Kolom

Memetik Bonus Digital Di Abad Global XXI

AKTAINDONESIA.COM, “Siapa yang bisa memecahkan fenomena maka ia bisa menebak masa depan, karenanya ia bisa menguasai dunia. Dan sekarang global sedang disuguhi fenomena digital.” Al Mukhollis Siagian

Loading...

Kondisi global pada sekarang ini sedang di suguhi dengan fenomena digital sebagai hasil diskursus pemikiran manusia berkemajuan yang saling berlomba dalam menumbuhkembangkan inovasi untuk merawat dunia, mempercepat dan mempermudah aktivitas, serta meningkatkan kesejahteraan masing-masing Negara. Fenomena tersebut menjadi tuntutan yang tidak bisa ditolak oleh seluruh Negara di dunia, termasuk Indonesia.

Fenomena digital merupakan konstruksi manifest pemikiran negara maju sebagai akumulasi dari perkembangan teknologi 4.0, internet of things, dan kecerdasan buatan yang di peruntukkan mempermudah segala aktivitas sosial (otomatisasi). Meski banyak menuai perdebatan panjang tentang dampak negatif dan dampak positif akan kehadiran digital di tengah kehidupan masyarakat, seperti halnya kekhawatiran pengurangan tenaga kerja berbasis manual maupun kebelumsiapan masyarakat untuk mengikutinya. Namun yang pasti keadaan ini adalah keharusan bagi Indonesia lebih adaptif dan asertif terhadap fenomenanya serta mampu memetik dampak positifnya, seperti halnya meningatkan kualitas sumber daya mansuia berdaya saing tinggi, inovatif dan produktif serta mewujudkan kesejahteraan masyarakat dengan pembekalan keterampilan pada masing-masing bidangnya.

Jauh sebelum fenomena ini muncul, fenomena-fenomena sebelumnya juga tentu menuai perdebatan panjang lebar antara pemikiran sumber daya manusia yang optimis dan pesimis, visioner dan stagnan, dan sebagainya. Sehingga Negara yang mampu memecahkan fenomenalah yang bisa melakukan forecasting atas fenomena selanjutnya, tepatnya menciptakan fenomena digital yang kita rasakan saat ini untuk di ikuti oleh Negara-negara lainnya, seperti yang dilakukan oleh China, Amerika Serikat, dan Jepang. Bagi penulis atas kondisi global yang silih berganti adalah siapa yang bisa memecahkan fenomena maka ia bisa menebak masa depan, karenanya ia bisa menguasai dunia. Dan sekarang global sedang disuguhi fenomena digital. Maka untuk menguasai dunia kita harus menguasai energi dan digital.

Bahkan fenomena digital lebih dahulu menghampiri ruang setiap Negara sebelum paradigma pembangunan berkelanjutan di cetuskan dan di sepakati. Namun dengan digitalisasi bisa menunjang pembangunan global berkelanjutan lebih cepat. Dan penyesuaian ini tergantung kebijaksanaan pemerintah mengatur tempo untuk sampai pada waktu yang tepat serta tidak lagi ugal-ugalan. Oleh karena itu, kita harus mampu memetakan fenomena ini khususnya untuk menyesuaikan dengan perkembangan global dan harapannya mampu menjadi pelopor fenomena baru setelah ini, dimana pada biasanya setiap fenomena berlangsung selama 50 tahun.

Seyogyanya gagasan digital dan penggunaanya baru berlangsung kurang lebih selama 20 tahun, berarti masih ada sisa waktu 30 tahun lagi untuk memaksimalkannya hingga menyamakan kedudukan dengan Negara-negara maju, baik itu melalui ekonomi digital maupun pendidikan berbasis digital. Sebab tidak ada sumber daya yang terkandung di Indonesia yang pantas untuk dijadikan alasan tidak mampu untuk mewujudkannya, apalagi dengan kehadiran digital telah menghilangkan sekat-sekat geografis antar Negara untuk belajar, memperoleh informasi, dan mendapatkan data.

Memetik Bonus Digital

Sudah menjadi keharusan mengelola fenomena tersebut menjadi momentum pemetikan bonus digital, dengan memetakan segala data dan informasi untuk memproyeksikan kebutuhan masyarakat global kedepannya. Karenanya kita bisa menjadi tulang punggung untuk memenuhi segala kebutuhan dan keinginan masyarakat global (inovatif dan produktif).

Apabila merujuk dari kemampuan China yang berkembang dengan sangat pesat melalui ekonomi digitalnya, mungkin salah satunya adalah ekonomi ritelnya tidak begitu baik dan berbanding terbalik dengan Amerika Serikat. Namun menurut penulis hal tersebut lebih dominan di pengaruhi kemampuannya memecahkan fenomena, bahwa negerinya tidak begitu baik dengan ekonomi konvensional maka ia butuh sesuatu yang baru, yakninya ekonomi digital yang sesuai kebutuhan global.

Akan tetapi, fenomena di Indonesia lebih unik, dimana ekonomi konvensional tidak begitu maju namun dengan kehadiran ekonomi digital tidak sedikit menggulung tikar ekonomi konvensional. Hal ini mengindikasikan bahwa ekonomi digital melampaui keterbatasan Indonesia yang sering di khawatirkan oleh masyarakat dan bisa membangkitkan perekonomian dengan signifikan. Boleh kita amati dari penggunaan internet sebagai salah satu pemasok ekonomi digital yang terus meningkat, bahwa pengguna internet pada tahun ini memperoleh angka 171,17 juta jiwa dari total populasi 264 juta penduduk, atau dengan persentase 64,8% sudah terhubung ke internet. Jika membandingkan dengan kondisi dua tahun terakhir, tepatnya pada tahun 2017, angka penetrasi pengguna internet sebesar 54,86%.
Meski demikian seharusnya dalam keadaan ini yang dilakukan adalah pengelaborasian ekonomi digital dan ekonomi konvensional agar supaya menunjang perekonomian nasional dalam persaingan ekonomi global dan mempertahankan kearifan lokal. Maka kita butuhkan kebijakan pemerintah dan kesiapannya untuk memfasilitasi segala keperluan masyarakat untuk meningkatkan kemampuannya berekonomi digital. Selain itu, kita juga butuh meningkatkan harmonisasi hubungan masyarakat, pemerintah, dan swasta yang saling mendukung (collaboration).

Terlebih menarik fenomena ini dengan kondisi bangsa Indonesia yang sedang berada pada posisi bonus demografi menambah keoptimisan untuk kita dalam memetik bonus digital. Sebab bonus demografi membuka ruang bernilai ekonomis tinggi dimana usia produktif melampaui usia konsumtif, dan rasio ketergantungan berada pada titik paling rendah yang puncaknya berada pada tahun 2030, atau Indonesia sedang berada pada fase penggunaan ekonomi digital dengan sebaik-baiknya.

Demikian daripada itu, secara perlahan tujuan bangsa akan tercapai dan menjadi realita yang menngguncang dunia ketika kita mampu memetik bonus digital yang berimplikasi pada peningkatan ekonomi, dimana Indonesia pada tahun 2045 harus menjadi Negara yang berdaulat, maju, adil dan makmur.

Loading...
Baca Juga :  3 Cara Menangkal Paparan Radiasi Smartphone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *