News

Almarhum Fahmi Fasya, Pejuang Literasi Hingga Akhir Hayat

AKTAINDONESIA.COM, SUBANG – Muhammad Fahmi Fasya (33), meninggal dikala muda, pemuda ini mendedikasikan hidupnya untuk literasi hingga akhir hayat, Selasa (13/8).

Loading...

Banyak yang merasa kehilangan sosok pemuda kelahiran 1986 yang kreatif itu. “Insyaallah almarhum husnul khotimah.. aamiin,” ungkap Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Subang, Ine Anggraeni.

Presiden BEM Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Subang, Haerudin Inas mengenang perjalanan bersama Muhammad Fahmi Fasya sewaktu kuliah.

Dia menceritakan, 2012 yang lalu saat dimana Bem Fikom masih terus berbenah dan terus berkegiatan agar Fikom semakin berkembang dalam Kuantitas dan Kualitas, pada Jambore Fikom 2012 Alm Fasya adalah orang yang bertanggung jawab pada bidang Literasi.

Momen Muhammad Fahmi Fasya di dunia literasi (Foto Unggahan Fb Fahmi Fasya 24 Juli)

“Fasya bertanggung jawab menjadik koordinator buku-buku yang dikerjasamakan dengan Mizan,” kenang pria yang akrab disapa Capung itu.

Dia menuturkan, alm Fasya pernah juga mewakili Fikom berangkat menghadiri pertemuan mahasiswa Fikom di Universitas Bung Karno.

“Alm Fasya adalah orang yang pertama kali berangkat mewakili Fikom Universitas Subang di moment berkumpul bersilaturahmi dan diskusi mengenai Ilmu Komunikasi,” ujarnya.

Haerudin Inas ingat betul pesan yang disampaikan almarhum sepulang dari Universitas Bung Karno.
“Sekecil Fakultas Ilmu Komunikasi di Universitas di daerah tapi Fikom Unsub membuktikan bahwa Fikom Unsub mampu dibanding kekurangan beberapa univeritas di daerah lain yang masih menginduk pada fakultas sosial lainnya,” jelasnya.

Menurutnya, almarhum Fahmi Fasya sangat bersemangat untuk membangun Kampung Melek Media sebagai bentuk pengabdian ilmu komunikasi pada masyarakat Subang.

“Sungguh bersaksi bahwa alm Fahmi Fasya adalah orang yang baik dan berguna bagi sesama serta agamanya,” katanya.

Egi Aristiansalah seorang teman seperjuangnya dalam gerakan literasi mengatakan, almarhum Fasya berjuang membuat taman baca yang awalnya menantang diri sendiri, kemudian berani gelar perpustakaan jalanan di Wisma Karya dan mengumpulkan anak-anak terus memberikan cerita. “Banyak belajar dari almarhum, berani berbuat orangnya,” ujarnya.

Selanjutnya, Fahmi Fasya fokus mengembangkan perpustakaan dan gerakan literasi yang diberi nama Taman Baca Rumah Ilmu (TBRI). Terakhir, Fasya bersama para pegiat literasi tengah mempersiapkan acara untuk mengundang penulis Gol Agong yang akan digelar Agustus ini.

Tapi, ajal menjemputnya. Jejaknya akan terus dilanjutkan. Selamat jalan kawan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

sumber : pasundanexpress

 

Loading...
Baca Juga :  Negeri Para Preman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *