M. Saleh Datuak Rajo Pangulu Pemimpin Perang Kamang 1908

AKTAINDONESIA.COM, KAMANG HILIA – DALAM RANGKA MEMPERINGATI PERANG KAMANG YANG KE 114 TAHUN 2022, UNTUK MENGENANG DAN MENGHARGAI JASA PAHLAWAN MARILAH KITA KENALI :

PROFIL
MUHAMMAD SALEH DATUAK RAJO PANGULU
PEMIMPIN UTAMA PERANG KAMANG

MUHAMMAD SALEH DT. RAJO PANGULU
Pimpinan Utama Perang Kamang
15 Juni 1908
Muhammad Saleh Datuak Rajo Pangulu (1873 – 1908), pemimpin utama Perang Kamang yang meletus 15 Juni 1908, adalah penduduk Kamang asli, kelahiran tahun 1873 M dari pasangan suami istri Solihin dan Alam Nabi di Gurun Kampung Joho dari pasukuan Sikumbang, ditengah-tengah masyarakat yang beragama Islam. Sewaktu kecil Dt.Rajo Pangulu dipanggil Saleh, sesuai dengan nama yang diberi oleh orang tua beliau yakni Muhammad Saleh. Hidup dikampung bersama orang tuanya. Seperti anak-anak Kamang lainnya pada masa tersebut, pendidikan yang beliau tempuh adalah pendidikan surau. Disurau beliau belajar mengaji, belajar silat dan adat. Untuk memperdalam ilmu silat beliau belajar kepada guru silat yang ternama baik berada di Kamang maupun di luar Kamang. Untuk mendalami tentang adat, beliau mendatangi dan menimba ilmu dari para pemangku adat di Nagari Kamang. Dengan adanya bakat dan kemauan yang kuat dalam mempelajari ilmu silat dan adat, setelah dewasa beliau menjadi seorang guru silat yang tersohor tidak hanya di Kamang, bahkan sampai ke luar Luhak Agam, seperti Padang Panjang, Malalo, Pandai Sikek dan lain-lain.
Dari segi kemampuan beliau dalam bidang adat dan perhatian beliau kepada kaum, beliau memenuhi syarat untuk menjadi seorang penghulu. Akhirnya dengan kesepakatan kaum, beliau diangkat menjadi seorang penghulu pucuk yaitu Datuak Rajo Pangulu. Sebagai seorang datuak beliau aktif dalam kerapatan Niniak Mamak Nagari Kamang.
Dalam kehidupan sehari-hari beliau adalah seorang prinsipil yang berwatak tegas, dengan ciri khas suara yang bergemuruh, berkata benar dan berjalan lurus menurut paham dan berbuat cocok dengan perkataan, beliau adalah seorang datuak (penghulu) yang kharismatik di tengah-tengah masyarakat kamang serta cukup dikenal oleh masyarakat nagari sekitar.
Belasting (sistim pajak) yang mulai berlaku mulai 1 Maret 1908 ditolak dengan tegas oleh rakyat kamang dan sepakat akan melakukan perlawanan terhadap belanda. Karena kharismatik dan pertimbangan lainnya, dalam sidang Kerapatan Ninik Mamak Nagari Kamang (Kamang Hilir sekarang) yang diadakan pada tanggal 30 Maret 1908 sepakat mengangkat Muhammad Saleh Datuak Radjo Pangulu Sebagai Pimpinan Perlawanan Menghadapi Belanda. Sebagai pimpinan perlawanan menghadapi belanda, yang pertama kali beliau lakukan adalah mengkonsulidasikan keadaan dengan tokoh Agama dan cerdik pandai, baik yang berada dalam Nagari Kamang maupun yang berasal dari luar kamang untuk sama-sama berpijak diatas ajaran islam membimbing rakyat ke medan perang. Ulama yang berasal dari luar Nagari Kamang yang berhasil beliau rangkul adalah H.Abdul Manan, seorang tokoh ulama yang sangat disegani. H.Abdul Manan berasal dari Bansa (Nagari Bukik = sekarang Kamang Mudiak) yang menikah dengan seorang gadis di Kampung Baru Bukik Kamang dari pesukuan Sikumbang. Sebagai urang sumando oleh Dt.Rajo Penghulu ditambah dengan pandangan yang sama terhadap penjajahan, membuat hubungan mereka semakin erat. H.Abdul Manan dan kawan-kawan menggerakkan masyarakat Nagari Bukik. Ini terbukti dengan ikutnya pasukan rakyat dari Bansa dan Ilalang ikut menyerang tentera belanda di Kampung Tangah setelah terjadi serangan gelombang kedua oleh pasukan rakyat Kamang.
Semenjak diangkat menjadi pimpinan perlawanan menghadapi belanda sampai akhir hayatnya, Muhammad Saleh Datuak Rajo Pangulu selalu bekerja dan mencurahkan perhatiannya untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk mengahadapi perang dengan belanda yang pasti akan terjadi.
Beliau bukan seorang politikus, hanya seorang patriot yang bertekad memberikan segala yang ada padanya untuk cita-cita tanah air, yaitu merdeka. Menjelang meletusnya Perang Kamang 1908 beliau membuat pusing Belanda. Dialah pemimpin rakyat dengan tegas dan lantang menyuarakan untuk mencabut Keputusan Gubernur General tentang Belasting. Pernah dalam suatu pertemuan dengan J.Westenenk di kantor Laras Kamang, tentang pelaksanaan pungutan Blasting, Muhammad Saleh Datuak Rajo Pangulu menyanggah dengan tegas perkataan Westernek :
“Tuan Westernek yang kami hormati, penetapan blasting tidaklah mungkin. Maaf tuan, sebelumnya, keadaannya ialah kami telah Tuan tipu dengan disuruh menanam kopi pada masa sebelumnya. Kemudian kopi itu Tuan beli dengan harga murah kepada kami. Tuanlah yang sebenarnya harus membayar kepada kami. Tapi kenapa kini Tuan yang meminta uang kepada kami. Bukankah Tuan pandai membuat uang. Maaf sekali lagi Tuan, sesenpun tidak akan kami berikan, musuh tidak dicari, kalau datang tidak dielakkan. Asa hilang kedua terbilang”
Karena gagal melalui diplomasi, beliau akhirnya menyiapkan pasukan untuk menghadapi Belanda. Beliau berhasil mengkosolidasikan keadaan dengan merangkul tokoh agama, cerdik pandai, kalangan muda dan kaum ibu. Bersama-sama dengan tokoh Kamang lainnya beliau berhasil menggelorakan semangat rakyat, berikrar memusatkan perlawanan dan memekikkan anti penjajahan, dengan semboyan “perang adalah jalan yang terbaik dan bukan sia-sia sekalipun kalah”, sehingga pasukan rakyat walaupun hanya bersenjatakan rudus, seolah-olah mempunyai kekuatan gaib menghadapi perang menempuh maut tanpa ragu. Peranan yang dilakukannya sangat menentukan sampai terjadinya Perang Kamang. Beliaulah Panglima Perang Pasukan Rakyat dari Kamang untuk menyerang Tentara Belanda yang berada di Kampung Tangah, dan meletuslah perang yang lebih termasyhur dengan Perang Kamang. Namun beliau bersama puluhan pasukan rakyat lainnya tewas sebagai pahlawan bangsa dalam pertempuran tersebut.
Dalam laporan resmi Gubernur Gouvernement Sumatra’s Westkust, FA Heckler, kepada Gubernur General Van Heutsz yang pertama kali disebut dari pihak rakyat yang melakukan perlawanan adalah Datuak Rajo Pangulu. Dengan keberanian dan kesediaannya mengambil resiko menyabung nyawa, beliau adalah orang dilahirkan sejarah dan sekaligus membuat sejarah. Datuak Rajo Pangulu dapat dipandang sebagai tokoh sentral pelanjut garis keras dalam perjuangan melawan penjajah. Dia merupakan penyambung mata rantai tokoh perjuangan bersenjata melawan belanda, mulai dari Patimura sampai ke Jenderal Sudirman. Syahidnya Datuak Rajo Pangulu bersama istrinya serta puluhan pahlawan lainnya dalam Perang Kamang, menunjukkan sikap pemimpin sejati yang bersedia dan selalu berada digaris depan, sedia mati bersama pengikutnya. Dengan sikapnya lebih baik mati berkalang tanah dari pada hidup terjajah merupakan sikap teladan yang luar biasa, sikap yang hanya dimiliki beberapa pejuang saja seperti Pattimura dan Teuku Umar.

Baca Juga :  Angin Kencang Tewaskan Warga Asal Padang di Ponorogo

Rudus, senjata yang dipakai oleh Muhammad Saleh Dt. Rajo Pangulu
sewaktu Perang Kamang 15 Juni 1908. Disimpan dengan
baik oleh salah seorang ahli waris, di Kamang.
Apa yang telah dilakukan oleh Muhammad Saleh Datuak Rajo Pangulu beserta pasukannya telah mengukir sejarah di republik yang kita cintai ini dan juga merupakan cerminan kehidupan bangsa secara keseluruhan. Telah lahir sejarah heroik dan patriotik yang pernah dicatat dengan tinta emas dalam lembaran sejarah Republik Indonesia, dimana pada waktu itu telah terjadi perlawanan rakyat yang sengit dan gigih, dengan senjata utama semangat yang membara untuk mengusir penjajah. Walaupun perlawanan yang dilakukan Muhammad Saleh Dt.Rajo Pangulu hanya bersifat lokal, itu hanya sekedar ukuran geografis saja, namun jiwa yang menjiwainya adalah jiwa nasional untuk merebut kemerdekaan.

— &&& —
Bahan Rujukan :
– Azmi, Prof, Muhammad Saleh Datuak Rajo Pangulu (1873-1908) Pahlawan Perang Kamang Dalam Menentang Penjajah Belanda 1908, Makalah dalam Seminar Nasional Kepahlawanan Tiga Tokoh “Perang Belasteng 1908” di Kamang dan Manggopoh, Bukitinggi, 2016.
– Mestika Zed, Prof, Pahlawan Dalam Wacana Kebangsaan Hari Ini. Makalah pengantar keynote speech untuk seminar Nasional tentang Kepahlawanan Tiga Tokoh “Perang Belasting 1908” di Kamang dan Manggopoh, dalam rangka pengusulan gelar Pahlawan Nasional, Bukittinggi, 2016.
– Tim Penyusun, Usulan Muhammad Saleh Datuak Rajo Pangulu Pimpinan Perlawanan Rakyat Sumtera Barat Menentang Kolonial Belanda di Kamang 15 Juni 1908 Sebagai Pahlawan Nasional RI, Kamang Hilia, 2015.