Simposium Nasional 2 x KolaborAksi

Hadirkan Para Pembicara Hebat, BEM KM IPB Bahas Isu Pemerataan Pendidikan Tinggi di Indonesia

BOGOR – Kementerian Kebijakan Nasional BEM KM IPB bersama Kajian Isu Strategis dan Advokasi BEM Faperta IPB menggelar Simposium Nasional 2 X KolaborAksi, Sabtu (20/3/2021). Sekretaris Kementerian Kebijakan Nasional BEM KM IPB Fathan Putra Mardela mengatakan, kegiatan ini merupakan ruang kritis bagi civitas akademika dalam menyampaikan pandangan dan tanggapannya terhadap isu-isu pendididikan, terutama pendidikan tinggi.

“Dari diskusi ini dapat memberikan insigth baru terhadap mahasiswa atau masyarakat umum yng nantinya berharap dapat melahirkan solusi untuk pendidikan lebih baik,” kata Fathan, Senin (22/3/2021).

Kegiatan tersebut menghadirkan tiga pembicara, yaitu dosen Universitas Sebelas Maret Aris Arif Mundayat, Ph. D., dosen Univesitas Negeri Jakarta Dr. Robertus Robert, M. A., dan Rektor IPB University 2012-2017 Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, M. Sc.

Dalam pemaparannya, Aris Arif Mundayat, Ph. D. mengatakan, pemerataan pendidikan di Indonesia menjadi hal yang konsen dilakukan mengingat berbagai permasalahan yang terjadi di Indonesia. Permasalahan tersebut mulai dari jumlah dosen, birokrasi kampus, fasilitas, dan lain sebagainya.

“Kualitas pengajar atau dosen di Indonesia sering mengalami ketimpangan dan pebedaan kualitas dan terjadi di Jawa maupun luar Jawa. Permasalahan tersebut terjadi dapat disebabkan oleh dosen yang kerap kali dapat memegang banyak mata kuliah,” kata Aris.

Dosen sosiologi itu menerangkan, terdapat perbedaan jumlah mengajar mata kuliah antara dosen di Malaysia dengan Indonesia. Dosen di Malaysia hanya diperbolehkan mengajar 2 mata kuliah, sementara di Indonesia bisa mencapai 22 mata kuliah.

“Ditambah lagi dosen di Indonesa mengambil proyek di luar perkuliahan. Hal ini menjadi permasalahan yang berakibat menurunnya kualitas pendidikan di Indonesia dengan terpecahnya fokus mengajar dosen dengan banyaknya mata kuliah,” tambahnya.

Baca Juga :  Pedagang Sate di Padang Gunakan Daging Babi

Dr. Robertus Robert mengatakan, M. A. mengatakan, berdasarkan data yang bisa diakses secara luas dan cepat di internet menunjukkan bahwa persebaran perguruan tinggi swasta lebih banyak dibanding perguruan tinggi negeri. Hal ini akan terlihat juga korelasi kelas-kelas sosial yang berkuliah di masing- masing perguruan tinggi.

“Korelasi lainnya yaitu berhubungan dengan tingkat pengangguran di mana pengangguran berdasarkan pendidikan terbanyak dialami oleh lulusan SMA. Pengangguran yang tinggi di tingkat lulusan SMA menunjukkan bahwa ada sekian persen orang yang tidak dapat pekerjaan serta tidak masuk ke perguruan tinggi,” beber aktivis HAM yang juga ketua YLBHI 1996-2003 ini.

Sementara itu, Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, M. Sc. mengatakan, pemerataan pendidikan tinggi berhubungan dengan tingkat mutu pendidikan tinggi. Konteks tersebut tercermin dengan adanya kebijakan otonomi kampus agar kampus tidak terjebak dalam belenggu administrasi pendidikan.

Menurut Rektor IPB University 2012-2017 ini, kampus merupakan ruang yang dilingkupi oleh pemikiran- pemikiran yang kuat dan juga penghasil beragam inovasi. Prinsip seperti itu menjadikan kampus sebagai ruang dalam kemerdekaan berpikir.

“Suatu hal penting yang di garis bawahi, yaitu terkait kemampuan bangsa menguasai teknologi. Itu semua menjadi pedoman kampus dalam berinovasi,” pungkasnya.

Kegiatan ini direspon baik oleh peserta. Peserta turut aktif memberikan pertanyaan yang kemudian dijawab oleh ketiga pembicara. Peserta diskusi ini bukan hanya diikuti oleh mahasiswa IPB, tapi juga diikuti oleh mahasasiswa di luar IPB.

*(MHT/ Fathan)

__Terbit pada
23/03/2021
__Kategori
Edutech, Kampus, Nasional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PropellerAds