Kolom

Kriminalisasi Ulama, Masihkah Berlanjut?

AKTAINDONESIA.COM – Semula orang mengira, dengan dicawapreskan K.H. Ma’ruf Amin, kriminalisasi ulama otomatis berakhir, ternyata tidak. Para ulama kita masih menjadi target “pembusukan”.

Masih segar diingatan kita, beberapa waktu yang lalu, HRS harus berurusan dengan pihak kepolisian Arab Saudi lantaran diletakkannya bendera oleh orang yang masih buron hingga sekarang disalah satu bangunan dekat rumah yang beliau tempati. Dan itu menjadi viral di media sosial negeri ini. Begitu juga yang terjadi dengan Ustadz Arifin Ilham.

Beliau beserta majlis taklim Az-Zikra dilarang mengadakan acara yang bertemakan khalifah. Hingga tulisan ini dibuat, pihak keamanan tidak mengeluarkan izin kegiatan untuk acara dimaksud. Dan yang lagi hangat-hangat sekarang ini, lembaga survey LSI baru-baru ini memaparkan urutan ulama terpopuler di negeri ini. Dan dari survey lembagan LSI, HRS dan Ustadz Abdul Somad, Lc, MA berada diperingkat bawah dibanding Ustadz Yusuf Mansur. Terkesan ilmiah memang, tapi LSI terindikasi memiliki agenda tersembunyi dibalik ini.

Dikesankan seolah-olah HRS dan Ustadz Abdul Somad, Lc, MA telah ditinggalkan para pengikutnya. Dikesankan, kini umat terpecah-pecah. Umat tidak bersatu lagi seperti kekuatan di acara 212 beberapa waktu yang lalu. Bahkan kini, alumni 212 pun, dikesankan terbelah menjadi dua kubu. Satu kubu mendukung capres Prabowo-Sandi. Dan satu kubu lainnya, dikubu Jokowi-Ma’ruf Amin. Fatwa ulama pun dikesankan terbagi dua. Satu bernama ijtima’ ulama dan satu lagi bernama ittifaq ulama dengan aliran dukungan capres yang juga berbeda.

Telah menjadi realitas sejarah memang, pasca kegiatan penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok beberapa waktu yang lalu, ulama dan umat bahu membahu, bersatu padu membela Al-Qur’an yang dinistakan. Umat berkorban dengan apa yang dimiliki untuk membela agama. Bahkan banyak peristiwa mengharukan di kegiatan 212. Suasana persaudaraan sesama Muslim begitu terasa.

Baca Juga :  Antara Shalahuddin dan Al-Ghazali

Umat ketika itu memiliki semangat yang sama yaitu membela Agama Allah. Allah satu-satunya yang berhak dibesarkan. Semangat persaudaraan ini yang ingin dijauhkan lagi dari umat. Karena kekuatan umat, terbukti mengalahkan calon patahana pilgubri DKI yang notabene adalah sang penista agama beberapa waktu yang lalu.

Walau calon patahana didukung oleh penguasa ketika itu, didukung oleh sebahagian besar partai politik, didukung oleh 9 naga. Juga dibesarkan oleh beberapa lembaga-lembaga survey ketika itu. Tetapi kesan melekat dihati umat, kalo calon patahana adalah penista agama, umat bersatu menenggelamkannya dan itu terbukti. Akankah kekuatan ulama dan umat akan kembali terulang di pilpres 2019 ?

 

Penulis : Muslih, S.Ag

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *