Apple Terdampak Perang Dagang Cina-AS

AKTAINDONESIA.COM Perusahaan teknologi yang merancang dan menjual produk komputer dan smartphon, Apple terkena dampak atas manufer Cina dalam perang dagang antara Cina dengan Amerika Serikat.

Dilansir dari CNBC, harga jual saham Aple merosot 5.23%. Hal ini merupkan keadaan terburuk semenjak 13 Mei 2019 dimana pada saat itu harga jual saham Apple ditutup turun 5.81%.

Dow Jones Industrial Average yang merupakan salah satu indeks pasar yang didirikan oleh editor Wall Street Journal jatuh sebanyak 600 poin pagi tadi. Kejatuhan ini di pimpin oleh Apple setelah Cina melakukan pembiaran atas melemahnya nilai tukar Yuan terhadap Dolar Amerika Serikat.

Kesengajaan pelemahan nilai tukar ini merupakan bentuk tindak balas Cina atas kebijakan Amerika Serikat yang tidak mau mengurangi tarif 10% dari produk Impor Asal Cina yang bernilai 300 Milyar Dolar Amerika. Tarif yang dikenakan oleh pemerintah Amerika Serikat ini turut berdampak pada produk Apple yang di produksi di Cina.

Ming Chi Kuo, Top Analis dari Apple menyebutkan bahwa kebijakan tarif Amerika tidak akan berpengaruh pada harga jual produk Apple di tingkat Konsumen “tariffs won’t trickle down to increased iPhone prices for consumers”. Hal ini berarti Apple yang akan menanggung pembiayaan terhadap kebijakan tarif

Namun Ia menambahkan bahwa dampak negatif dari perang dagang ini tidak akan berlangsung lama terhadap perusahaan Apple. Hal ini dikarenakan ada peningkatan keuntungan dari bisnis layanan yang dibuka oleh Apple ‘the profit from service business is growing” kata Kuo. Ia pun menambahkan bahwa perangkat yang di produksi di luar cina juga akan di tingkatkan secara bertahap “and non-Chinese production locations will gradually increase” tambahnya lengkap.

Baca Juga :  Hongkong Mencekam, Demonstrasi Duduki Stasiun Kereta Api

Kuo juga yakin bahwa produk aple yang tidak di produksi dari negeri Cina akan menguasai permintaan pasar Amerika Serikat dalam dua tahun ini. “We believe that Apple’s non-Chinese production locations could meet most of the demand from the U.S. market after two years” tutupnya.

__Terbit pada
06/08/2019
__Kategori
News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PropellerAds