Gempa Sulteng

KISAH PILU ; “Syahadatki, Hari Ini Kita Mati Bersama Anak-anak”

 

AKTAINDONESIA.COM, PALU – Trauma dan tangis menyelimuti pasca bencana alam gempa bumi dan tsunami di palu-donggala dan sekitarnya jumat 28 September lalu. Tak ada yang tersisa dari sebuah tragedi gempa dan tsunami itu, yang ada hanya air mata dan kepiluan.

Loading...

Rasa itu terekam jelas di wajah Santi Audia, seorang ibu rumah tangga yang kini menjanda usai gempa dan tsunami menerjang Kota Palu dan menewaskan suaminya.

Bibirnya gemetar, air matanya tercucur saat dia memulai menceritakan kejadian yang membuatnya harus merawat dua buah hatinya tanpa seorang suami.

Petang itu kata Santi, dia bersama anak-anaknya bersiap menuju Masjid. Tiba-tiba tanah berguncang, tembok rumah runtuh dan jalan terbelah.

Bersama suami dan kedua anaknya dia bergegas menuju dataran tinggi menggunakan motor. Nahas baginya, diperjalanan ombak besar datang menghantam, Santi bersama anak dan suaminya terlempar.

“Saat itu saya masih bersama suami berupaya menggapai masjid, sementara anak saya dua orang hilang waktu itu,” kata Santi sembari mengusap air mata di pipinya, Selasa (2/10/2018).

Ditempat inilah kejadian menyentuh dan membuat haru terjadi. Sang Suami tiba-tiba memeluk Santi sambil berucap dengan nada pelan di dekat telinga Santi,”Syahadatki, Hari Ini kita mati bersama anak-anak,” kata Santi menirukan perkataan suami.

Tak lama, ombak besar kembali menghantam, Santi dan suaminya terpisah. Beruntung Santi masih bisa melawan arus tsunami hingga surut.

“Tak lama saya dapat anakku yang pertama di pohon berduri, lalu saya ke bukit dan minta pertolongan ke orang untuk cari anak dan suamiku,” cerita Santi sambil menunduk mengusap rangis.

Sementara, anak Santi yang kedua juga ditemukan selamat dalam keadaan kedua kakinya patah. Sementara, kabar sang suami baru terdengar dua hari pasca tsunami.”Dua hari kemudian suami saya ditemukan sudah menjadi jasad,” kisah santi.

 

Saduran dari : inikata

Loading...
Baca Juga :  UPDATE: 384 Orang Meninggal Akibat Gempa dan Tsunami di Palu

2 Replies to “KISAH PILU ; “Syahadatki, Hari Ini Kita Mati Bersama Anak-anak”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *