Filosofi Kain Panjang Adat Minangkabau

AKTAINDONESIA.COM, PADANG – Kain dan manusia saling terkait sejak lahir hingga ajal datang menjemput, disimbolkan dengan pambaduang dari kain. Bayi baru lahir setelah dibersihkan lalu dibedung menggunakan kain agar tidurnya nyenyak. Hingga tiba waktunya manusia itu meninggal dunia kain digunakan untuk menutup jenazahnya. Kain lazim digunakan oleh manusia dalam kesehariannnya. Kain dalam pemahaman orang kini adalah kain yang bukan pakaian sehari-hari, melainkan kain yang dipakai untuk kegitan tertentu. Kain itu banyak jenisnya, ada yang disebut dengan kain sarung dan kain panjang. Kain sarung bentuknya seperti karung ada namaya sarung plikat yang lazim dipakai oleh kaum laki dan untuk shalat bagi kaum perempuan. Selain itu ada pula namanya sarung batik jao yang lazim dipakai oleh kaum perempuan. Sedangkan kain panjang adalah kain yang berukuran panjang hingga menjapai 3-4 meter.

Kain panjang berasal dari bahan batik yang memilki banyak jenis misalnya batik tulis, batik tanah liat, batik cetak dan lainnya. Kain panjang memiliki banyak warna dan motif yang beragam. Kain sarung dan kain panjang mempunyai nilai yang berbeda dalam kehidupan manusia, walaupun dalam keseharian sama-sama digunakan. Secara kasat mata kain panjang menempati posisi yang khusus dan bahkan termasuk legitimasi adat pada daerah tertenu seperti Minangkabau. Orang Minangkabau menempatkan kain panjang sebagai peralatan yang bernilai tinggi dan sebagai penghormatan. Hal ini terlihat dari pada pelaksanaan upacara adat perkawinan dan upacara adat lainnya. Kain panjang dijadikan sebagai alas kasur tempat duduk penghulu dan ninik mamak pada upacara adat yag sedang berlangsung. Selain itu kain panjang pun ada juga digunakan untuk penutup bagian tertentu dari rumah di saat berlangsungnya perhelatan.

Kain panjang dalam adat Minangkabau termasuk atribut adat yang ada semenjak sesorang itu dilahirkan hingga akhir hayatnya. Setiap fase yang dilalui oleh seseorang itu kain panjang menjadi barang yang tak terabaikan. Kain panjang menjadi barang bawaan yang diperuntukan untuk seseorang sebagai bentuk kasih sayang dan hubungan silaturahmi. Ikatan keluarga semakin kuat setelah lahirnya generasi baru yang ditandai dengan datang bersilaturahmi.

Baca Juga :  Nasrul Abit Dicopot dari Ketua Gerindra Sumbar

Fase pertama kehidupan manusia atau sebelum lahir kain panjang telah disediakan yang nantinya akan digunakan untuk bedung maupun pandukuang. Semenjak masa bayi kain panjang telah dipakai oleh manusia sebagai pelindung dari kedinginan, membuat tubuhnya hangat karena dibedung. Kondisi seperti ini membuat ia tertidur pulas sampai berjam-jam. Selain itu kain panjang pun digunakan sebagai pandukuang bayi. Menggendong bayi menggunakan kain panjang terasa lebih leluasa baik si bayi maupun yang menggendongnya. Bayi yang digendong bisa dibaringkan karena kain yang lebar mampu menutup seluruh tubuh. Begitu juga orang yang menggendong terasa enteng karena kekuatan gendongan terletak pada bahu bukan pada tangan. Kedua tangan bisa melenggang dan bayi tetap nyaman dalam gendongan bahkan sering ia tertidur.

Kenyataan tersebut memperlihatkan bahwa kain panjang begitu berarti bagi manusia mulai sejak bayi. Oleh sebab itu dalam adat Minangkabau tradisi mancaliak anak umumnya orang membawa kain panjang. Tradisi mancaliak anak dilakukan oleh pihak bako anak (nenek dari ayah) beserta anggota keluarganya. Pada acara ini biasanya nenek dan anggota keluarga lainnya datang beramai-ramai melihat cucu baru lahir. Rombongan itu terutama nenek dan keluarga terdekat membawa kain panjang, di samping bawaan yang lain seperti emas dan lainnya. Barang bawaan berupa kain panjang merupakan adat turun temurun. Sedangkan emas atau yang lainnya adalah penyerta adat karena adanya kemampuan keluarga yang bersangkutan.

Melewati fase masa bayi, kain panjang pun masih menjadi peralatan adat yang diberikan kepada seseorang. Memasuki masa peralihan yakni menikah kain panjang sebagai pengisi piring hantaran. Pada prosesi adat bertunangan yang ditandai dengan istilah maantaan nasi lamak. Maantan nasi lamak adalah prosesi adat dalam rangka penentuan waktu pelaksanaan pernikahan. Maantaan nasi lamak dilakukan oleh pihak perempuan ke rumah pihak laki-laki. Selain itu nasi lamak juga diantarkan ke rumah bako, mamak anak yang akan menikah tersebut. Piring nasi lamak ini nantinya oleh yang menerima akan diisi dengan bermacam-macam barang salah satu nya adalah kain panjang.

Baca Juga :  Aceh dan Minangkabau

Adat seperti tersebut sangat kental terlihat pada masyarakat di Kota Padang. Hampir setiap waktu dapat disaksikan adanya arak-arakan orang mancaliak anak, orang maantaan piriang nasi lamak. Prosesi adat tersebut menjadikan kain panjang sebagai adat yang harus diisi. Oleh sebab itu tidak heran pada acara tersebut ada puluhan bahkan ratusan helai kain panjang yang diterima oleh keluarga yang bersangkutan. Kain panjang pemberian itu terutama dari pihak bako mempunyai nilai yang sangat dalam, adat bako terhadap anak pisang. Hubungan bako dan anak pisang tidak akan putus sampai akhir hayat walaupun “ayah” nantinya telah tiada.

Kain panjang begitu berarti dalam kehidupan manusia tidak hanya semasa hidup setelah meninggal dunia pun demikian. Orang yang telah meninggal dunia jasatnya disemayamkan ditutupi menggunakan kain panjang. Adat kematian berbeda-beda setiap daerah di Minangkabau, disebut jiga dengan istilah adat salingka nagari. Adat kematian di Kota Padang, penyelenggaraan jenazah tidak hanya menurut ajaran agama Islam yakni dimandikan, dikapani, disahalatkan dan dikuburkan. Penyelenggaraan jenazah disertai adat yang berlaku semenjak lama yakni adanya pasambahan dan aturan adat lainnnya terkait dengan memandikan jenazah. Hubungan keluarga baik bertali darah maupun bertali adat terlihat pada prosesi penyelenggaraan jenazah tersebut.

Berkaitan dengan hal itu, pada hari kematian kain panjang sangat diperlukan. Kain panjang digunakan mulai dari jenazah disemayamkan, dimandikan, dikapani sampai kepemakaman. Begitu banyak kain panjang yang terpakai maka dihari kematian tersebut kaum kerabat terdekat biasanya membawa kain panjang. Kain panjang itu lazim disebut dengan istilah kain alas tilam. Kain alas tilam adalah istilah yang digunakan untuk acara kematian yang terdiri dari beberapa helai kain panjang. Kain alas tilam digunakan sebagai alas jenazah ketika dibawa kepemakaman.

Baca Juga :  Caleg Gerindra di Sumbar Tewas Gantung Diri

Berdasarkan kenyataan tersebut, ternyata kain panjang sangat erat kaitannnya dengan aktivitas manusia. Terlepas dari untuk pengisi adat kain panjang pun banyak digunakan dalam keseharian. Bagi orang yang mempunyai anak bayi kain panjang bisa juga digunakan untuk ayunan atau buayan di samping untuk menggendong. Kain panjang disebut juga dengan kain pandukuang karena digunakan untuk mandukuang (menggendong) anak. Sesungguhnya dalam situasi tertentu yang didukuang tidak hanya manusia tetapi barang bawaan berupa benda ada yang didukuang. Selain itu kain panjang dapat digunakan sebagai alat bantu dalam suatu pekerjaan seperti untuk sangguluang. Pada masa dahulu baik kaum laki-laki maupun perempuan sering menggunakan sangguluang untuk membawa barang yang berat dengan cara dijujung di atas kepala. Sangguluang digunakan sebagai alas kepala agar barang bawaan mudah diletakan dengan baik.

Kegunaan lain dari kain panjang adalah sebagai pakain sehari-hari, maksudnya dijadikan sebagai selimut tidur. Kain panjang banyak digunakan untuk selimut karena ukurannnya yang panjang sehingga bisa menutupi seluruh tubuh. Pada masa dahulu orang lazim menggunakan kain panjang untuk selimut tidur, dua atau tiga orang anak-anak bisa diselimuti dengan satu helai kain panjang. Begitu juga remaja laki-laki yang pergi tidur ke surau atau tidur bersama kawan-kawannya berselimutkan kain panjang.

Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa kain panjang mempunyai makna yang sangat dalam bagi manusia. Ia lahir dinanti dengan kain pajang dan ketika meninggal dunia pun jenazahnya ditutup kain panjang diantar kepemakaman. Hal ini menandakan bahwa kain panjang termasuk pakaian manusia yang akan selalu ada sepanjang hayatnya. Memang diakui saat ini bahwa kain yang fungsinya sama dengan kain panjang cukup banyak. Misalnya untuk bedung bayi, menggendong bayi, selimut tidur. Tetapi semua itu tidak sama dengan kain panjang, untuk acara adat di Minangkabau masih menggunakan kain panjang sebagaimana yang diwarisi oleh para tetua dahulu [Penulis adalah Peneliti di Kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat].