PENGAJARAN Sebuah Renungan

AKTAINDONESIA.COM – GURU, tak ada guru tanpa seorang murid, tak ada murid tanpa seorang guru. Dalam sekolah-sekolah mereka (guru dan murid) bertemu seperti halnya alam raya ini segalanya terlahir dan bertemu, mengisi kehidupan ini. Demikianlah pengajaran, ia berisi, tanpa ada kekosongan, selalu memenuhi ruang-ruang, mengisi waktu, mengisi pikiran dan perasaan.

Pengajaran mampu melahirkan kehidupan, menghidupkan jiwa, mengerakkan otak, dan mengasah pikiran. Dalam pengajaran, ada pengetahuan yang lahir dan tercipta, darinya simpul rahasia alam semesta terurai, tersingkap satu demi satu, dari ruang kosong diam tak bergerak, lalu dimulailah hitungan waktu berjalan. Dengan itu pengetahuan pun waktu mundur dapat ditelusuri hitungannya ribuan bahkan jutaan tahun lamanya. Dalam pengetahuan pun masa depan bisa diperkirakan kemana akan berakhir, energi hidup akan meredup.

Pengajaran di sekolah-sekolah zaman dahulu lahir dari inisiator-inisiator handal, di pasar-pasar, pelok-pelosok, kota-kota sampai ke perkampungan, ada yang membentuk komunitas, majelis, perkumpulan-perkumpulan ,ada pula yang menyimpan kemisteriusan (rahasia kehidupan) dari alam semesta yang bertebaran pada mikrokosmos manusia) sampai kepada makrokosmos (alam semesta). Hanya di dalam pengajaran, rahasia itu bisa tersingkap entitasnya, yang dari singkpan itu akan terlihat bagaimana ilmu pengetahuan itu mempengaruhi kesadaran tentang dirinya, kesadaran yang dalam sampai melahirkan kebijaksanaan (wisdom).

Pengajaran terkadang dianggap menjadi hal yang rumit dan problematik karena ia menjadi pergulatan nilai, emosi, dan kesadaran termasuk didalamnya nalar. Menjadi tumpuan bagi keberlangsungan hidupnya, pertanggung jawaban Kemanusian di dalam perabadannya serta dan eksistensi manusia untuk bertahan dari segala kepunahannya. Homo erektus sudah punah, homo sapien juga sudah mengalami akhir secara potensial bukan secara eksistensial. Homo ini terus berevolusi bersinggungan dengan hasil dari pengajarannya yaitu sains dan teknologi. Bersaing melawan seleksi kepunahannya di alam semesta ini. Akankah manusia modern ini bertahan dengan kecerdasannya, ,vatau ia berkompromi dengan berkolaborasi dengan Kecerdasan buatannya sendiri (artificial Inteligence) ??.

Enam ribu tahun yang lalu, manusia mulai mengembangkan otaknya dari genus (Homo) Sapien, masih ada kerabat dengan Kera besar, namun Homo Sapien dalam bahasa latinnya diartikan sebagai ‘ orang bijak’ , dan sering juga disebut sebagai ‘manusia modern’. Makhluk ini ditemukan sejak tahun 1758 oleh Carl Linnaeus, diperkirakan sudah ada sejak 200.000 ribu tahun yang lalu sampai sekarang ini berkeliaran dimuka bumi.

Sejak makhluk ini mengembangkan kecerdasannya pada otaknya sekitar 5000 tahun yang lalu, yaitu dari sebuah Pengajaran yang diulang-ulang terhadap dirinya, kelompoknya dan habitatnya.. ia semakin berevolusi, meningkat kecerdasannya, pengajaran adalah pengetahuan (knowledge) melahirkan perbuatan (moral), tingkah laku ( adab ), yang kemudian melahirkan nilai (arti dan maknanya), terus semakin membentuk keadabannya bagi diri dan lingkungannya (civilized). Semakin ke sini, dengan pengajaran dan tata cara (ritual), mereka membangun kehidupan, pencarian sumber-sumber makanan, dengan cara mereka menanam (cultivate), cara mereka berburu dan cara mereka memenuhi kebutuhan hidup (lahir dan batin), bereproduksi agar bisa mempertahankan keberlangsungan spesiesnya.

Mereka menanam (cultivation), menjadi budaya (culture), kebudayaan pesisir pantai, pedalaman hutan, dan di pinggir dengan sumber-sumber mata air, seperti sungai. Dari situ mereka berkhidmat dengan apa yang mereka dapatkan sebagai rasa syukur dengan memuja memuji (cult) sesuatu kekuatan diluar dirinya. yang patut disembah dihormati sebagai sebuah kepercayaan atau keyakinannya.

Pengajaran adalah sebuah alat untuk meningkatkan dan mempertahankan hidup dan kelompoknya atau dalam konteks suku bangsa bisa dipakai untuk melihat seberapa penting dan bergunanya sebuah pengajaran dalam suatu bangsa.

Katakanlah bangsa Indonesia pun demikian tidak lahir tiba-tiba, yang itu ada di dalam persaingan hidup , pengaruh (hegemoni) dan pendudukan (invansi) dari luar juga dari dalam juga ada, antar sesama suku berperang mempertahankan generasinya dari ancaman dan pembunuhan. Sejarah suku-suku di Nusantara kita bisa pelajari, oleh karena saling menyerang dan membunuh sudah biasa di dalam kebudayaan primitif.

Oleh karena tadi kita kembali kepada sebuah momentum ( membaca ) lahirnya sebuah bangsa itu tak kan lepas dari suatu pengajaran (pengenalan) dan saling memahami antara satu suku dengan suku yang lainnya, tidak ujuk-ujuk lahir nasionalisme–proses terciptanya sebuah bangsa itupun akibat pembacaan dari pengajaran para inisiator-insiator yang lebih dahulu tercerahkan pikirannya (melahirkan sebuah ide/gagasan) menjadi sebuah bangsa yang merdeka dan berdaulat, atas dasar ikatan-ikatan senasib dan seketurunan ras melayu, melenesia, punya ikatan geografis, ciri-ciri secara fisik mata, hidung dan warna kulit, serta ingatan kolektif yang sama tentang gugusan pulau pulau di antara lautan (Nusa antara).

Sampai negara Indonesia inipun terbentuk, pengajaran para inisiator (pendiri bangsa ini) telah memberikan dan pengajaran yang sangat berharga akan hidup dan matinya sebuah Bangsa ke depan yang telah kita sepakati bersama sebagai ‘ bangsa Indonesia (banyangan ingatan komunitas , kata Benedick Anderson)’ dan pengajaran ini akan terus ditularkan, mungkin dikembangkan (diperbarui/ dimodifikasi) sesuai dengan proses kompetisi persaingan global dari sebuah evolusi untuk bersaing dengan bangsa-bangsa yang lain di muka bumi ini….

Dalam pengajaran ada kesadaran untuk selalu bertahan hidup menjadi penyintas (survivor) bagi manusia yang lainnya,..

Kita diajar, belajar dan mengajarkan tentang pembelajaran dari pengajaran para orang-orang terdahulu yang sudah lebih dahulu punah di muka bumi ini.

Oleh : Muhammad Radius Anwar/ the Gondangdia Institute

Loading...
__Posted on
04/12/2019
__Categories
Kolom

Author: Akta Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

PropellerAds