi dan melakukan kustomisasi aau penyesuaian identitas mereka sendiri agar dikenal dunia.Sejumlah 56% generasi Z lebih memilih membuat uraian peekerjaan mereka sendiri dari pada diberikan deskripsi yang sudah umum.

Realistik, pola piker genersi Z sangat pragmatis dalam merencanakan dan mempersiapkan masaa depan. Sifat pragmatiss dan realistic tersebut sngat menyulitkan perguruan tinggi atau universitas. Cara pandang generasi Z untuk bertahan, bahkan maju bersifat realistik terhadap apa yang perlu dilakukan.

FOMO, generasi Z sangat takut melewatkan sesuatu. Mereka selalu berada di barisan terdepan dalam trend an kompetisi. Sementara kabar buruk generasi Z selalu khawatir mereka bergerak kurang cepat dan tidak terarah secara benar. Generasi Z selalu igin melompat untuk memastikan bhwa mereka tidak ketinggalan. Sejumlah 75% generasi Z tertarik dengan situasi yang memungkinkan mereka memiliki peran di suatu tempat (perusahaan).

Wenocomist, generasi Z mengenal dunia dengaan ekonomi berbagi. Sejumlah 93% geneerasi Z mengatakan bahwa konstibusi perusahaan terhadap maasyarakat mempengaruhi keputusan mereka untuk bekerja di perusahaan tersebut.;

DIY, generasi Z merupakan generasi “do it yourself” atau melakukan sendiri. Generasi Z yakni bias melakukan apa saja sendiri, apalgi meereka didorong olehorang gtua mereka yang berasal dari generasi sebelumnya untuk tidak mengikuti generasi tradisional. Sejumlah 71% generasi Z berkata mereka percaya bahwa pernyataan “Jika ingin melakukannya dengan benar, lakukan sendiri.

Terpacu, Generasi Z merupakan generasi yang terpacu, merekaa siap dan giat menyingsingkan lengan baju, meereka lebih kompetetif serta tertutup dari generasi terdahulu. Mereka adalah tim juaara. Sejumlah 72% generasi Z mengatakn bahwa merekaa kompetetif terhadap orang yang melakukan pekerjaan sama.

KEMAMPUAN PESERTA DIDIK DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

The World Economy Forum (2016) menyatakan bahwa peserta didik abad 21 memiliki tiga kemampuan dasar: (1) literasi dasar, meliputi: membaca (literacy), numeracy, scientific, information communication technology (ICT), finansial, cultural and civic; (2) kompetensi, meliputi: critical thinking/problem solving, creativity, communication, and collaboration; (3) kualitas karakter, meliputi: ingin tahu (curiosity), initiative, tekun (persistence), adaptabiliy, leadership, social and cultural awareness.

 Literasi

Literasi baca tulis dimaknai sebagai melek aksara atau tidak buta hurup, Diyakini bahwa literasi baca tulis merupakan awal dari semua literasi (iqra’). Forum Ekonomi Dunia mengartikan literasi baca tulis sebagai pengetahuan baca tulis, kemampuan memahami baca tulis, dan kemampuan menggunakan bahasa tulis. Sedangkan menurut Gerakan Literasi Nasional (GLN), literasi baca tulis adalah pengetahuan dan kemampuan membaca dan menulis, mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis serta kemampuan menganaisis, menanggapi, dan menggunakan bahasa. Jadi, literasi baca tulis adalah pengetahuan dan kecakapan untuk membaca, menulis, mencari, menelusuri, mengolah dan memahami informasi untuk menganalisis, menanggapi dan menggunakan teks tertulis untuk mencapai tujuan, mengembangkan pemahaman dan potensi serta untuk berpartisipasi di lingkungan sosial. UNESCO mengatakan bahwa literasi baca tulis aadalah prasyarat partisipasi dalam berbagai kegiatan  social, kultural, politik dan ekonomi pada zaman modern. Koichiro Matsuura mengatakan, literasi mava tulis adalah langkah pertama yang sangat berarti untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Baca Juga :  Pendidikan Berbasis Lingkungan

Literasi numerasi adalah pengetahuan dan kecakapan untuk; (1) menggunakan berbagai macam angka dan simbol-simbol yang terkait dengan matematika dasar untuk memecahkan masalah praktis dalam bermacam konteks kehidupan sehari-hari; (2) menganalisis informasi yang ditampilkan dalam berbagai bentuk (grafik, table, bagan dsb), kemudian menggunakan interpretasi hasil analisis tersebut untuk memprediksi dan mengambil keputusan. Secara sederhana, literasi numerasi adalah kemampuan untuk mengaplikasikan konsep bilangan dan ketrampilan operai hitung alam kehidupan sehari-hari.

Literasi science adalah pengetahuan dan kecakapan ilmiah untuk mampu mengidentifikasi pertanyaan atau permasalahan ilmiah, memperoleh pengetahuan baru, menjelaskan fenomena ilmiah, serta mengambil simpulan berdasarkan fakta, memahami karakteristik saint kesadaran bagaimana sains dan teknologi  membentuk lingkungan alam, intelektual, dan budaya serta kemauan untuk  terlibat dan peduli terhadap isu-isu terkait sains. ,

Literasi Information Communication Technology (ICT) atau litersi digital adalah kemampuan ugtuk memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk dan berbagai suber yang sangat luas yang diakses melalui piranti computer (infoemasi dan computer). Literasi digital ini lebih banyak dikaitkan dengan ketrampilan mengakses , merangkaai, memahami, dan menyebar luaskan informasi.

Terdapat delapan elemen esensi utuk mengembangkan literasi digital; kultural, kognitif, konstuktif, komunikatif, kepercayaan diri dan bertanggung jawab, lreatif, kritis.

Literasi finansial adalah pengetahuan dan kecakapanuntuk mengaplikasikan pemahaman tentang konsep dan resiko, agardapat membuat keputusan yang efektif dalam konteks finansial, untuk meningkatkan kesejahteraan finaansial, baik individu maupun social`dan data berpartisipasi dalam lingkungan masyarakat.

Literasi cultural atau budaya adalah kemampuan dalam memahmi dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesiasebagai identitas bangsa, sedang literasi ewargaan (civic literation) adalah kemampuan dalam memahami hak dan kewajiban sebaagai warga Negara. Dengan demikian literasi budaya dan kewargaan adalah kemampuan individu dan asyarakat dalam bersikap terhadap lingkungan ssosialnya sebagai bagian sutu budaya dan bangsa.

 

Kompetensi

Di saat ijasah dan sertifikat tidak lagi menjadi syarat rekrutmen tenaga kerja, maka gantinya adalah uji kompetensi. Adapaun kompetensi yang diperluan adalah sebagai berikut: critical thinking/problem solving, creativity, communication, and collaboration;

Critical Thinking. Lo Tsu, mengatakan “Kesalahan yang tidak dikritik, maka kesalahan itu akan menjadi kebenaran. Mahatma Ghandi mengatakan, “Satu kesalahan ditoleransi, seribu kesalahan diundang. Semua orang di dunia ini memerlukan kritik, tentu saja seebuah kritik yang beretika, namun yang paling tidak disenangi oleh seluruh umat manusia di dunia ini adalah dihina. Terkadang, batas antara menghina dan mengktik itu sangat tipis.

Problem Solving, kompetensi memecahkan masalah sangat diperlukan bagi semua orang. Mereka yang sukses dan yang gagal, kedua-duanya memiliki masalah, bahkan mereka yang paling sukses adalah mereka yang paling memiliki banyak masalah. Yang membedakan mereka adalah keverdasan menghadapi masalah (adversity question). Kecerdasan menghadapi masalah ini terdiri dari empat variable utama, yakni: (1) self control, (2) ownership, (3) reach and (4) engurance.

Sedang empat unsur penting yng harus diperhatikan untuk mengembagkan kecerdasan adversity yang tinggi: (1) listen, (2) exlore, (3) analyisis and (4) do.

Creativity menciptakan sesuatu yang memiliki nilai kebaruan. Kreativitas terbangun melalui pla asuh dalam keuarga, sekolah dan masyarakat. Kebebasan yang bertanggung jawab merupakan sarana penting dalam membangu kreativitas itu. Orang bijak mengatakan, “Jangan mencela mereka yang mencoba dan gagal, celalah mereka yang gagal mencoba”. Minset dan kebiasaan manusia sangat mempengaruhi kualitas creativitasnya. Martin Seligman mengatakan “Ketidakberdayaan sebagai sebuah proses yang dipelajari”. John C. Maxwell menegaskan, Sometime You Win, Sometime You Lose is LEARN” .

Communication merupakan modal pening bagi mereka yang ingin menguasai dunia ini. Oleh karena itu, ketrampilan berkomunikasi menggunakan bahasa asing selain bahasa ibu atau bahasa negara menjadi penting. Dan bahasa terkait dengan kebudayaan sebagaimana tertuang dalam sebuah konfrensi bahasa Mandarin. Di Bejing beberapa tahun lalu. Penulis menjadi participant dalam konferensi internasional bahasa Mandarin tersebut.

Collaboration atau kerjasama. Semua orang ssukses meminjam otak dan tenaga orang lain.

Kualitas Karakter

Leo Trostoy, seorang sastrawan Rusia mengatakan, “Banyak orang ingin merubah dunia, namun mereka lupa merubah diri mereka sendiri”.

Jenderal Sudirman, Panglima Tinggi TNI mengatakan, “Untuk keselamatan, maka setiap orang harus membekali dirinya dengan 10 peluru. Satu peluru engkau gunakan untuk menembak musuhmu, sementara Sembilan peluru kau gunakan untuk menembak dirimu sendiri. Mengapa demikian, karena musuh terbesar yang sering mengalahkan dirimu adalah dirimu sendiri. Faktanya banyak orang dikalahkan oleh dirinya sendiri

Baca Juga :  Bachtiar Adnan Kusuma Terima Pin Emas Peduli Pendidikan

Mahatma Gandhi meengatakan, “Segala sesuatu karena karakter”. Sebelumnyaa beliau mengatakan, “Perhatikan pikiranmu karena ia akan menjadi kata-katamu. Perhatikan kata-katamu karena ia akan menjadi perbuatanmu. Perhatikan perbuatanmu karena ia akan menjadi kebiasaanmu. Perhatikan kebiasaanmu karena ia akan menjadi karaktermu. Dan perhatikan karaktermu karena ia akan menjadi taqdirmu”.

Ingin Tahu (curiosity), DNA inovator adalah milik mereka yang mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi, mereka memiliki ketampilan bertanya, ketrampilan mengamati dan ketrampilan mengeksprimentasi.

Initiative, sangat diperlukan dalam setiap perubahan, namun sayangnya hanya sedikit saja (2,5%) inisiayor perubahan atau innovator, selebihnya takut dan mencari selamat (kancil pilek), bahkan ada 16% pembangkang sekalipun mereka menikmati usaha perubahan atau inovasi yang anda lakukan.

Tekun (persistence) dan bersungguh-sungguh dalam pekerjaan merupakan karakteristik bangsa-bangsa maju di dunia ini, Penulis menyaksikan sendiri ketekunan masyarakat saat bekerja di Jepang, Orang bijak mengatakan, “Anda hanya mendapatkan dari apa yang anda kerjakan dengan sungguh-singguh”.

Adaptabiliy, eksistensi manusia terhadap perubahan yang semakin cepat, tidak pasti an tidak terarah adalah kemampuan beradaptasi sebagai dampak dari proses pembelajaran yang dialami oleh setiap orang. Charles Darwin mengatakan bahwa kemampuan beradaptasi mampu mengalahkan semua kekuatan yang dimiliki. Jadi kunci adalah “Pembelajaran Terus Menerus”

Leadership, jika dijelaskan dengan menggunakan satu kata, maka kepemimpinan itu adalah pengaruh atau influence. Jika menggunakan dua kata, maka kepemimpinan itu “Yang Benar”, sedangkan manajemen “Dengan Benar”. Kepemimpinan menentukan keefektifan seseorang. Kepemimpinan ada di semua level, Adapun kepemimpinan atau pengaruh berasal adanya kepercayaan (trust) bersumber dari: (1) kejujuran, (2) visioner; (3) inspiratif dan (4) cakap. Kepemimpinan berproses dan dibangun dari lingkungan sekitar kita dan dari hal-hal kecil.

Social and Cultural Awareness, kesaaran social dan budaya adalah sangat penting. Sejak zaman babbar higga zaman modern ini, kesuksesan berada atau milik mereka yang merasa “Hidup Nyaman dalam Keberagaman”. Charles Flourer seorang sosialis Prancis mengatakan, “Peluklah satu dunia untuk kebahagiaan semua orang yang ada di dalamnya”. Oleh karena itu jangan dibangun tembok, terutama tembok etnisitas, melinkan bangulah jembatan dan bangunah rumah besar yang didalamnya terdapat kamar-kamar kecil untuk membangun etnisitas dan ruang tamu untuk membangun persaudaraan. Relasi antar etnis dimana setiap orang merasa tergantung secara positif dengan orang lain (positive interdependence) dan bertanggungjawab harus dibangun. Pendidikan multicultural harus diwujudkan melalui dimensi: content integration, knowledge reconstruction, equity pedagogy, prejudice reduction, and empowering school culture.

Anies Baswedan, menambahkan, karakter terdiri dari: (1) karakter keagamaan, dimana setiap orang memiliki keimanan, ketaqwaan dan akhlaq terhadap sang pencipta, rasulnya, kepada orang shaleh lainnya dan kepada umat manusia pada umumnya; (2) karakter dalam pekerjaan.

Berdasarkan pengalamannya menjadi Dubes RI  di Denmark, Bomer Pasaribu menambahkan ada dua karakter yang menjadi parameter utama kebahagiaan; (1) kejujuran dan (2) keadilan.

PENDIDIKAN DI ERA BARU

John Maynard Keyness dalam sindirannya yang terkenal menyatakan, “Ketika fakta berubah. Pikiran, sikap dan tindakanpun berubah”, dikutip dari Ed Husaini (2008) dalam bukunya “Matinya Semangat Jihad”.

Rhenald Kazali (2018) dalam bukunya “The Great Shifting” menegaskan bahwa “Ketika platform berubah, kehidupan dan bisnispun berubah”.

Arnold Toynbee menegaskan, “Kebangkitan umat manusia sangat ditentukan pada kemampuaannya merespons secara tepat dan cepat permasalahan yang dihadapinya”.

Iqbal menambahkan, “Berhenti tiada tempat di jalan ini, Sikap lamban berarti mati, Mereka yang bergerak, merekalah yang maju ke depan. Mereka yang berhenti sejenak sekalipun pasti tergilas”.

Diana G. Oblinger dan James L. Oblinger (2005) editors sebuah buku berjudul “Educating the Net Generation” menegaskan bahwa memiliki digital literacy untuk menyelenggaraan dan praktek pembelajaran saat ini adalah suatu keharusan.

Menurut UNESCO, empat beban pokok yang dipikulkan kepada guru sebagai agen perubahan, yakni: (1) pembelajaran untuk membangun jati diri (learning to be); (2) pembelajaran untuk tahu (learning to know); (3) pembelajaran untuk mendorong peserta didik mengaplikasikan pengetahuan dalam kehidupan nyata (learning to do) dan (4) pembelajaran untuk membentuk sikap hidup dalam keeberagaman (learning to live together). Keinginan terakhir ini sesuai dengan pandangan Charles Flour seorang socialist Prancis yang menyatakan, “Aku ingin memeluk satu dunia, agar semua orang yang ada di dalamnya berbahagia “Happiness for All” (Nara sumber, Dr. Aswandi Dosen FKIP UNTAN/ Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Tanjung Pura Pontianak)

Admin

aktaindonesia.com adalah portal media online yang melayani informasi dan berita dengan mengutamakan kecepatan serta kedalaman informasi. Portal berita ini selama 24 jam dalam sepekan selalu update. Selengkapnya

leave a comment

Create Account



Log In Your Account