Peranan Magek Dalam Perang Kamang

AKTAINDONESIA.COM, KAMANG HILIA -Pada permulaan tahun 1946, 5 bulan setelah proklamasi kemerdekaan kami para remaja sekitar Pakudoran berkumpul di Surau Bayua untuk mendengar ceramah Inyiak Labai Mudo sebagai Pelaku Sejarah mengenai arti kemerdekaan bagi Indonesia, terutama bagi kita masyarakat Magek. Hadir pada waktu itu kami para remaja termasuk saya sendiri Zetka Harmyn, Mansur, Darmuslim, Hasan, Damsir, Bachtiar, Aten, Anwar, Sofyan, Mohd.Nur, Lukman dan beberapa orang lagi yang saya lupa namanya.

Beginilah cerita Inyiak Labai Mudo yang saya dengar sendiri dengan kawan-kawan.

Pada tanggal 15 Juni yang akan datang kita akan memperingati Perang Blasting atau dikenal dengan Perang Kamang. Perang Kamang disebutkan Perang Blasting karena pada saat itu ditahun 1908 diciptakan pajak baru/blasting oleh pemerintah Kolonial Belanda untuk anjing, sepeda dan beberapa jenis ternak ditambah lagi rakyat tidak dibolehkan minum kopi. Biji kopi harus diserahkan kegudang kopi yang terletak di depan Kantor Wali Nagari yang sekarang.

Ketentuan tersebut sangat menambah beban masyarakat dan yang meyakitkan lagi yang menanam kopi kita, ditanah kita, tapi kita tidak boleh minum kopi. Sehingga terpaksalah masyarakat menciptakan kopi sendiri dengan menggunakan daun kopi itu sendiri. Hal ini menimbulkan amarah dan dendam masyarakat terhadap pemerintah Kolonial Belanda. Dan berkumpullah tokoh-tokoh masyarakat Magek yaitu Yusuf Dt. Perpatih Nan Sabatang, Dt. Sajatino, Dt. Puncak Alam, Dt. Nan Labieh, Syech Yahya, Imam Tuo dan Labai Mudo.

Pada pertemuan tersebut dibuat kesepakatan untuk menentang ketentuan yang dibuat oleh pemerintah Belanda itu dan tidak melaksanakannya. Hal ini juga disepakati oleh tokoh-tokoh Nagari Kamang Hilie dan Nagari Kamang Mudiak. Kesepakatan ke tiga Nagari ini tercium oleh pemerintah Belanda dan pada tanggal 15 Juni 1908 didatangkanlah 2 regu tentara Belanda, 1 regu melalui Pulai terus ke Kamang Mudiak, 1 regu melalui Kapau terus menuju Magek.

Baca Juga :  Tokoh Anti Belasting Dari Magek

Pada waktu subuh dipimpin oleh Barido mencari dan akan menangkap tokoh-tokoh masyarakat yang telah diketahui oleh Belanda. Waktu itu Dt. Perpatih Nan Sabatang menginap dirumah istri beliau di Pakudoran, karena intel Belanda sudah mengetahui maka tentara Belanda langsung menuju Pakudoran dan berusaha menangkap Dt. Perpatih Nan Sabatang. Namun beliau tidak menyerah bahkan terjadi perlawanan walaupun dengan kelewang tentu tidak seimbang dengan tentara yang bersenjata lengkap. Akhirnya beliau gugur dengan terlebih dahulu berhasil membunuh Barido pimpinan tentara Belanda tersebut. Selanjutnya tentara Belanda langsung menuju Kamang Hilie, begitu juga tentara Belanda setelah mendapat perlawanan di Kamang Mudiak, terus menuju Kamang Hilie.
Kejadian perlawanan 3 Nagari tersebut pada pemerintah belanda terjadi pada tanggal 15 Juni 1908 yang dikenal sebagai Perang Kamang.

Mengingat usia saya yang sudah lanjut 87 tahun ini, saya ingin membangun yang monumental yaitu Tugu Peringatan Perjuangan Rakyat Magek menentang Penjajahan Belanda di Pakudoran agar diketahui oleh generasi-generasi yang akan datang. Namun disayangkan keinginan saya tidak dapat terlaksana. Penyebabnya terlalu panjang saya uraikan disini tetapi dapat dibaca pada buku Otobiografi saya yang Insya Allah akan selesai dicetak 1-2 bulan lagi.

Sekian, semoga ada manfaatnya

Wassalam.

-Drs. H. Zetka Harmyn Dt. Indomo-