Ngerinya Jika Indonesia Lockdown

AKTAINDONESIA.COM, JAKARTA – Antisipasi penyebaran CoronaVirus Deseas (COVID-19), beberapa negara telah mengambil kebijakan untuk lockdown, namun Indonesia belum mengambil kebijakan kearah tersebut.

Pemerintah lebih memilih kebijakan social distancing atau pembatasan sosial.
Terkait hal itu, patut diketahui jika lockdown memiliki sejumlah dampak ‘ngeri’ jika diterapkan.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan, dari sisi penanganan, lockdown memang dianggap lebih cepat. Tetapi, lockdown memberi dampak yang besar khususnya di ekonomi.

Dia mengatakan, jika lockdown artinya tidak ada kegiatan ekonomi alias ekonomi lumpuh.

“Kalau diri sisi penanganan memang sisi positifnya tentunya penanganan Covid-nya lebih cepat kalau kita lockdown, tapi di sisi lain dampak ekonominya lebih besar dibandingkan social distancing seperti saat ini, karena kalau lockdown kegiatan ekonomi lumpuh sama sekali, nggak ada aktivitas,” katanya, Minggu (22/3/2020).

Dia mengatakan, jika lockdown yang buka hanya layanan kesehatan serta beberapa instansi pemerintah saja.

Josua melanjutkan, ekonomi juga terganggu, karena saat ini 60-70 pekerja di Indonesia merupakan pekerja informal. Mereka kebanyakan memperoleh pendapatan secara harian.

“Saat lockdown akan ada pertanyaan mereka mendapat pendapatan dari mana, kalau tidak bekerja nggak dapat makanan. Perputaran pendapatan dia setiap hari, kalau lockdown akan terkena dampak signifikan sekali,” jelasnya.

Lockdown, kata dia, juga akan mengganggu distribusi barang dan jasa. Barang dan jasa yang terganggu akan menimbulkan panic buying.

Lanjutnya, pendapatan yang terganggu ditambah dengan pasokan barang yang terhambat berpotensi menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.

“Harga-harga kalau terjadi panic buying inflasi juga. Makanya saya pikir dampak ekonominya cukup besar,” ujarnya.

“Kemarin Bu Sri Mulyani (Menteri Keuangan) sempat ngomong kalau kondisi seperti sekarang ini kita masih bisa tumbuh 4%. Kalau misalkan Covid berkepanjangan dan lockdown pertumbuhan kita bisa di bawah 4%,” sambungnya.

Baca Juga :  PKB Riau Kembali Semprot Disinfektan Untuk Rumah Ibadah

Sementara, Deputy Director Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengatakan, insentif apapun yang diberikan pemerintah tidak akan efektif jika corona tidak bisa diatasi.

“Insentif apapun dalam kondisi masyarakat cemas, pelaku ekonomi cemas maka sebenarnya tidak akan efektif. Kenapa, karena sungguh pun macam-macam pelonggaran kredit, restukturisasi tapi data fakta pasien bertambah, yang meninggal bertambah itu nggak bisa dibantah juga,” katanya.

“Sejauh itu tidak menunjukkan perkembangan yang berarti sebetulnya ekonomi, yang punya duit banyak wait and see atau mindahin ke aset lain, yang lainnya jual-jual aja di bursa saham itu yang terjadi,” tutupnya.

__Terbit pada
23/03/2020
__Kategori
Corona

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PropellerAds