Mendidik Anak di Meja Makan

Mendidik Anak di Meja Makan

Mendidik Anak di Meja Makan

KOLOM

LIDUS YARDI

Praktisi Pendidikan Riau

AKTAINDONESIA.COM, ORANG tua kita dahulu terkadang tidak melihat tempat dan waktu dalam mendidik anak. Meski banyak di antara mereka yang tidak tamat SD, tapi kepedulian mereka terhadap pendidikan anak, menanamkan nilai-nilai adab, tak diragukan lagi.

Di meja makan pun, saat makan bersama, orang tua tidak lupa mengajarkan nilai-nilai kebaikan dalam hidup. Ada istilah, “anak tetangga yang kena marah kita pula yang ‘dimarahi’ orang tua di rumah” .

“Tuh, dengar! Kena marah, karena pulang malam ke rumah. Jangan sampai kalian seperti itu..!” Demikian kira-kira kata orang tua di meja makan kepada anak-anaknya. Terutama kepada anak gadis.

Anak gadis pulang ke rumah waktu maghrib, bahkan malam hari, memang menjadi aib dan menjadi malu bagi orang tua zaman dahulu. Kalau ada anak gadis seperti itu, biasanya saat pulang ke rumah telah di tunggu dengan rotan di depan pintu.

Anak gadis tak pakai kain sarung saat ada tamu laki-laki di rumah, orangtua sangat marah. Anak gadis boncengan sepeda (meski) dengan abang kandungnya sendiri, bukan perkara biasa. Khawatir orang yang tidak tahu mereka abang-adik, disangka sedang berdua-duaan atau pacaran. Begitulah. Rasa malu itu masih terjaga.

Di meja makan, saat makan bersama, nilai-nilai kebaikan itu diajarkan. Ambil nasi secukupnya, gantian, jangan berebutan. Makan baca bismillah. Pakai tangan kanan. Syukuri apa yang ada. Jangan tamak dan loba. Jangan mubazir. Jangan buang-buang nasi. Nanti, Allah marah.

Di meja makan, saat makan bersama, anak yang sedang bermasalah terdeteksi oleh orang tua. Mengapa kamu tidak selera makan? Ada apa? Coba ceritakan. Anak tidak larut dengan masalahnya. Ada ruang dan waktu untuk berbagi. Meski saat makan. Tapi, perhatian.

Baca Juga :  Kuota SBMPTN Ditambah, Tes Dahulu Baru Pilih Jurusan

Di meja makan, saat makan bersama, ada harmonisasi dan hubungan emosional. Antaranggota keluarga semakin kompak terasa. Tidak boleh makan sendiri-sendiri, apalagi makan di kamar masing-masing. Itu disebut, cerdik buruk!

Di meja makan, saat makan bersama, banyak keberkahan yang terasa. Disamping cukup dan merasa kenyang, orang tua zaman dahulu telah menjadikan makan bersama itu sebagai sarana mendidik dan mengajarkan anak-anak tentang nilai-nilai kehidupan.

Di saat itu, terkadang memang ada rasa bosan terasa. Sambil makan orang tua pun masih bicara. Memberi nasihat tak pernah jera. Tapi, keikhlasan, momen, dan kepedulian itulah yang membuat anak-anak dulu lebih tahu diri, dan kita rindu dengan suasana itu saat ini.

Wallahu A’lam

muslih ikka

leave a comment

Create Account



Log In Your Account