Langkah Quantum Gerakan Literasi

AKTAINDONESIA.COM – PROLOG – Kembali kita terhenyak membaca rilis Program For International For Student Assesment (PISA) 2018, Program penilaian pelajar internasional ini melaporkan hasil surveynya terhadap kemampuan siswa Indonesia dalam membaca, Indonesia mendapatkan skor rata-rata 371 dari 487.

Artinya kemapuan membaca anak Indonesia urutan ke 6. Uupss jangan gembira dulu..no 6 dari bawah (peringakat 74). Meski telah lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya tetapi skor ini tentunya masih sangat mengecewakan kita semua. Pertanyaanya apakah tantangan terkini yang melemahkan dunia literasi kita?, tidak adakah program terobosan yang mampu melompat jauhkan (langkah quantum) sehingga budaya baca-tulis bergairah ditengah masyarakat?

Tantangan gerakan literasi

Literasi berasal dari bahasa inggris yaitu literacy artinya kemampuan membaca dan menulis ( The ability to read dan write), dan juga berarti kemampuan di bidang khusus (competence or knowledge in a specifed area), literacy juga berasal dari bahasa latin yakni literatus yang artinya “a learned person” ( seorang yang belajar), maka definisi literasi adalah kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi pada saat melakukan proses membaca dan menulis (www.komunikasipraktis.com).
Menurut National Institute For Litercy (NIFL) bahwa literasi berarti “kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian pekerjaan, keluarga dan masyarakat”, jika diperhatikan makna literasi menurut NIFL ini maka maknanya bukan hanya melek keaksaraan/letter /litera(huruf) semata namun sesungguhnya literasi berarti literature atau kekuatan referensi yang dimiliki oleh seseorang dalam memahami suatu bahan bacaan dan media lainya baik vidio, gambar ataupun audio

Berbicara soal tantangan kita dalam gerakan literasi adalah belum membudayanya minat baca dan menulis dikalangan masyarakat terutama dikalangan kampus dan sekolah.

Budaya yang belum terbiasa sejak usia dini ini tentunya sangat kesulitan menggenjotnya dimasa remaja, dari tiga lingkar dimensi kehidupan kita pertama lingkar keluarga, kedua lingkar bekerja/sekolah ataupun kampus dan ketiga lingkar diantara keluarga dan tempat kerja/sekolah/kampus atau kita sebut lingkar ketiga. Lingkar keluarga tempat memulai budaya baca masih rendah, hal ini berembes ke lingkar kedua dan ketiga.

Yang lebih beratnya adalah tantangan kekinian dengan sibuknya orang dengan “Smartphone” ketimbang buku, di negara maju meski kemajuan dunia media sosial sangat dasyat tetapi karena budaya baca mereka telah kokoh akhirnya tidak mengguncang minat baca dan tulis mereka, hal ini terbukti sampai hari ini negara maju seperti Amerika, inggris, Jepang dan sebagainya masih tertinggi minat baca dan tulis mereka, hal yang faktual kita saksikan saat “touring”pun mereka tetap membawa buku dan menyempatkan diri membaca. Bagaimana dengan kita?

Baca Juga :  Geliat Industri Wisata Ranah Minang

Laporan/data kementrian Kominfo tahun 2017 mengungkap bahwa rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan waktu 9 jam menatap layar gawai, paling rajin bikin status dan cuitan twitter sehingga untuk Jakarta dan Bandung saja menempati 10 besar dunia dengan rata-rata 10 juta cuitan setiap hari, artinya sangatlah rajin di media sosial.

Kenyataan ini telah disindir oleh Stepen Apkon dalam “The Age of Image : Redefining Literacy in a Word of Screen (2013). Ia menyampaikan bahwa anak-anak di seluruh penjuru dunia hari ini telah menjadi generasi “Screenager” atau generasi layar bukan lagi “Teeneager”/generasi muda yakni generasi yang menghabiskan hari-harinya melihat layar bermedia sosial.

Tarikan gawai menjadikan minat baca buku tidak berdaya (powerless), menggerus kedalaman ilmu para pelajar, melemahkan daya baca mereka bahkan bahayanya menjadi alergi melihat buku-buku tebal yang sarat ilmu pengetahuan. Mereka telah menjadi generasi internet yang jika tidak hati-hati akan tercerabut dengan lingkungan sosial, keluarga bahkan akat budaya mereka.

Memang diakui bahwa melalui gawai generasi muda dapat juga membaca buku dan mencari ilmu pengetahuan, tetapi kenyataanya gawai ternyata memiliki “multitasking” yang menggoda para pengguna untuk beralih kepada hal-hal yang “trending” atau viral di media sosial sehingga daya baca menjadi lemah ditambah keterbatasan kemampuan mata melihat cahaya layar yang membuat cepat lelah akhirnya membaca buku tidak kesampaian.

Mengarus – utamakan gerakan Literasi

Melihat tantangan yang tidak ringan, pemerintah/daerah mestilah melakukan berbagai program kreatif serta menempuh langkah – langkah quantum agar dunia literasi menjadi sesuatu yang menarik dan “full” motivasi.

Dituntut sebuah upaya sistematis dan terintegrasi dengan menjadikan kegiatan pengarus utamaan gerakan literasi yang ditopang oleh berbagai “stakeholders” (pemangku kepentingan).

Maka dalam hal ini kami mengusulkan beberapa program yang kami istilahkan dengan program pengarus utamakan gerakan literasi.

Baca Juga :  Menangis Bantu Usir Stres

Kenapa kita sebut pengarus utamakan gerakan literasi? Sebab kenyataanya literasi disadari atau tidak telah termajinalkan selama ini dibanding kegiatan kesenian, olah raga dan lainya.

Tidak banyak “event” yang akan memotivasi bergairahnya gerakan literasi dalam program pemerintahan dibanding kegiatan yang kita sebut diatas begitu juga reward yang ditawarkan sehingga motivasi para pelajar, mahasiswa guru dan dosen untuk lebih serius menekuni kegiatan keilmuan dan keilmiyahan serta kesusastraan tidak segairah kegiatan olah raga dan kesenian.

Hal ini bukan berarti kita menafikan kegiatan yang telah berjalan dan program yang sedang bergulir, upaya menggenjot dunia literasi baik dikalangan kampus, sekolah begitu juga masyarakat perlu diapresiasi meski perlu ditingkatkan. Gerakan literasi nasional, gerakan literasi sekolah dan berbagai kegiatan oleh LSM dalam mendukung bergairahnya literasi perlu kita sempurnakan dengan suatu langkah-langkah quatum yang sistemik.

Point penting yang perlu kita perhatikan dalam program “Pengarus utamaan” gerakan literasi sebagai langkah quatum (lompatan besar) adalah pertama penyediaan sarana pra sarana, kedua program lintas sektor yang sistemik dan terakhir kampanye gerakan literasi yang berkelanjutan.

Pertama penyediaan sarana pra sarana tidak terlepas dari besaran anggaran pendukung. Oleh karena itu pemerintah/daerah mestilah memprioritaskan program gerakan literasi baik berupa penyediaan perpustakaan dan ketersediaan buku dan bahan bacaan lainya.

Perpustakaan mestilah menjadi tempat yang menarik dan nyaman bagi masyarakat terutama kalangan generasi muda, pentingnya perpustakaan diseluruh dinas instansi serta gerakan perpustakaan keluarga menjadi penting untuk diperhatikan. Termasuk gerakan bandul baca disetiap lapau/kedai sehingga keberadaan buku menjadi akrab ditengah masyarakat.

Kedua perlunya program lintas sektor untuk mendukung gerakan literasi. Ketika prestasi olah raga diapresiasi dengan medali dan bonus/tabanas maka selayaknyalah prestasi didunia literasi juga mendapat perlakukan yang sama. Alangkah indahnya jika ada medali emas untuk para guru dan siswa yang banyak menulis buku, medali untuk siswa yang rajin menulis resensi buku dan lain sebagainya.

Melakukan kegiatan perlombaan dibidang literasi akan sangat membantu memotivasi bergairahnya gerakan literasi, bahkan sangat penting menjadikan lomba tersebut menjadi “event” tahunan secara resmi sebagai program daerah baik lomba menulis buku, lomba karya ilmiyah, lomba karya fiksi sebagaimana pekan olah raga daerah/propinsi termasuk pemilihan duta literasi yang berjenjang dari sekolah hingga propinsi dan nasional akan sangat memotivasi berkembangnya kegiatan literasi.

Baca Juga :  Negeri Para Preman

Ketiga yang perlu kita gencarkan adalah kampanye budaya literasi secara masif dan berkelanjutan. Perlu adanya iklan himbauan serta sosialisasi akan pentingnya budaya baca dan membangun perpustakaan keluarga dari rumah baik dalam bentuk brosur, papan board dll. Dalam setiap momentum kiranya para kepala daerah menyelipkan himbauan akan pentingnya budaya membaca dikalangan pegawai dan masyarakat sehingga membaca menjadi salah satu kesibukan yang dipilih secara sadar mengiringi aktivitas sehari-hari masyarakat.

Epilog

Membudayakan tradisi baca dan tulis sebagai salah satu keberhasilan gerakan literasi memang tidaklah bisa secara instan, tetapi tidak pula tidak bisa disegerakan (baca : diakselerasikan). Langkah quatum membutuhkan sebuah pemikiran kreatif yang seharusnya dipimpin langsung oleh kepala daerah, tidak hanya saja oleh kepala dinas pendidikan, kepala dinas arsip dan perpustakaan ataupun lainya.

Gerakan literasi pada hakikatnya merupakan gerakan peningkatan SDM dan upaya membangun karakter bangsa/character building karena masyarakat yang melek buku sudah barang tentu berwawasan luas, wawasan luas dan ilmu akan merobah cara berfikir seseorang dan cara berfikir akan berpengaruh kepada sikap dan gaya hidup seseorang.

Sebagai contoh sederhana, program pengentasan kemiskinan yang telah berjalan dengan berbagai kegiatan stimulan belum banyak berdampak pada pengurangan masyarakat miskin barangkali salah satunya dikarenakan belum berobahnya pola fikir dan gaya hidup/life stile sebahagian masyarakat.

Masyarakat miskin memang adalah sesuatu yang lumrah dalam kehidupan masyarakat tetapi masyarakat yang “bermental” miskin yang perlu diwaspadai dan barangkali perlu kita berantas. Masyarakat miskin jika dibantu modal usaha, sarana serta pelatihan/skill akan cepat naik kelas. Tetapi masyarakat yang bermental miskin akan sulit berobah bagaimanapun bentuk bantuan dan pelatihan.

Maka, mari membangun budaya literasi sehingga Sumber Daya Manusia (SDM) meningkat, SDM unggul lahir dari kebiasaan membaca masyarakat terutama kalangan terpelajar, SDM unggul akan menjadikan bangsa maju dan mampu berkompetisi dan berdaya saing tinggi. Budaya literasi akan membangun peradapan maju, Semoga.

Wallahua’lam bissawab

 

Oleh : Safrudin Nawazir Jambak

Ketua Umum Forum Literasi Kab Agam

__Terbit pada
15/12/2019
__Kategori
Kolom

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PropellerAds