Ilham Dwiguna Pangestu, 19 Tahun Berjuang Melawan Gizi Buruk

Ilham Dwiguna Pangestu, 19 Tahun Berjuang Melawan Gizi Buruk

Ilham Dwiguna Pangestu, 19 Tahun Berjuang Melawan Gizi Buruk

AKTAINDONESIA.COM, BANDUNG – Ilham Dwiguna Pangestu (20) terbaring tak berdaya. Anak pasangan Dedi Irawan (41) dan Heni (39) ini menghabiskan waktunya di atas ranjang atau karpet di ruang tengah rumah.

Tubuh Ilham tinggal tulang dan kulit. Bobot tubuhnya sekitar 19 kilogram, tidak lazim seperti pemuda seusiannya. Ia tak dapat berbicara dengan jelas dan hanya memberi kata isyarat kepada ibunya selagi berkomunikasi.

Heni terus menatap sang anak. Dia memangku Ilham yang tiba-tiba rewel.

“Kalau nonton suka anteng, atau mendengarkan musik. Sekarang hanya mendengarkan musik saja, enggak bisa nonton teve soalnya. Tevenya rusak,” ujar Heni di rumah kontrakannya, Kampung Babakan Desa, RT 03 RW 14, Desa Pamekaran, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (8/1/2019).

Heni mengungkapkan awal mula pertumbuhan Ilham terganggu kesehatannya saat usia satu tahun. Anak pertama dari lima bersaudara ini sempat mengalami demam hebat.

Demam diderita Ilham tak kunjung diobati. Sebab, kata Heni, dulu keluarganya tinggal di desa terpencil Cianjur selatan.

“Demam, panas pas umurnya satu tahun bahkan sampai step dan kejang. Tidak keburu dibawa ke dokter, soalnya jarak antara rumah dan dokter jauh. Demamnya sampai tiga bulan,” tuturnya.

Untuk berobat ke puskesmas terdekat saja Heni harus membawa Ilham ke Ciwidey, Kabupaten Bandung. Jarak tempuh dari rumahnya di Cianjur itu menghabiskan waktu 4 jam. Sedangkan untuk berobat ke kawasan perkotaan Cianjur, dia harus menempuh waktu lebih lama lagi, ditambah kondisi jalan rusak.

“Saya tinggal di perbatasan Cianjur-Bandung. Untuk berobat pun saya harus ke Ciwidey, karena lebih dekat ke Ciwidey,” ucap Heni.

Baca Juga :  Daftar 40 Caleg Mantan Napi Korupsi Versi ICW

Ia dan suaminya pernah membawa Ilham untuk berobat ke salah satu dokter di Ciwidey. “Katanya mengalami gizi buruk,” ujarnya.

Sekitar sepuluh tahun lalu, Heni dan suaminya memutuskan untuk pindah rumah dari Cianjur ke Desa Pamekaran, Soreang, Kabupaten Bandung. Alasannya untuk memudahkan akses pendidikan dan kesehatan anak-anaknya.

Ilham mendapatkan bantuan kursi roda dari Dinas Sosial Kabupaten Bandung. Saat ini Ilham masih membutuhkan biaya untuk asupan nutrisi dan terapi.

Ilham tak berobat secara rutin ke puskesmas dan rumah sakit setempat. Karena Heni dan suami tidak memiliki biaya lebih. Bahkan Ilham tidak terdaftar BPJS Kesehatan.

“Ilham tidak masuk ke BPJS tempat suami saya kerja, karena waktu itu Ilham tidak memiliki akta kelahiran. Jadi sekarang dibawa berobat kalau sakit saja, kalau panas atau kejang saja karena enggak punya biayanya,” ucap Heni.

“Saya enggak kasih susu karena saya tidak mampu. Dan keinginan saya bisa berobat, sekarang paling hanya dipijat saja,” Heni menambahkan.

Kepala Puskesos Desa Pamekaran, Yani Rosdiani menuturkan, pihaknya telah memberikan bantuan kursi roda kepada Ilham dari Dinas Sosial Kabupaten Bandung. “Selain itu kami juga telah membantu membuatkan akta kelahiran Ilham untuk proses pembuatan BPJS mandiri,” katanya.

Namun pihak desa tidak bisa membantu membuatkan BPJS dari pemerintah, karena harus terintegrasi dengan BPJS Kesehatan sang ayah yang didapat dari tempatnya bekerja.

“Paling solusinya Ilham harus daftar BPJS secara mandiri, karena dulu Ilham tidak memiliki akta kelahiran, sehingga tidak bisa diklaim dan tidak bisa terintegrasi ke BPJS ayahnya,” katanya.

Pihak desa mengaku hanya bisa membantu dengan membuatkan surat keterangan tidak mampu (SKTM) untuk meringankan biaya pengobatan Ilham di RSUD Soreang. “Paling dari pemerintah desa bisa menbuatkan SKTM untuk meringankan biaya (berobat). Dari SKTM ini bisa maksimal Rp 5 juta per pasien per tahun, tapi tidak bisa cover seluruhnya,” ucap Yani.

Baca Juga :  Mantan Panglima GAM Siap Menangkan Prabowo

Akta Indonesia

leave a comment

Create Account



Log In Your Account