Gempa Sulteng

Asa di Balik Pilu Petobo

 

AKTAINDONESIA.COM, DONGGALA – “Larilah sekencang mungkin ke luar rumah.”, Ulfa (53 tahun) teringat pesan orang tuanya saat menghadapi gempa. Namun, saat rangkaian gempa mengguncang Petobo, Jumat (28/9) petang, jangankan berlari, berjalan untuk menjauh dari warungnya pun ia tak mampu. lumpur pasca gempa datang mengepung dan menggrogoti.

PropellerAds
Loading...

Alhasil, ia hanya mampu merangkak untuk menghindar dari kemungkinan tertimpa atap-atap seng bangunan warungnya. Sesampainya di tepian Jalan Dewi Sartika, Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Provinsi Sulawesi Tengah, Ulfa menyaksikan sendiri tanah tidak hanya bergetar, tetapi bergeser hingga untuk berdiri pun terasa sangat sulit untuk sepersekian menit.

“Kejadian saat itu maghrib, saya lihat jalan terlipat (seperti terlipat), suara gemuruh keras sekali,” kata dia.

Karena ketakutan, ibu pemilik warung makan di depan SMP Negeri 6 Kota Palu itu memilih hanya duduk sembari berdoa agar Tuhan memberinya kesempatan kedua untuk bertemu dengan dua putrinya dan melanjutkan hidup sebagai pribadi lebih baik.

Tuhan pun diyakini menjawab doanya. Guncangan berhenti, ia dan dua putrinya selamat. Meski demikian, Ulfa masih cemas karena tak lama air bercampur lumpur tampak turun merendam jalan dan warungnya.

“Air merendam karung beras di warung, basah semua. Tidak lagi saya pikir itu, saya langsung ke luar dan lari ke masjid. Di sana sudah beberapa orang berkumpul, mereka shalat jamaah,” kata Ulfa saat ditemui di warungnya, tepat sepekan setelah bencana terjadi.

Sesaat setelah bencana terjadi, suasana berubah hening setelah sebelumnya jalanan ramai dengan suara gemuruh dan teriakan minta tolong. Ulfa melihat warungnya sudah terendam air keruh, bangunan sekolah di depan warungnya retak, dan jalanan bergelombang, kemudian lumpur terlihat naik ke atas permukaan tanah.

Tidak banyak yang ia lakukan malam itu. Ia kembali ke rumah memastikan keluarganya selamat. Hari berikutnya, Sabtu (1/10), Ulfa dan keluarganya mesti bertahan hidup tanpa pasokan listrik dan air bersih.

“Kami mencoba bertahan, memanfaatkan apa yang ada di rumah dan di warung. Air di warung tidak lama surut. Banyak barang berserakan, makanan, minuman kemasan, sampai bensin. Tidak saya peduli, yang penting (keluarga) selamat,” ujarnya.

Ia bercerita tentang banyak tetangganya yang selamat di Petobo meminta izin mengambil barangnya yang berserakan itu. “Saya kasih semua, ambil (menunjukkan gestur tengah memberi barang–Red.) ini sudah, ambil saja, kasih makan anakmu,” sebut Ulfa mencontohkan ucapannya ke tetangganya saat itu.

Saat itu, untuk warga Petobo yang selamat, kemurahan hati Ulfa dan kehadiran warungnya menjadi berkah tersendiri, membantu para penyintas untuk bertahan hidup.

Likuifaksi
Warga Petobo pada Jumat (28/9) itu juga dilanda fenomena likuifaksi, bergeraknya tanah dan naiknya lumpur menelan ratusan hunian, pasar, sekolah, hingga pusat kebudayaan Islam (Islamic center) di kawasan tersebut.

Menurut peneliti geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Adrin Tohari, dalam sebuah diskusi di Bandung, empat hari setelah bencana, likuifaksi terjadi karena lapisan tanah tidak didukung bebatuan yang solid sehingga gempa memicu hilangnya daya topang tanah di permukaan. Senada dengan itu, ahli Geologi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Agustan menjelaskan likuifaksi merupakan aktivitas material padat di daratan teraduk dengan lapisan air di bawah permukaan tanah.

Fenomena tersebut besar kemungkinan terjadi di daerah dengan susunan tanah berpasir. Imam Achmad Sadisun, ahli geologi terapan dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung (ITB) mengatakan, likuifaksi hanya mungkin terjadi pada tanah yang jenuh air atau tersaturasi.

Guncangan besar gempa bumi yang melebihi gaya gesek tanah kemudian menyebabkan fenomena likuifaksi. Sebenarnya, fenomena itu dapat dihindari mengingat potensi likuifaksi dapat diidentifikasi.

Sederhananya, proses identifikasi dapat dilihat dari pemetaan jenis tanah hingga menghitung indeks potensi likuifaksi. Potensi fenomena tersebut, ahli menuturkan, dapat dikurangi dengan membuat material tanah menjadi lebih padat. Pencampuran material tanah dengan semen, injeksi semen, serta membuat pondasi hingga lapisan tanah terdalam dapat dilakukan.

Selepas ditemui pascagempa, Ulfa mengaku, dulunya wilayah seberang warungnya merupakan rawa-rawa. “Tidak tahu bagaimana, itu (rawa-rawa) ditimbun pasir dan tanah, buat perumahan,” katanya.

Bukan hanya Petobo, likuifaksi juga terjadi di Perumahan Balaroa, Kota Palu. Akibatnya, ratusan rumah runtuh terendam lumpur. Ribuan jiwa diperkirakan tewas akibat gempa dan fenomena likuifaksi. Proses evakuasi hingga Senin (8/10) pun masih dilakukan oleh Tim Pencarian dan Penyelamatan (SAR) Gabungan.

Membekas
Lumpur yang naik ke atas permukaan tanah, beberapa memang sudah mengering. Gambaran mencekam itu, tampaknya membekas di ingatannya dan dua orang putrinya. Bukan hanya Ulfa, seorang penyintas lain, Pieter Boeve (42), juga mengatakan, dia cukup terbiasa dengan gempa di Palu, tetapi tenggelamnya Petobo akibat lumpur menjadi gambaran yang sulit ia lupakan.

“Rumah saya tidak runtuh, tidak ditelan lumpur, hanya pagar rebah, dan retak-retak saja,” kata dia saat ditemui di lokasi bencana Petobo

Namun, ia melanjutkan, banyak kerabatnya masih belum ditemukan. “Mungkin tewas, tetapi kalau bisa saya ingin lihat jasadnya,” ucap Pieter menjelaskan alasannya terus bolak-balik ke lokasi bencana menanti proses evakuasi yang dilakukan Tim SAR Gabungan.

Pascabencana, Pieter, ayah dengan dua orang putra itu ,mengaku kesulitan kembali ke rumah. “Saya ingin balik lagi, kembali lagi tinggal (di rumah), tetapi kasihan anak saya, satu orang usia dua tahun, satu lagi empat tahun. Menangis anak-anak, kalau tahu saya membawa mereka pulang ke rumah,” katanya.

Pieter juga bercerita walau bencana sudah sepekan berlalu, anak sulungnya masih menangis jika ia mendengar Pieter akan kembali ke rumah. “Dengar suara saya bilang pulang saja, (anak) yang pertama langsung menangis,” ujarnya menambahkan.

Alhasil, Pieter bersama keluarganya pun untuk sementara tinggal di pengungsian sampai keadaan di Kota Palu berangsur pulih. “Saat ini kami tidur di tenda, ambil pakaian yang ada di rumah, mungkin kebutuhan sekarang itu pampers bayi dan susu buat anak-anak. Itu saja,” ucap warga Petobo yang merantau dari Kupang, Nusa Tenggara Timur, itu.

Masih Berlangsung

Ribuan jiwa dikabarkan tewas, untuk Petobo sendiri, proses evakuasi jenazah masih terus berlangsung. Aroma anyir masih dapat tercium samar dari radius 100 meter, walau baunya dapat berubah menjadi lebih tajam saat angin kencang berembus di atas reruntuhan.

Di tengah jejak-jejak traumatis itu, Ulfa kembali membuka warungnya. Ia memajang barang dagangannya, seperti air minum kemasan, roti, hingga nasi bungkus di seberang jalan. “Tidak boleh terus sedih, harus terus bergerak,” sebut Ulfa sembari menata barang dagangannya.

Tidak lama, banyak sepeda motor dan mobil-mobil relawan memarkirkan kendaraannya. Banyak dari mereka yang mengambil nasi bungkus dan telur rebus dari warung milik Ulfa.

“Nasi dan ayam, telur rebus, semuanya Rp 15 ribu,” kata Ulfa ke pembeli.

Setengah jam berselang sejak ia membuka warungnya pada pukul 10.00 WITA, 25 bungkus nasi ludes terjual. “Sisa mi instan saja, kalau mau saya buatkan,” kata Ulfa ke relawan Tim SAR Gabungan yang saat itu tengah beristirahat selepas mencari jenazah.

Dengan cekatan, ia langsung merebus air, dan memasak mi instan pesanan relawan. Tidak lama, masakan itu ia sajikan dengan cabai dan potongan jeruk nipis. Sepekan setelah bencana, proses evakuasi memang masih berjalan, sedangkan Ulfa dan sebagian pengungsi di Kota Palu memilih untuk perlahan melanjutkan hidup. Mereka optimistis satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan terus berjuang dan berdamai dengan duka.

Loading...
Baca Juga :  Korban Gempa Donggala Meninggal Kelaparan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *