Lunturnya Adat Basandi Syarat, Syarat Basandi Kitabullah

AKTAINDONESIA.COM, PADANG – Adat dan agama tidak akan hilang di minangkabau,
namun yang akan mulai hilang dan memudar adalah *Nilai, Filosofi* dan Ajaran nya dalam diri anak kemenakan Minang,

Ruyuang itu memang masih di jadikan pagar,
tetap alot, keras dan tak kan lapuk dan hangus di makan api (Alquran dan hadist), namun bukan lagi menjadi pagar terbaik sebagai benteng memagar diri anak minang dari masuk nya hal – hal buruk kedalam diri anak kemenakan minang.

Halaman rumah gadang itu memang Masih luas (pikiran dan pemahaman anak minang) namun ilalang, onak , duri dan semak belukar tumbuh liar di atas nya (Iri,dengki, prasangka buruk dan kebencian)

Rangkiang itu tetap berdiri di halaman rumah gadang namun tak ada isi dan kosong melompong (tak ada lagi kepedulian, tanggung jawab, rasa memiliki terhadap kaum dan kepada sesama).

Dinding rumah gadang itu tetap menempel di sekeliling rumah gadang, namun ukiran nya sudah hampir rata (adab, akhlak, budi pekerti, dan kesantunan)

Janjang rumah gadang itu masih terpasang di pintu rumah gadang (batanggo naiak bajanjang turun)_
_Namun kato mandaki, kato manurun, kato mandata dan kato malereng tidak lagi menjadi bahasa komunikasi kepada yang lebih tua, kepada yang lebih muda, kepada sesama besar dan kepada orang yang patut di hormati.

Bilik sumando masih ada di dalam rumah gadang, namun raso jo pariso tidak lagi di kedepan kan.

Lantai rumah gadang masih rata dan masih tidak terdapat kursi tahta singga sana Raja dan Ratu, bukti anak minang tidak menjadikan manusia sebagai Raja,_
Karna Raja sebenar nya adalah *Kebenaran* yang berdiri sendiri (Laa Ila Ha Illalah).

Baca Juga :  Menteri dan Wakil Menteri Baru di Kabinet Indonesia Maju

Namun kemanakan tidak lagi barajo ka mamak, mamak tidak lagi barajo ka pengulu, pengulu tidak lagi barajo ka mufakat, mufakat tidak lagi barajo ka kebenaran, dan kebenaran tidak lagi berdiri sendiri,

Tetapi anak kemanakan telah mengkultus kan seseorang yang sikap nya, perkataan nya, tindak tanduk nya jauh dari nilai adat dan agama di Ranah Minang,
Bahkan bundo kanduang tidak lagi aman di tanah kaum nya sendiri (dengan banyak nya kejadian kasus pelecehan, kekerasan bahkan mengalami tindak asusila).

Tiang rumah gadang tetap menggantung di sekeliling di seluruh penjuru (perantauan anak minang ke seluruh penjuru negeri) namun Cara,sifat nya seolah – olah tidak lagi sebagai anak minang, membawa nilai ajaran dari tanah kaum nya, bahkan cendrung terkontaminasi oleh budaya di mana tempat ia merantau,_

Tunggak tuo itu memang masih kokoh berdiri (Islam) namun dalam nya telah mulai rapuh di makan rayap (rayap itu adalah adat, Budaya asing, budaya sebuah kaum yang jauh dari unsur islam itu sendiri).

Gonjong itu masih runcing menjulang ke langit (masih mengaku hidup bertuhan), Namun ajaran nya, Nilai – nilai keTuhanan itu tidak lagi dominan dalam Hati, Pikiran, Ucapan dan tindakan)

Atap rumah gadang memang masih terpasang Ijuk, Namun tidak lagi menyejuk kan dan memberi kesejukan bagi penghuni nya, sikap anak minang kebanyakan telah membuat resah dunsanak, Urang tuo dan kaum kerabat nya,

Apakah saya manapuak aia di dulang ?
Ini lah kesalahan kita selama ini, Air dalam dulang itu sudah lama di tapuak anak kamanakan, Membasahi meja kerja para pemimpin, membasahi kitab di tangan para ulama, menyiram saluak datuak jo niniak mamak, membuat lanyah tagak para pendeka jo parik paga Membuat lanyah jalan ke surau dan musajik, namun kita seolah olah menganggap tidak terjadi apa – apa, Dan seolah – olah tidak menjadi pembahasan penting di ruang rapat para pemimpin, di limbago kerapatan adat, tidak menjadi pembahasan di atas mimbar para ulama,

Baca Juga :  HMI Ajak Rakyat Indonesia Tolak Perpanjangan Masa Jabatan Presiden

Kita sibuk membangun sebuah peradaban yang kita contoh dari maju nya dan megah nya bangunan sebuah Negeri, namun kita lalai dan lupa membangun Adab, akhlak, moral yang terbangun dalam Pribadi rosulullah,

▪️Kutipan untuk direnungkan*_bagi Para Niniak Mamak ,Urang Basamo di Ranah Minang *