Mengenang 114 tahun Perang Kamang

AKTAINDONESIA.COM, KAMANG HILIA – 16 Juni 1908. Belasting dan Parang Basosoh di Sumatera Barat. Pemberontakan Pajak mengenang 114 tahun Perang Kamang

‘Orang Belanda yang diterima dulu sebagai kawan sekarang bersikap sebagai penjajah dan penindas,’ demikian dituliskan Mohammad Hatta dalam buku Untuk Negeriku, Sebuah Otobiografi, ketika menggambarkan awal mula terjadinya Perang Kamang. Kamang adalah sebuah kampung yang letaknya kira-kira 16 kilometer dari Bukittinggi (Fort de kock). Rakyat Kamang berontak terhadap kekuasaan Belanda. Laki-laki dan perempuan turut bertempur dan bersenjatakan parang, rencong, dan sabit.

Pemberontakan Pajak yang meletus sepanjang tahun 1908 di beberapa nagari di Sumatera Barat seperti di, Nanggalo, Lubuak Aluang, Parik Malintang, Kayu Tanam, Batusangka, Lintau, Kamang, Manggopoh dan Ulakan. Pemberontakan disebabkan oleh peraturan baru mengenai pajak sebesar 2% yang diterapkan oleh Belanda terhadap rakyat Minangkabau. Penetapan pajak yang mencakup seluruh hewan ternak yang akan disemblih oleh rakyat, hal ini dinilai memberatkan karena peraturan ini tidak hanya mencakup hewan yang akan dikonsumsi oleh masyarakat akan tetapi juga hewan-hewan untuk upacara keagamaan, seperti hewan kurban.

Penyebab lainnya adalah pelanggaran Belanda terhadap perjanjian Plakat Panjang yang dikeluarkannya pada masa Perang Paderi, dimana salah satu isinya ialah ‘Pemerintah tidak akan mengadakan pungutan-pungutan berupa pajak, hanya kepada rakyat dianjurkan menanam kopi’. Sejak keluarnya Plakat Panjang masyarakat tidak lagi dipungut pajak, namun di awal tahun 1908 masyarakat diminta menanam kopi dan dipertengahan tahun tersebar kabar bahwa dari penanaman kopi itu akan di pungut pajak atau belasting.

Beberapa belasting yang pernah diberlakukan pada masa itu antara lain le personeel belasting (pajak badan), inkomesten belasting (pajak perusahaan), winst belasting (pajak perang), hounden belasting (pajak anjing), dan Sumatra Tabaksbelasting (pajak tembakau Sumatera). Beban pajak yang demikian besar inilah yang menyebabkan beberapa orang pemuka adat turut memprotesnya.

Baca Juga :  Pesan Terakhir 'Mbah Moen' Maimun Zubair

J. Westernnenk sebagai pemimpin Fort de kock, telah berusaha melakukan perundingan dengan rakyat Kamang tapi hasilnya menambah kebencian dan memperkukuh semangat aksi rakyat terhadap Belanda. Warga diminta oleh para pemimpin masyarakat Kamang untuk tidak membayar pajak. J.Westennenk menghubungi Gubernur Sumatera Barat Hecler untuk mohon petunjuk mengenai tindakan yang harus diambil. Hecler menyampaikan lagi pada Gubernur General Van Heutez dan memutuskan untuk menyerbu Kamang. J.Westennenk lantas mengumpulkan 160 orang pasukan pilihan yang kemudian dibagi menjadi 3 kelompok. Menjelang sore mereka segera bergerak dari Bukittinggi menuju Kamang dari tiga jurusan:

1. Pasukan pertama yang terdiri dari 30 orang, masuk dari Gadut, Pincuran, Kaluang, Simpang Manduang terus menuju Pauh, dipimpin oleh Letnat Itzig, letnan Heine dan Cheiriek. Diperkirakan disana mereka mencari Syekh H. Jabang, pimpinan II perang dari Pauah yang merupakan orang penting dalam perlawanan terhadap pajak.

2. Pasukan kedua, yang terdiri dari 80 orang serdadu dipimpin J.Westennenk sebagai Kontrolir Agam Tua, Kontrolir Dahler bersama Kapten Lutsz, Letnan Leroux, Letnan Van Heulen, masuk melalui Guguk Bulek, Pakan kamih, Simpang 4 Suangai Tuak, berbelok di Kampung Jambu, Ladang Tibarau, Tapi dan terus ke Kampung Tangah. Untuk menyergap H. Abdul Manan (pimpinan I perang dari Kampuang Tangah). Pimpinan pasukan Belnada ini jam 23.00 wib (jam 11.00 malam mereka telah sampai di sekitar kampung tangah. Kedatangan mereka diketahui para petugas ronda malam, yang merupakan bagian dari pasukan H. Abdul Manan seperti Angku Rumah gadang, Angku Basa dan beberapa orang pembantunya. Mereka mencari-cari keberadaan H. Abdul Manan mulai dari kampung budi, terus ke kampung tangah namun tak menemukan H. Abdul Manan. Belanda meyakini bahwa beliaulah pemipin perlawanan rakyat Kamang tersebut.

Baca Juga :  Profil Ahmad Syahroni Sang OC Formula E

3. pasukan ketiga yang berkekuatan 50 orang serdadu di bawah pimpinan Letnan Boldingh dan pembantu Letnan Schaap, masuk melewati daerah Tanjung Alam, Kapau, Bukik Kuliriak, Magek, Pintu Koto. Untuk menyergap para pimpinan dan tokoh penentang Blasting di daerah Kamang bagian hilir seperti Dt. Rajo Penghulu, dan Kari Mudo.

beberapa sumber utama dari masyarakat Kamang Mudiak mengenai Perang Kamang ialah Syair Perang Kamang yang dikarang oleh Haji Ahmad Marzuki putra dari Haji Abdul Manan. Haji Abdul Manan diyakini (oleh Belanda dan rakyat Kamang) sebagai tokoh sentral dari gerakan ini karena besarnya pengaruh yang dimilikinya di Kamang. H. Abdul Manan adalah tokoh agama yang disegani, beliau adalah guru agama yang didatangi oleh masyarakat sebagai tempat bertanya dan belajar tentang agama baik dari kamang Mudik sekarang, Kamang Hilir sekarang, Tilatang, Magek, Palupuh bahkan sampai dari Pasaman. Beliau sama-sama pulang dari Mekkah tahun 1877 dengan H. Jabang atau Syekh Janggut dari Pauah. Tokoh-tokoh penting yang belajar agama kepada H. Abdul Manan diantaranya, Dt. Rajo Penghulu dari Kamang Hilir, Dt. Parpatiah dari Magek, Datuak Rajo Kaluang dari Tilatang dan Kari Mudo sebagai pelopor generasi muda. Mereka inilah yang menjadi tokoh-tokoh sentral dalam perang Kamang. Sehingga bisa dikatakan bahwa dalam perang Kamang yang terlibat adalah Alim Ulama atau Tuanku, Niniak Mamak, Cadiak Pandai atau cendikiawan, bahkan melibatkan generasi muda, dan para bundo kanduang.

Mengenai jumlah korban Perang Kamang yang meninggal di kedua belah pihak, ternyata kemudian banyak terdapat spekulasi angka, baik yang bersal dari versi Belanda sendiri, atau yang di muat berbagai koran setempat waktu itu seperti De Padanger, maupun berdasarkan sumber-sumber tak resmi. Tetapi satu hal yang perlu diketahui adalah bahwa Belanda dalam mengumumkan angka-angka itu sengaja mengecilkan jumlahnya dengan alasan politik. Waktu itu pihak Belanda membawa mayat-mayat pasukanya keesokan hari dengan semacam pedati, gerobak sapi yang biasa digunakan para petani untuk membawa hasil panen. Angka korban yang simpangsiur diantaranya dapat dilihat di Koran-koran yang terbit di Padang menyebut angka 250 orang rakyat Kamang tewas, Belanda sendiri menyebut sekitar 90 orang atau lebih.

Baca Juga :  Kepala BP2MI : Negara Tidak Boleh Kalah dari Sidikat

jkt,150622
dikutip dr bbrp sumber