Nasional

Mahasiswa Gerak Jokowi Panik

AKTAINDONESIA.COM, JAKARTA – Gelombang massa manusia terus memadati ruas-ruas jalan arah gedung Dewan Perwakilan Rakyat-Majlis Permusyawaratan Rakyat (DPR-MPR) Senayan Jakarta. Selasa (24/09).

Loading...

Pergerakan mahasiswa terjadi tidak saja di Ibukota, hal serupa juga terjadi di sejumlah daerah di Indonesia.

Mereka menyampaikan tuntutan terkait RKUHP – UU KPK hingga permintaan demonstran untuk turun/mundurnya Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla dari tampuk keluasaan di negeri ini.

Aksi ini sebetulnya telah terjadi secara maraton sedari beberapa waktu yang lalu.

Demonstrasi besar hari ini (24/10) diperkirakan akan bermuatan massa besar hingga istana kelabakan dan panik menyikapi.

Guru besar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof Syamsuddin Haris, melalui akun twitternya berkomentar, Presiden Jokowi panik sikapi gelombang demontrasi itu.

Menurut guru besar politik dari LIPI, Prof Syamsuddin Haris, Presiden Jokowi sebenarnya tidak perlu panik jika mendengar suara publik.

“Jika suara publik didengar, pemerintah @jokowi mestinya tdk perlu panik seperti sekarang,” ujar Syamsuddin Haris melalui akun twitternya, Senin (23/9/2019) pukul 12:23 WIB.

Menurut Syamsuddin Haris, pemerintahan Jokowi panik karena sejumlah persoalan datang bersamaan.

“Belum usai soal UU KPK & kabut asap, kini ada gelombang demo mahasiswa & kerusuhan Wamena,” kata Syamsuddin Haris.

Menurut Syamsuddin Haris, sikap Presiden Jokowi yang panik menunjukkan kebijakan pemerintah yang ceroboh dalam menyikapi berbagai persoalan bangsa.

“Kepanikan adalah refleksi kebijakan yang ceroboh. Semoga pemerintah belajar lebih cerdas,” tegas peneliti politik ini.

Syamsuddin Haris @sy_haris: Jika suara publik didengar, pemerintah @jokowi mestinya tdk perlu panik seperti skrg.

Belum usai soal UU KPK & kabut asap, kini ada gelombang demo mhsw & kerusuhan Wamena. Kepanikan adalah refleksi kebijakan yg ceroboh.

Smoga pemerintah belajar lbh cerdas.

Syamsuddin Haris membuat cuitan di twitter terkait berita di Kompas.com yang menginformasikan Jokowi mengumpulkan menteri, Kapolri, hingga Panglima TNI bahas situasi terkini.

Presiden Joko Widodo mengumpulkan sejumlah menteri dan jajaran Istana Merdeka, Jakarta, Senin (23/9/2019) siang.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menyebut rapat ini akan membahas situasi terkini.

“Iya, melihat situasi sekarang ini,” kata Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko sebelum dimulainya rapat.

Moeldoko enggan merinci situasi seperti apa yang membuat Jokowi mengumpulkan menteri di bidang keamanan.

Namun, pada hari ini rencananya akan ada aksi mahasiswa besar-besaran menolak sejumlah UU yang dirancang DPR dan pemerintah.

Selain itu, terjadi juga kerusuhan di Wamena, Papua. “Iya rusuh lagi,” ujar Moeldoko singkat saat ditanya kerusuhan yang terjadi di Wamena.

Selain Moeldoko, hadir Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly, serta Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil.

Hadir juga Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian, Pangdam Jaya Mayjen Eko Margiyono, dan Kapolda Metro Jaya Irjen Gatot Eddy Pramono.

Hingga berita ini diturunkan, rapat masih berlangsung tertutup.

Tagar Gejayan Memanggil atau #GejayanMemanggil masuk dalam daftar trending media sosial Twitter.

Senin (23/9/2019), pukul 08.16 WIB, ada lebih dari 68 ribu twit soal #GejayanMemanggil.

Ada apa di Jalan Gejayan, Yogyakarta, hari ini? Hari ini, rencananya akan digelar aksi mahasiswa dan elemen masyarakat lainnya di seputaran Yogyakarta.

Humas aksi #GejayanMemanggil, Syahdan Husein, saat dihubungi Kompas.com, Senin pagi menyebutkan, aksi dilakukan pukul 13.00 WIB.

Sementara, massa dijadwalkan berkumpul pukul 11.00 WIB. Isu yang akan disuarakan terkait kondisi politik hukum terkini, dan persoalan lingkungan.

Syahdan menyebutkan, ada tiga titik kumpul aksi.

“Ada tiga titik (kumpul), yaitu gerbang utama Kampus Sanata Dharma, pertigaan revolusi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, dan Bunderan Universitas Gadjah Mada,” kata Syahdan.

Massa akan berkumpul mulai pukul 11.00 WIB di tiga titik tersebut.

Setelah itu, demonstran akan bergerak menuju ke pertigaan Colombo, Gejayan.

Syahdan memperkirakan, peserta aksi mencapai ribuan, yang tak hanya terdiri dari para mahasiswa.

“Belum kami hitung secara real. Tapi belasan universitas turun, pelajar-pelajar SMA turun, dan organisasi mahasiswa daerah seperti mahasiswa Riau dan Kalimantan turun ke jalan melawan asap,” ujar dia.

Untuk mengantisipasi masalah keamanan, menurut Syahdan, aksi ini telah dikoordinasikan dengan pihak kepolisian.

Syahdan mengatakan, ada tujuh tuntutan yang akan disampaikan, di antaranya mendesak pembahasan ulang pasal-pasal yang dianggap bermasalah dalam RKUHP, mendesak revisi UU KPK yang baru disahkan DPR, dan menolak upaya pelemahan pemberantasan korupsi di Indonesia.

Sementara itu, di Twitter, para pengguna memberikan komentar terkait rencana aksi ini.

Ada yang mendukung, ada pula yang mengingatkan agar aksi diselenggarakan secara damai.

Tagar #GejayanMemanggil juga diwarnai dengan unggahan tangkapan layar para mahasiswa yang meminta izin mengikuti aksi kepada dosennya./kps

 

 

Loading...
Baca Juga :  Hillary Brigitta Lasut, Kader NasDem Termuda Pimpin Sidang DPR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *