Pendidikan Berbasis Lingkungan

Pendidikan Berbasis Lingkungan

Pendidikan Berbasis Lingkungan

KOLOM

 

Dr. ASWANDI  ( Universitas Tanjung Pura, Pontianak )

AKTAINDONESIA.COM – DANIEL Goleman (2010) dalam bukunya ”Ecological Intellegence” mengingatkan akibat rendahnya kualitas kecerdasan ekologis tidak jarang harga tersembunyi dari barang yang dibeli merusak diri para pembelinya, baik kerusakan fisik maupun kerusakan psikologis, dan terjadi salah paham mengenai ”Green”, maksudnya apa yang diketahui dan dipahami sesuatu adalah hijau (green), ternyata hanyalah sebuah khayalan belaka atau hanya ilusi dan imitasi.

Banyak fakta dan data penelitian, baik di bidang pendidikan, psikologi, dan kesehatan menunjukkan besarnya pengaruh lingkungan terhadap kualitas kehidupan penghuninya. Anna Castelli Ferrieri menyatakan, “Tidaklah benar bahwa apa yang berguna itu indah, melainkan yang indahlah yang berguna karena keindahan dapat memperbaiki cara hidup dan berfikir seseorang”, dikutip dari Daneil H.Pink (2006) dalam bukunya ” A Whole New Mind”. Ia menunjukkan bukti sebuah studi dari Universitas Georgetown yang menemukan bahwa jika para siswa, guru, dan metode pembelajaran sama kualitasnya, memperbaiki lingkungan fisik sekolah memberikan pengaruh secara signifikan terhadap peningkatan hasil test peserta didik sebesar 11 persen”.

Penelitian terbaru oleh institusi tersebut menemukan bahwa anak dengan gangguan konsentrasi (attention deficit disorder) memperlihatkan berkurangnya gejala-gejala gangguan saat mereka menghabiskan waktu di lingkungan alamiah, kemampuan berkonsentrasi untuk menyelesaikan tugas dan mengikuti perintah secara drastis membaik. Ruang hijau memiliki dampak pemulihan terhadap perhatian seksama, jenis fokus intensif yang dibutuhkan untuk belajar dan bekerja, demikian Jennifer Ackerman menegaskan dalam sebuah artikelnya yang dimuat pada Nasional Geographic Edisi Maret 2007.

Frances Kuo dan rekan-rekannya di Landscape and Human Health Laboratory dari University of Illinois meneliti dampak ruang hijau terhadap kesehatan psikologis penduduk menyimpulkan bahwa mereka yang tinggal di gedung-gedung dekat area hijau memiliki rasa kemasyarakatan yang lebih kuat dan lebih baik dalam mengatasi tekanan dan kesulitan hidup, merasa lebih aman, dan tingkat kejahatan lebih rendah. Maknanya adalah semakin hijau lingkungan di sekitar kita, maka akan semakin rendah tingkat kriminalitas di sekitar lingkungan tersebut.

Baca Juga :  Kriminalisasi Ulama, Masihkah Berlanjut?

Bukti lain, studi di rumah sakit Montefiore Pittsburgh, dimana pasien yang dioperasi dengan ruang cukup cahaya alamiah atau natural membutuhkan obat penangkal sakit lebih sedikit, biaya obat lebih rendah 21 persen dan pasien meninggalkan rumah sakit dua hari lebih awal dibanding pasien dalam kamar rumah sakit biasa (Daneil H. Pink, 2006).

Jennifer Ackerman (2007) mengatakan “Tidaklah mengejutkan jika kita merasakan alam mengembalikan kesegaran kita dan kita makhluk manusia tidak tumbuh di tengah-tengah gedung beton, melainkan di hutan liar, padang pepohonan, dan ladang rumpun.

Telinga kita tidak diciptakan untuk mendengar raungan sirine, melainkan untuk suara gesekan daun-daun kecil. Mata kita berevolusi tidak untuk membedakan warna-warni mati pada tembok bangunan megah, melainkan untuk menikmati warna-warni halus keemasan, hijau zaitun, ungu kemerahan yang menandakan ranumnya buah dan lembutnya dedaunan, kemudian otak kita berevolusi untuk memberi kehidupan yang lebih bermakna”.

Ia mengemukakan berbagai penelitian ilmiah menunjukkan bahwa “ruang-ruang yang dipenuhi tumbuhan berdaun dapat menyaring polusi dan mengikat partikel-partikel mungil kotoran dan hasil pembakaran, pepohonan di sepanjang jalan dapat mengurangi partikulat di udara dari emisi mobil dan bus. Kelompok besar pepohonan bahkan memiliki dampak yang lebih besar sebagai paru-paru pembersih udara dari zat-zat kimia berbahaya.

Di Chicago para ilmuan menemukan bahwa setiap tahun pepohonan menyerap sekitar 212.281 kilogram partikulat, 88.904 kilogram nitrogen dioksida, 84.368 kilogram sulfur dioksida dan 15.422 kilogram karbon monoksida. Suhu aspal atau beton di bawah naungan pohon dapat lebih dingin 20 derajat celsius dibanding sebidang aspal yang sepenuhnya berada di bawah terik matahari musim panas, udara di bawah pepohonan dapat lebih dingin tiga hingga empat derajat.

Baca Juga :  Lepas Dari Tuan Meneer Jatuh kepangkuan Cukong

Dua penelitian besar di Belanda dan Jepang menunjukkan, mereka yang tinggal di wilayah dengan akses mudah ke ruang-ruang hijau memiliki kesehatan lebih baik dengan tingkat kematian lebih rendah”.

Timothy D. Walker (2018) dalam bukunya ”Teach Like Finland” mengutip pendapat Richard Louv yang mendorong penyelenggaraan pendidikan berbasis lingkungan, seperti yang terjadi di Finlandia (sebuah negara terbaik kualitas pendidikannya di dunia) ini. Louv menyimpulkan penelitiannya bahwa alam sangat membantu peserta didik belajar membangun kepercayaan diri mereka, mengurangi gejala hiperaktif, mengurangi perilaku bullying, menangkal obesitas dan kelebihan berat badan anak, menenangkan anak, membantu mereka untuk fokus dan memberi manfaat psikologis dan kesehatan fisik lainnya”.

Sebuah studi selama enam tahun melibatkan lebih dari 900 Sekolah Dasar Negeri di Massachusetts menemukan bahwa hubungan positif antara kehijauan sebuah sekolah dan prestasi sekolah, baik pada mata pelajaran bahasa Inggris, Matematika, bahkan setelah disesuaikan dengan faktor sosial-ekonomi dan pemukiman perkotaan”.

Faktanya, masih ditemukan kurangnya kesadaran masyarakat, termasuk stakeholder pendidikan terhadap gangguan nature defisit, artinya pembangunan bidang pendidikan belum berbasis lingkungan sekalipun pemerintah sudah sejak lama melaksanakan program adiwiyata.

Persoalan utamanya adalah masih rendahnya kualitas kecerdasan ecologis (Ecological Intelligence) kita. Semua ini semestinya telah menjadi milik kita sejak dulu ketika kita dilahirkan. Namun sayangnya sejak lahir ke dunia ini justru kita bersusah payah untuk membeli, membayar dan menghidupkan kembali apa yang sesungguhnya telah menjadi milik kita, yakni ruang yang hijau sebagai dampak rendahnya kualitas kecerdasan ecologis (Ecological Intelligence) kita.

Ketika memimpin FKIP UNTAN selama 8 (delapan) tahun (dua periode), penulis memiliki pengalaman membangun kampus berbasis lingkungan.

Mendatangkan bibit dari keluarga Munir (almarhum) pegiat HAM di Kota Batu Malang, bantuan bibit Prof Dr. Hadari Nawawi mantan rektor UNTAN sekaligus tokoh pendidikan dan tokoh masyarakat Kalimantan Barat, bantuan bibit dari bapak Ir. Budi, kepala Dinas Tanaman Pangan Kalimantan Barat (suami dari ibu Dr. Hj. Sulistiarini, MSc, dosen FKIP Untan), pohon langka dari seorang alumni FKIP Untan yang pada saat itu menjabat kepala SKPD di Kabupaten landak dimana beliau menemuan bibit pohon langka tersebut di gunung Sahak.

Baca Juga :  Untuk Apa Kita di Lahirkan ke Dunia ?

Setiap kembali ke Pontianak, Prof, Dr. Hadari Nawawi selalu menyempatkan diri singgah di FKIP UNTAN hanya untuk melihat tanaman-tanaman yang beliau tanam di lingkungan kampus FKIP UNTAN. Saat bertemu penulis, beliau selalu berpesan agar tanaman-tanaman yang telah beliau tanam itu dirawat dengan baik.

Sayangnya, kampus orange yang dikelilingi pohon-pohon rindang dan menyejukkan itu telah tiada (FKIP: Kampus dalam Taman) dan mahasiswa mengenal lingkungan FKIP sebagai DPR (Di bawah Pohon Rindang) hanya tinggal kenangan, pepohonan yang sangat hijau itu telah dibatat, tinggal beberapa tanaman dalam kondisi hidup segan mati tak mau.

Dalam pikiran penulis, jika Prof. Dr. Hadari Nawawi itu masih hidup dan berkunjung ke almamaternya FKIP UNTAN, penulis pastikan belian akan bersedih karena tidak dapat menyaksikan kembali tanaman-tanaman yang dulu sangat disayanginya, demikian juga penulis yang mendapat amanah untuk memelihara tanaman beliau seungguhnya juga ikut bersedih, seharusnya pepohonan dan tanaman yang telah dirawat dengan bersusah payah itu tidak dibabat, melainkan ditata kembali agar lebih rapi dan artistik. Kita berharap, semoga suasana kampus FKIP UNTAN khususnya dan Universitas Tanjungpura pada umumnya di masa-masa yang akan datang menghijau kembali, demikian juga institusi pendidikan lainnya berbasis lingkungan. Amiiin (Penulis, Dosen FKIP UNTAN)

nury

leave a comment

Create Account



Log In Your Account