Nasional

Pembantaian Muslim Mali, 135 Tewas, Anak-anak Dibakar

AKTAINDONESIA.COM, MALI – Pembantaian keji dan kekerasan terjadi di Desa Ogossagou telah menewaskan 134 Muslim Mali secara brutal pada hari Sabtu (23/3), yang menargetkan etnis minoritas Fulani.

Banyak dari korban, menurut PBB, adalah perempuan dan anak-anak. Bulan Desember 2018, HRW merilis laporan yang menunjukkan lebih dari 200 kematian warga sipil tahun 2018 di wilayah Mopti Mali dan memperingatkan bahwa kekerasan komunal telah meningkat dengan cepat di sana.

Pembantaian Muslim Mali di Ogossagou meninggalkan desa tersebut dalam reruntuhan yang membara. Dalam video yang direkam melalui ponsel yang ditonton CNN, seorang saksi dengan hati-hati melangkahi reruntuhan rumah-rumah yang hancur dan kendaraan yang masih terbakar di Ogossagou, Mali tengah. Menjelang akhir rekaman, sesosok tubuh kecil terbaring tak bernyawa di tanah.

Seluruh 134 korban tewas dalam serangan brutal hari Sabtu (23/3) yang menargetkan etnis minoritas Fulani, yang dituduh memiliki hubungan dengan organisasi-organisasi jihad di daerah tersebut. Banyak dari korban, menurut PBB, adalah perempuan dan anak-anak.

PBB mengatakan bahwa orang-orang bersenjata, yang dilaporkan berpakaian sebagai pemburu, datang sebelum fajar dan menyerang penduduk desa dengan senjata dan parang. Duta Besar Prancis untuk PBB menyebut serangan tersebut sebagai “tindakan tak terkatakan.”

Skala serangan itu mengerikan, tetapi eskalasi kekerasan di Mali tengah seharusnya tidaklah mengejutkan.

KETEGANGAN ETNIS DAN PEMBERONTAKAN JIHAD
Pemberontakan jihadis menyebar ke Mali utara dan tengah tahun 2012, dengan pasukan asing dan pemerintah tidak dapat sepenuhnya mendapatkan kembali kendali atas wilayah besar negara Afrika Barat yang terkurung daratan tersebut.

Human Rights Watch (HRW) mengatakan bahwa kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan al-Qaeda dan ISIS telah bergerak lebih dalam ke Mali tengah, mengeksploitasi perpecahan etnis yang telah ada dan menabur kekacauan.

Baca Juga :  Bocah SMP Korban Banjir Pekanbaru Belum Di Temukan

Karena kurangnya keamanan pemerintah, unit bela diri Dogon atau kelompok etnis Bambara, seperti Dogon Dan Na Ambassagou, yang namanya berarti “Pemburu yang percaya pada Tuhan,” mulai banyak bermunculan.

Pembantaian hari Sabtu (23/3) adalah serangan yang terbaru dan paling serius dalam serangkaian serangan yang mungkin terkait dengan kelompok-kelompok pertahanan diri di Mali.

Bulan Desember 2018, HRW merilis laporan yang menunjukkan lebih dari 200 kematian warga sipil tahun 2018 di wilayah Mopti Mali dan memperingatkan bahwa kekerasan komunal telah meningkat dengan cepat di sana.

Sebagian besar kekerasan terjadi antara apa yang disebut unit bela diri, dari komunitas yang secara tradisional bergantung pada pertanian, dan populasi penggembala Fulani. Orang-orang dari komunitas Fulani merupakan sumber utama perekrutan untuk kelompok-kelompok jihad, menurut PBB dan HRW.

Tahun 2018, HRW menuduh Dan Na Ambassagou menargetkan para anggota kelompok Fulani dalam serangan yang “menyebabkan puluhan warga sipil tewas dan mengalami cedera.”

Dan Na Ambassagou dibubarkan hari Minggu (24/3) oleh Presiden Mali Ibrahim Boubacar dan Dewan Menteri, menurut sebuah komunike pemerintah, yang tidak mencatat apakah kelompok tersebut bertanggung jawab atas serangan di Ogossagou. Dewan menuduh bahwa Dan Na Ambassagou telah “meninggalkan tujuan awalnya, meskipun berulang kali ada peringatan dari otoritas administratif setempat.”

Corinne Dufka, Direktur Asosiasi HRW Afrika Barat, mengatakan kepada CNN bahwa kekerasan di Mali digarisbawahi oleh “ketegangan yang berkelanjutan atas tanah dan air antara penggembala dan penggarap, tetapi juga oleh meningkatnya kehadiran kelompok-kelompok Islam bersenjata yang telah melakukan kekejaman yang sangat serius dan anggota dari kelompok Dogon yang ditargetkan.”

Dufka mengatakan bahwa Dan Na Ambassagou “telah diserang oleh kelompok Islamis bersenjata, kemudian terlibat dalam serangan balasan mematikan, termasuk yang terjadi kemarin.”

Baca Juga :  Mahasiswi Ini Tewas Setelah Terseret Hingga 300 Meter

Serangan hari Sabtu (23/3) adalah eskalasi terbaru dari siklus kekerasan yang terus meletus dan tak terlkendali.

UPAYA MENJAGA PERDAMAIAN

Pasukan dari misi penjaga perdamaian PBB di Mali

Pekan lalu, beberapa tentara Mali terbunuh dalam serangan terkoordinasi di Desa Dioura. Awal bulan Maret 2019, PBB mengatakan bahwa mayat yang disamarkan menjadi senjata jebakan telah membunuh 10 peziarah di pemakaman Dogon.

Sebuah delegasi dari Dewan Keamanan PBB berada di pertemuan negara dengan para pemimpin ketika pembantaian hari Sabtu (23/3) terjadi, ketika mereka mencoba untuk mengimplementasikan perjanjian perdamaian tahun 2015.

Misi penjaga perdamaian PBB di Mali, yang dikenal sebagai MINUSMA, adalah operasi yang paling berbahaya secara global. Sebanyak 191 tentara dari misi tersebut telah terbunuh sejak dibentuk tahun 2013. Pangkalan mereka secara rutin diserang, tentara mereka sering dihantam oleh alat peledak improvisasi (IED). Tetapi perasaan tidak aman sama tidak hanya muncul di Mali. sepetak besar wilayah Sahel menjadi tidak stabil akibat konflik antar komunitas dan berbagai kelompok teror.

Amerika Serikat telah mengerahkan sejumlah pasukan yang signifikan di wilayah tersebut, terutama di Niger, di mana AS mengoperasikan pangkalan pesawat nirawak yang signifikan di Agadez. Kehadiran di darat, terutama Pasukan Operasi Khusus, menjadi perhatian publik ketika empat prajurit AS tewas dalam serangan mematikan di Niger akhir tahun 2017.

Ada sekitar 1.200 tentara di bawah Komando Operasi Khusus Afrika di sekitar selusin negara, biasanya dalam peran sebagai penasehat militer Afrika dalam melawan kelompok-kelompok teroris.

Tetapi Pentagon mengumumkan akhir tahun 2018 bahwa mereka berencana untuk menurunkan kehadiran pasukannya di benua Afrika. Pengurangan pasukan dan kekerasan yang sedang berlangsung di Sahel telah menyebabkan banyak pakar berspekulasi bahwa ancaman terhadap warga sipil dan dunia secara lebih luas justru akan semakin buruk, bukan membaik.

Baca Juga :  Unilak Santuni 60 Anak Yatim-Piatu Pada Ramadhan Tahun Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *