BURUKNYA PENANGANAN WABAH COVID-19 INDONESIA

Buruknya Penanganan Wabah COVID-19 Indonesia

AKTAINDONESIA.COM, BOGOR– Wabah berbahaya lagi mengintai rakyat Indonesia, COVID-19. Cerita panjangnya wabah tersebut berasal dari Negara China, Kota Wuhan dan menyebar keseluruh dunia termasuk salah satunya Indonesia. Wabah Virus Covid-19 di Indonesia pertama kali terjangkit oleh warga Depok, di hari ke 16 wabah covid-19 telah memakan 19 korban meningal dan positif corona 227 orang, peningkatan dampak covid-19 dibilang sangat masif dan berlangsung begitu cepat. Terhitung sampai saat ini peningkatan kasus postif corona berada di atas 3,7% perhari dengan terdampak di 7 provinsi di Indonesia.

Penanganan kasus ini terbilang sangat lambat, prediksi pertama pemerintah Indonesia mengklaim corona sukar untuk berpatogen di Indonesia, kedua pemerintah mengklaim bahwa seluruh akses keluar masuknya warga negara asing di perketat baik di Bandara atau pelabuhan, ketiga pemerintah bersih kukuh tidak akan melaksanakan lockdown jika keadaanya belum parah, ke empat perlengkapan kesehatan (laboratorium, tenaga medis) yang kurang memadai, terhitung sampai sekarang Indonesia hanya mempunyai 11 laboratorium kesehatan yang menangani kasus Covid-19 dan, berbanding terbalik dengan China yang mempunyai 88 laboratorium. “lebih baik mencegah dari pada mengobati” kata-kata yang cukup spesial untuk menggambarkan kelambatan kebijakan pemerintah untuk menanggulangi kasus corona.

Namun, kebijakan pemerintah yang dipublikasikan di media tidak sesuai dengan realita dan fakta dilapangan. Contohnya penanganan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, kebijakan untuk meng-scaning dan pengecekan suhu tubuh tidak dilaksanakan di area penerbangan domestik dan kesiagaan petugas kesehatan sangat minim. Contoh tersebut menyebabkan proses terjadinya penyebaran covid-19 akan semakin meluas. Mengingat negara ini merupakan negara kepulauan seharusnya pemerintah perlu melaksanakan penanganan secara khusus, untuk meninjak lanjuti penyebaran covid-19 di seluruh Indonesia. Bukan hanya diranah perkotaan, ranah pedesaan pun seharusnya bisa terjangkau mengenai sosialisasi dini wabah Covid-19.

Baca Juga :  Jokowi Akan Ambil Langkah Indonesia Darurat Sipil

Kebijakan lockdown, pemerintah belum satu suara terkait penanganan kasus corona. Hanya ada dua pilhan untuk pemerintah dalam menangani kasus ini “Ekonominya yang mati atau warganya yang mati ”. Kebijakan lockdown sangat ampuh untuk dilakukan untuk menghentikan penyebaran virus corona. Kebijakan ini sudah terbukti salah satunya di China, Malaysia dan 27 Negara Eropa. Lockdown mampu mengurangi penyebaran virus hingga 70%. Namun perlu diperhatikan bahwa dampak lockdown mampu memperparah laju pertumbuhan perekonomian.

Keraguan Badan Kesahatan Dunia terkait penanganan kasus corona kian parah, hal ini terjadi karena ketidak terbukaan Indonesia dalam menangani wabah pandemi global. Hingga saat ini, Badan Kesehatan Dunia menyurati Indonesia agar secepatnya menaikkan status pandemi corona menjadi darurat nasional. Harapannya pemerintah perlu untuk membuka informasi terkait penanganan dan penyebaran virus agar warga bisa mengetahui wilayah yang terjangkit dan mensiagakan diri lebih dini.

Ainun Fiki
Mahasiswa Asrama Kepemimpinan IPB
Bondowoso, 19/03/2020

__Posted on
19/03/2020

Author: Fathan Mardela

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

PropellerAds