Dua Hari Besar Bertemu: Hari Jumat dan Hari Wukuf di Arafah

AKTAINDONESIA.COM, MAKAH,Pemerintah Saudi Arabia telah menetapkan bahwa tanggal 1 Dzulhijah untuk tahun ini bertepatan dengan hari Kamis 30 Juni 2022. Oleh karena itu hari Arafah untuk tahun ini jatuh pada tanggal 8 Juli 2022, bertepatan dengan hari Jum’at.

Sebagian orang beranggapan bila hari Arafah bertepatan dengan hari Jum’at, maka itu adalah haji akbar. Yang lain beranggapan bahwa haji pada saat seperti itu pahalanya seperti tujuh puluh kali haji.

Bila dua hari ini bertepatan, maka itu sebuah kemuliaan tersendiri. Hari Arafah adalah sebaik-baik hari sepanjang tahun. Sedang hari jum’at adalah sebaik-baik hari sepanjang minggu.

Berikut dali-dalilnya:

Pertama, bertepatan dengan hari wukufnya Nabi shallallahu’alaihiwasallam.

Allah ta’ala telah memilihkan hari jum’at sebagai hari wukuf RasulNya yang mulia. Tentu Allah tidak akan memilihkan untuk RasulNya melainkan yang paling afdol. (Lihat shahih Bukhori, hadis nomor 105 dan shahih Muslim, hadis nomor 2312)

Kedua, pahala amal perbuatan akan semakin besar nilainya bila dilakukan pada waktu yang mulia atau di tempat yang mulia. Bila hari Arafah bertepatan dengan hari jum’at, berarti telah terkumpul dua kemulian dalam satu waktu sekaligus. Hari Arafah sebaik-baik hari sepanjang tahun. Sedang hari jum’at sebaik-baik hari sepanjang minggu. Pahala ibadah pada saat seperti itu, tentu lebih besar daripada hari-hari lainnya.

Ketiga, berkumpulnya dua hari raya dalam satu hari. Hari Arafah merupakan hari raya bagi kaum muslimin, sebagaimana dinamakan oleh Umar bin Al-Khottob radhiyallahu’anhu. Dan hari jum’at merupakan hari raya mingguan bagi kaum muslimin sebagaimana telah kita ketahui bersama.

Keempat, berkumpulnya dua hari yang kemuliaan. Hari jumat adalah hari yang mulia, begitu pula hari Arafah adalah hari yang mulia.

Baca Juga :  Rasanya Jadi Anak Muhammadiyah Di Kampung Yang Mayoritas NU

Mengenai kemuliaan hari jum’at disebutkan dalam hadis Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا

“Sebaik-baik hari adalah hari Jum’at, karena pada hari itulah Adam diciptakan, pada hari itu pula dia dimasukkan ke dalam surga, dan pada hari itu pula dia dikeluarkan darinya.” (HR. Muslim no. 854).

Mengenai keagungan hari Arafah, disebutkan dalam hadis ‘Aisyah radhiyallahu’anha. Beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَء

“Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah hari Arafah. Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?” (HR. Muslim no. 1348).

Kelima, berkumpulnya dua hari yang mustajab untuk berdoa. Hari jum’at adalah hari yang mustajab untuk berdoa. Begitu pula hari Arafah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ لَسَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا مُسْلِمٌ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللهَ خَيْرًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا.

” Sesungguhnya pada hari Jum’at itu ada suatu waktu, yang tidaklah seorang muslim berdo’a; memohon kebaikan kepada Allah, bertepatan dengan waktu tersebut melainkan Allah akan mengabulkan apa yang ia pinta.” Kemudian beliau memberi isyarat dengan tangan beliau, menunjukkan singkatnya waktu tersebut. (HR. Bukhori dan Muslim)

Waktu sesaat yang disebutkan dalam hadis di atas tidak diketahui persisnya. Terdapat beberapa riwayat yang menerangkan mengenai waktu singkat tersebut. Hanya saja dengan redaksi yang berbeda-beda. Sebagaimana dipaparkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (11/203).

Baca Juga :  Kapolda Riau Bersama Musnahkan Barang Bukti Narkoba di Kantor LAM Riau

Ada sebuah riwayat, sanadnya shahih, yang menerangkan waktu singkat tersebut. Yaitu Hadis Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

« يَوْمُ الْجُمُعَةِ ثِنْتَا عَشْرَةَ ». يُرِيدُ سَاعَةً « لاَ يُوجَدُ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا إِلاَّ آتَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ »

“Siang hari Jum’at itu ada 12 jam. Tidaklah seorang muslim memohon pada Allah ‘azza wa jalla (di suatu waktu mustajab di hari Jum’at tersebut) melainkan pasti Allah ‘azza wa jalla akan mengabulkan doanya. Maka crilah waktu tersebut di waktu-waktu akhir setelah ‘Ashar.(red.yaitu akhir waktu ashar, sesaat menjelang tiba waktu maghrib)” (HR. Abu Daud no. 1048)

Adapun mengenai mustajabnya doa di hari Arafah, dijelaskan dalam hadis Aisyah radhiyallahu’anha. Beliaumengatakan,” berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَء

“Tiada hari yang Allah lebih banyak membebaskan hambaNya dari neraka melebihi pada saat hari Arafah. Allah akan mendekat kepada mereka lalu akan menyebut-nyebut mereka di hadapan para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?” (HR. Muslim no. 1348).

Keemam, Allah ta’ala bersumpah dengan kedua hari tersebut. Allah ta’ala tidaklah bersumpah melainkan dengan sesuatu yang agung. Dan alangkah agungnya bila dua hari yang mulia itu bertemu dalam satu waktu.

وَشَاهِدٍ وَمَشْهُودٍ

“Demi syahid (yang menyaksikan) dan mayshud (yang disaksikan).” (QS. Al-Buruj: 3)

Dari Abu Hurairoh radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahualaihiwasallam bersabda,

اليوم الموعود : يوم القيامة ، واليوم المشهود : يوم عرفة ، والشاهد : يوم الجمعة

Baca Juga :  Dosen Teknik Elektro Berbagi Pengetahuan Kelistrikan Dengan Masyarakat

”Hari yang dijanjikan maksudnya adalah hari kiamat. Hari yang disaksikan (masyhud) adalah hari Arafah. Dan hari yang menyaksikan (syahid) adalah hari jum’at.” (HR. Tirmidzi)