Kolom

Membongkar Fenomena Ketuhanan

AKTAINDONESIA.COM – MEMBONGKAR FENOMENA KE-TUHAN-AN,
“Jika alam semesta tempat manusia adalah satu, maka tidak mungkin dunia diciptakan oleh Tuhan yang lebih dari satu. Sudah pasti Tuhan adalah Esa, terkecuali ada tuhan yang di bentuk oleh manusia demi kemaslahatan kepentingan golongannya.”

Loading...

Oleh : Al Mukhollis Siagian

Diskursus tentang ke-Tuhan-an memang seharusnya sudah selesai semenjak manusia terlahir ke dunia, sebab ke-ada-an manusia merupakan kehendak mutlak Tuhan serta ke-Tauhid-annya sudah disampaikan oleh para manusia pilihan (Rasul-Nya). Akan tetapi hingga saat ini kajian tersebut masih marak dilakukan, baik itu para filsuf, pemuka agama, akademisi, sufi dan sebagainya. Untuk kondisi spesifik tentang pengkajian ke-Tuhan-an yang di lakukan oleh manusia adalah para pelajar yang mengambil studi filsafat.

Pada dasarnya kajian tentang Tuhan merupakan proses untuk mengetahui kebenaran mutlak tentang sang Khaliq dalam mengaktualisasikan diri hendak mengerjakan seluruh perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Meskipun demikian, hingga saat ini persoalan ke-Tuhan-an adalah fenomena yang unik dan menarik untuk dibahas, mengingat banyaknya fenomena manusia berkehidupan yang mulai “membunuh Tuhan dari akal budi dan hati nuraninya” atau dengan kata lain melawan fitrah dirinya sebagai makhluk dari Sang Khaliq yang Esa.

Persoalan ke-Tuhan-an selalu menjadi bagian dari kehidupan, baik yang dikemas dengan bentuk ajaran agama (dogma), filsafat dan sebagainya. Tujuannya adalah untuk menyampaikan pada manusia bahwa kita adalah makhluk yang memiliki Pencipta dan rambu-rambu yang Ia tentukan melalui Firman-Nya. Seiring dengan itu, kajian ke-Tuhan-an lintas agama juga marak dilakukan oleh berbagai kalangan tokoh agama, seperti Ust. Dzakir Naik dengan tokoh-tokoh agama lainnya. Melakukan perbandingan pengetahuan dan pemahaman tentang Tuhan melalui dialektik kitab suci. Alhasil tidak sedikit yang akal budi dan hati nuraninya terbuka mengenai kebenaran mutlak tentang Tuhan sebagai bentuk refleksi kesadaran manusia yang tidak akan ada kontradiksi diantaranya.

Kita ketahui bersama dunia tempat manusia melangsungkan kehidupan hanyalah satu, meskipun selalu ada konspirasi dari dunia bagian barat untuk membantahnya dan melakukan penelitian sia-sia tentang planet lain yang bisa diperuntukkan sebagai tempat kehidupan manusia. Namun sangat banyak ajaran ke-Tuhan-an yang pastinya setiap ajaran memiliki sesembahan bernama Tuhan, katakan saja ajaran itu ada 10 di dunia, maka kehidupan manusia akan dilingkari Tuhan sebanyak ajaran tersebut. Sungguh hal demikian tidak bisa diterima oleh akal budi dan hati nurani. Olehnya pasti Tuhan hanyalah Esa dan sisanya adalah tuhan buatan manusia untuk melangsungkan kepentingan golongannya semata.

Di kehidupan sosial ini penulis membagi golongan manusia berdasarkan kepercayaannya pada Tuhan menjadi empat golongan, yaitu manusia yang meyakini adanya Tuhan (theis), manusia yang tidak meyakini adanya Tuhan (atheis), manusia yang meyakini adanya Tuhan tapi tidak tahu benar atau tidaknya Tuhan yang ia anut (agnostik), dan terakhir manusia yang meyakini Tuhan dalam setiap agama sehingga menyimpulkan bahwa kitab suci sebagai fiksi.

Sebenarnya tidak perlu untuk membuktikan bahwa Tuhan itu ada dan Ia Esa, sebab pada hakikatnya Ia memang ada dan Esa. Meskipun demikian, mengingat kecenderungan manusia untuk membuktikan bahwa Tuhan itu Esa melalui dialektik agama dan bahkan Dzakir Naik pernah membawakan rasionalisasi diagram venn dari setiap isi kitab suci. Namun penulis membawakan metode berbeda.

Dalam hal mengkaji ke-Esa-an Tuhan, penulis menggunakan angka. Sebab jika ke-Esa-an Tuhan adalah mutlak benar adanya, maka menjelaskannya pada manusia tidaklah mudah ditengah banyaknya tuhan produk ajaran manusia. Namun jika ke-Esa-an Tuhan merupakan suatu pembuktian pada sesama manusia bahwa Ia benar-benar mutlak Esa, maka manusia harus mengetahuinya dengan penjelasan rasional melalui metode epoche fenomenologi ke-Tuhan-an. Sebagaimana Tuhan menciptakan akal budi dan hati nurani untuk mengetahui-Nya sebagai bentuk syukur akan nikmat-Nya.

Pada seyogyanya Tuhan tidaklah terjangkau oleh akal manusia, Ia Maha Tidak Terbatas. Meskipun Albert Einstein menyatakan bahwa akal manusia satu dari dua yang tidak terbatas setelah alam semesta, namun ketika dihadapkan pada sang Penciptanya tentulah akal menjadi terbatas, begitu juga halnya dengan semesta.

Untuk itu, menggunakan pola angka matematik dalam hal membuktikan ke-Esa-an Tuhan dan ketidakterbatsan-Nya adalah mungkin. Angka yang penulis gunakan untuk merefrensentasikan sekaligus mempermudah memahami ke-Tuhan-an adalah angka 0 sebagaimana para sufistik, ahli tasawuf dan sebagainya berjalan menuju titik 0 (berjalan menuju Sang Khaliq).

Selain itu, angka 0 merupakan angka independen, berdiri sendiri, tidak beranak, tidak diberanakkan, angka yang berbentuk lingkaran sebagai pertanda tidak terbatas dan melingkupi segalanya.

Mari kita buktikan dari perhitungan matematika: yaitu 0 – 0 = 0 , bagaimanapun manusia mencoba dengan keras untuk membunuh keberadaan Tuhan dari dalam pikiran dan kehidupannya, maka Tuhan tetaplah Ada dan Esa. 0 + 0 = 0, meskipun banyak manusia membuat ajaran agama dan menciptakan tuhan sendiri, maka Tuhan tetaplah Tuhan yang Esa dan tidak memiliki sekutu. 0 x 0 = 0, walau ada golongan manusia meyakini bahwa Tuhan itu memiliki tugasnya masing-masing sehingga jumlah dan perannya lebih dari satu, tapi bagaimanapun Tuhan tetaplah Esa dan berdiri sendiri. Dan terakhir untuk membuktikan bahwa Tuhan itu Esa adalah, 0 : 0 = NaN, jawaban yang kita peroleh adalah Not a Number yang maknanya “Tiada tuhan selain Tuhan” sama dengan kalimat Tauhid Muslim “Laa Ilaha Illalloh”. Sebab Tuhan tidaklah bisa di tambah, dikurangi, dilipatgandakan, dan dibagi sebagaimana fenomena ke-Tuhan-an yang terjadi pada kehidupan manusia hingga saat ini. Maka runtuhlah golongan manusia penganut “atheis, agnostik dan ajaran produk manusia yang mengatasnamakan ajaran Tuhan”.

Selanjutnya, 0 itu menciptakan angka (positif 1 dan seterusnya) yang bermaknakan ciptaan Tuhan seperti Malaikat, Manusia, binatang, dan semesta. 0 juga menciptakan angka negatif (-1 dan seterusnya) berartikan seluruh makhluh Tuhan dalam barisan syaitan.

Lalu muncul pertanyaan bagaimana mengetahui keberadaan Tuhan? Untuk menjawab ini bisa dengan memahami seluruh keberadaan ciptaan-Nya, layaknya kita mengetahui angka 0 meciptakan angka 1 dan seterusnya melalui angka 1, 2 dan seterusnya. Akan tetapi mungkin jawaban ini kurang mampu diserap oleh sebahagian besar manusia. Untuk itu penulis perkuat sebagaimana manusia meyakini adanya matahari. Pada dasarnya manusia tidaklah bisa melihat matahari karena keterbatasan, namun hanya melihat sinar yang ia hasilkan yang setiap hari menikmatinya. Sehingga dengan terlihatnya sinar matahari maka manusia meyakini bahwa matahari itu memang ada. Atau seperti pikiran manusia sendiri yang tidak bisa dindera namun ia ada dan diketahui dari apa yang ia hasilkan. Seperti itu pulalah cara untuk mengetahui keberadaan Tuhan, manusia tidak mampu memahami keberadaan Tuhan melainkan apa-apa yang telah Ia ciptakan untuk menunjukkan bahwa Dia Ada dan Esa.

Demikian daripada itu, fenomena ke-Tuhan-an telah terbongkar sesuai dengan metodenya yang epoche, membiarkan ke-Ada-an dan ke-Esa-an-Nya menjelaskan pada manusia melalui seluruh yang telah Ia ciptakan. Namun penulis hanyalah mencoba untuk menyampaikan ke-Ada-an dan ke-Esa-an-Nya. Dan sesungguhnya Tuhan adalah Esa. Meskipun ada tuhan-tuhan yang manusia ciptakan sebenarnya hanyalah persoalan kepentingan golongan tertentu dalam berkehidupan di dunia ini.

 

 

Penulis adalah Presiden Wadah Pejuang Penegak Solusi Politik dan Pemerhati Fenomena Ke-Tuhan-an dan Penggiat Literasi

Loading...
Baca Juga :  Beruntungnya Jika Sosok Calon Istrimu Seorang Guru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *