News

Membumikan Keuangan Syariah “Say No To Riba”

AKTAINDONESIA.COM – ADA yang berkata beda bank syariah dengan bank konvensional “betis” alias beda tipis, bahkan ada yang berpendapat bank syariah itu isinya juga konvensional juga, sehingga sistem riba dibuat kabur dan remang-remang, apa iya demikian?. Mau tau jawabanya?,Jawabanya inilah pendapat yang keliru dan menyesatkan, kenapa demikian? Mari kita simak!!

Loading...

Bahwa sistem riba telah jelas haram dan dilarang, sistem Islam mensyariatkan jual beli, dalam ekonomi Islam transaksi haruslah berdasarkan sifat saling menguntungkan tidak boleh ada pihak yang terzholimi, akad(ijab qabul) diawal transaksi harus jelas dan transparan mengenai maksud dan tujuan suatu transaksi tidak boleh kabur alias samar (gharar).

Banyak orang menyepelekan akad (kejelasan transaksi) padahal dalam Islam dengan aqad (ijab qabul) sesuatu yang haram dihalalkan hanya dengan niat dan ucapan lidah, jadi bukanlah sederhana tetapi menjadi tolak ukur dan menentukan, contoh banyak transaksi apakah itu jual beli kredit ataupun pembiayaan yang sesungguhnya bisa di syariahkan tetapi karna ketidakpahaman kedua belah pihak akhirnya jatuh kepada riba/bunga yang jelas dilarang.

Sistem keuangan syariah lahir dengan konsep dan filosofi yang berbeda dengan dengan sistem keuangan konvensional. Bank syariah lahir dengan konsep dan filosofi “interest free” yang melarang penerapan bunga dalam semua transaksi perbankan karena termasuk kategori riba.

Meski lembaga keuangan konvensional dan syariah mempunyai macam dan bentuk yang sama, tetapi diantara keduanya terdapat perbedaan yang sangat prinsipil dan substansial, yakni prinsip syariah yang menjadi landasan keuangan yang merupakan doktrin dalam ekonomi Islam, sistem ini memperhatikan kemashlahatan baik dunia dan akhirat sementara sistem konvensional hanya keuntungan dunia saja.

Para ahli ekonomi dunia terutama dunia Barat telah melirik sistem keuangan syariah sebagai solusi dari persoalan ekonomi dunia yang terbukti telah gagal meningkatkan kesejahteraan(welfare) dan kebahagiaan(happiness) dengan sitem kapitalis dan sosialis, lalu kenapa kita di Sumtra Barat masih ragu untuk mendorong Bank Nagari dan lembaga keuangan lain untuk menerapkan sistem syariah secara “kaffah”(total) sementara di Inggris dan Amerika mereka mulai mendirikan Bank Syariah?.

Selanjutnya seberapa besar dampak sistem riba merusak tatanan ekonomi masyarakat, mari kita simak pendapat Prof.A.M.Sadeq secara ekonomi terdapat 4 alasan kritis kenapa riba itu dilarang dalam ekonomi Islam selain dalil dalam Alqur’an :
Pertama, sistim ekonomi ribawi telah menimbulkan ketidakadilan dalam masyarakat terutama bagi para pemberi modal (bank) yang pasti menerima keuntungan tanpa mau tahu apakah para peminjam dana tersebut memperoleh keuntungan atau tidak.

Kedua, sistim ekonomi ribawi juga merupakan penyebab utama berlakunya ketidakseimbangan antara pemodal dengan peminjam. Keuntungan besar yang diperoleh para peminjam yang biasanya terdiri dari golongan industri raksasa (para konglomerat) hanya diharuskan membayar pinjaman modal mereka plus bunga pinjaman dalam jumlah yang relatif kecil dibandingkan dengan milyaran keuntungan yang mereka peroleh.

Ketiga, sistim ekonomi ribawi akan menghambat investasi karena semakin tingginya tingkat bunga dalam masyarakat, maka semakin kecil kecenderungan masyarakat untuk berinvestasi. Masyarakat akan lebih cenderung untuk menyimpan uangnya di bank-bank karena keuntungan yang lebih besar diperolehi akibat tingginya tingkat bunga.

Keempat, bunga dianggap sebagai tambahan biaya produksi bagi para businessman yang menggunakan modal pinjaman. Biaya produksi yang tinggi tentu akan memaksa perusahaan untuk menjual produknya dengan harga yang lebih tinggi pula. Melambungnya tingkat harga, pada gilirannya, akan mengundang terjadinya inflasi akibat semakin lemahnya daya beli konsumen. Semua dampak negatif sistim ekonomi ribawi ini secara gradual, tapi pasti, akan mengkeroposkan sendi-sendi ekonomi umat. Krisis ekonomi tentunya tidak terlepas dari pengadopsian sistim ekonomi ribawi seperti disebutkan di atas.

Maka sudah jelaskan bahaya riba?, oleh karena itu sudah sebaiknya semua pihak baik pemerinta/daerah, penyelenggara perbankan dan semua lembaga keuangan serta masyarakat untuk merenungkan dan bersiap “hijrah” menuju sistem keuangan syariah biar keberkahan baik keuntungan dunia dan akhirat dapat diraih, keuangan syariah?, harus itu!!.

 

Oleh : Safrudin Nawazir Jambak
Komisi II DPRD Agam(bid ekonomi keuangan)

Loading...
Baca Juga :  Spirit Berqurban Untuk Pembangunan Daerah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *