News  

IPAL Tak Kunjung Selesai

AKTAINDONESIA.COM, PEKANBARU –Dampak buruk dari proyek Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) masih dirasakan oleh warga Pekanbaru. Dimana proyek yang bertujuan untuk mengatasi masalah air limbah dari warga Pekanbaru yang makin padat ini telah menimbulkan berbagai persoalan baru di Kota Pekanbaru.

Proyek IPAL tersebut diantaranya berlokasi di jalan Cempaka, Simpang jalan Melati, dijalan Sudirman Ujung dan beberapa ruas jalan lainnya di pekanbaru. Daerah yang banyak dilaksanakan pengerjaan IPAL tersebut berada di kecamatan Sukajadi.

Menurut Teva iris selaku ketua Pemuda Millenial Pekanbaru mengenai permasalahan IPAL menyampaikan bahwa proyek yang bertujuan untuk membantu masalah pembuangan kini jadi sumber masalah baru bagi warga. Masalah yang timbul telah lebih dari 2 tahun ini banyak dikeluhkan oleh warga.

“Sudah lebih proyek IPAL ini dikerjakan oleh kontraktor. Proyek tersebut adalah untuk pengendalian masalah air limbah dari kota Pekanbaru. Sebab semakin lama maka air limbah warga akan semakin banyak, tentu perlu solusi dari masalah itu”, ujar Teva Iris.

“Namun dalam pengerjaan proyek tersebut perlu dipikirkan dampak dampak yang dirasakan warga. Karena proyek ini telah lebih dari 2 tahun berjalan. Begitu banyak dampak yang dirasakan oleh warga terutama warga yang tinggal di daerah yang dilalui oleh proyek IPAL tersebut”.

“Diantara dampak dampak yang dirasakan oleh warga tersebut adalah adanya penutupan jalan yang membuat warga yang punya usaha jadi terganggu. Belum lagi bagi pengguna jalan yang harus memutar jauh. Selain itu adanya penumpukan sendimen material galian juga menjadi salah satu penyebab banjir di kota Pekanbaru. Selain dari masalah diatas juga banyaknya jalan yang kini berlubang dan tidak rata, hal itu bisa menjadi salah satu penyebab dari kemacetan dan kecelakaan”.

Baca Juga :  Anak Buruh Cuci Lolos Pendidikan Bintara Polwan, Bukti Rekrutmen Polri Bersih

“Tentu proyek yang dilaksanakan demi kepentingan masyarakat perlu didukung. Namun pemerintah dan kontraktor juga perlu memikirkan solusi agar masalah proyek tersebut tidak terlalu besar dampaknya bagi warga. kontraktor harus menggesa dan segera menyelesaikan pekerjaannya, agar masyarakat tidak lagi mengeluhkan proyek nasional tersebut. Desakan itu terkhusus untuk pengerjaan galian, perbaikan ruas jalan yang rusak, pengembalian jalan aspal, hingga mengembalikan fungsi drainase”.

“Kepada pihak kontraktor harus bekerja sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP). Hal ini guna menghindari timbulnya masalah-masalah baru akibat proyek IPAL. Limbah buangan air yang dari galian itu tidak boleh langsung dibuang ke parit. Seharusnya, ada bak penampungnya. Tapi, kenyataannya kan itu tidak ada. Di sepanjang Jalan Rajawali dan Jalan Ahmad Dahlan itu yang nampak sekali parit-parit itu tersumbat,” ungkap Teva Iris.