Goyo, Dusun Marginal Yang Abadi

AKTAINDONESIA.COM, MANADOGoyo merupakan salah satu dusun di Desa Ollot II, Kecamatan Bolangitang Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, yang dimekarkan pada tahun 2005–menurut penelusuran yang saya dapat, karena sebelum menulis saya riset terlebih dahulu.

 

Tujuannya dimekarkan adalah untuk membantu Bolmut yang pada saat itu masih Binadow untuk menjadi daerah otonom baru di Sulawesi Utara. Dan itu berhasil.

 

Buku ini menceritakan tentang sebuah dusun yang bagaikan surga dunia di mata anak-anak yang kerjaannya hanya main sampai lupa waktu pulang.

Alin Pangalima bersama anak-anak Goyo

Namun setelah beranjak dewasa, dia baru sadar bahwa ada sesuatu yang salah di sana, sesuatu yang amat menyedihkan dan harus diperjuangkan meskipun itu mengancam keselamatannya sendiri.

 

Pada buku itu saya membaginya menjadi tiga bab. Bab pertama membahas Goyo di tahun 2045. Maksudnya gimana? Saya mengunakan alur maju dengan segala keterbatasan imajinasi yang saya punya untuk mengambarkan Goyo pada tahun itu menjadi maju dan berkembang, bahkan mengalahkan ramainya ibukota provinsi.

Di mana, di Goyo banyak berdiri gedung-gedung tinggi, pusat perbelanjaan, sekolah-sekolah, kampus, berdiri perpustakaan termegah di kabupaten, tak ada lagi kemiskinan karena mereka sudah dibekali oleh pengetahuan akibat kecanggihan zaman yang lambat laun mulai menyentuh kehidupan di balik pepohonan itu, tak ada lagi anak-anak yang putus sekolah atau menikah muda–kecuali didukung finansial yang memadai.

Setiap tahun menghasilkan lulusan-lulusan yang berkompeten yang mengabdikan diri untuk kemajuan Goyo tercinta. Tapi meski dengan kecangihan zaman begitu, mereka tidak lupa dengan kulturnya bangsanya. Tolong-menolong, barter, dan bertani menjadi satu hal yang katanya kuno bagi yang lain, tapi tetap dipertahankan keasriannya di Goyo, dia terus tumbuh, subur pula.

Baca Juga :  Harga Tiket Baru Ke Candi Borobudur

 

Di bab kedua, saya membahas soal Goyo di tahun 2005-2012, di mana jika teman-teman atau kakak-kakak membaca buku ini, akan dibawa kembali ke zaman kanak-kanak yang dengan dunianya, dunia main. Anak-anak berumur 7 tahun itu hanya menghabiskan waktu di sekolah, kebun, sungai, hutan, rumah teman, bahkan tak jarang melakukan kejahatan ala bocah kampung.

 

Di tiap lembarnya, tidak akan ditemukan romantisme seperti novel-novel saya yang lain, yang banyak berceloteh tentang masalah perasaan. Hanya ada dunia main, dunia merdeka khas anak kampung yang jauh dari kata mewah.

 

Saya juga membahas tentang permainan tradisional yang tidak lagi diketahui oleh anak-anak yang hidup di daerah perkotaan atau anak desa yang sudah terhegemoni dengan kecanggihan zaman. Juga dibubuhkan cerita-cerita rakyat seperti Legenda Gunta, biar anak-anak yang membaca tahu bahwa Bolmut juga punya cerita rakyat yang tak kalah hebat dari daerah-daerah yang lain.

Di sini pun, saya menggunakan bahasa sehari-hari yang biasa masyarakat Bolmut gunakakan, baik dari Bahasa Bolangitang–karena saya orang Bolangitang– dan bahasa “campur” sehingga yang membaca seolah sedang berbicara dengan diri sendiri dan kembali ke masa lalu yang menyenangkan.

 

Bab ketiga tahun 2020-2022, saya membahas tentang Goyo hari ini yang masih jauh dari kata merdeka, tentang kebijakan yang cenderung tidak bijak, tentang jembatan yang hampir hanyut dilahap air ketika banjir datang di musim penghujan, tentang orang-orang yang hampir hanyut karena jatuh terperosok ke dalam sungai saat melewatinya dengan rakit, tentang jalan yang macam sungai kering, tentang kesehatan yang tak pernah memadai. Tentang segala embel-embel yang membosankan.

 

Dunia menjadi begitu kejam bagi para manusia yang hidup di sana. Orang-orang itu mengantungkan nasib pada hasil hutan yang tak seberapa. Sehingga di usia yang masih sangat belia mereka (masyarakat Goyo) terlihat lebih tua dari umurnya.

Baca Juga :  Antara Shalahuddin dan Al-Ghazali

 

Anak-anak harusnya bersekolah malah berganti profesi menggendong anak, mengubur dalam mimpi-mimpi manis yang sudah lama dicita-citakan. Kadang aku kesal sekali dengan Tuhan yang membiarkan orang-orang itu hidup dalam ruang sempit dan menyiksa seperti itu.

Jika dulu Goyo menjadi indah di mata anak umur 7 tahun, kini ia beralih menjadi sesuatu yang kusebut sebagai neraka dunia.