Aligarh, Kampung Muslim di India

Aligarh, Kampung Muslim di India

Aligarh, Kampung Muslim di India

 

Cut Anggi Dwi Geubrina*

 

AKTAINDONESIA.COM, INDIA – INDIA adalah negara dengan mayoritas penganut Hindu terbesar di dunia. Namun, ada satu kota kecil di India yang bisa dibilang jauh dari kata modern. Kota yang serba sederhana, namun dipenuhi oleh orang-orang berintelektual tinggi. Kota yang tidak berteknologi canggih, tapi banyak warganya yang mahir di bidang IT. Inilah Aligarh.

Kota ini terletak di Provinsi Uttar Pradesh, 130 km sebelah tenggara New Delhi, India Utara, merupakan kota dengan mayoritas muslim dengan 800.000 penduduk. Kita bisa naik bus selama tiga jam dari New Delhi untuk bisa sampai ke kota ini.

Ketika pertama kali sampai di Aligarh, saya disambut oleh azan Isya yang berkumandang dengan merdunya. Ternyata nama Aligarh mempunyai arti “Rumah Ali”. Nuansa keislaman di Aligarh tak bisa dipisahkan dari sebuah bangunan megah yang sudah berdiri dari tahun 1875, Aligarh Muslim University. Walaupun universitas ini mengadaptasi pembelajaran dari Universitas Cambridge dan Oxford yang notabene Barat, tetapi AMU tetap menjaga nilai-nilai keislaman sebagai pedoman. Hal ini tidak lepas dari seorang tokoh Islam terkemuka pendiri AMU bernama Sir Syed Ahmad Khan. Pada tahun 1889 ia mendapat gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang hukum di Edinburgh, Skotlandia, dan meninggal tahun 1899. Sejarah mencatat, beliau adalah keturunan Hussein, putra dari Ali bin Abi Thalib bersama putri Rasulullah, Fatimah binti Muhammad.

Ini menjadi salah satu alasan mengapa Aligarh difavoritkan mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan studi. Saat ini tercatat sekitar 40 dari 80-an mahasiswa Indonesia yang tersebar di seluruh penjuru India dan terbanyak bermukim di Kota Aligarh, disusul New Delhi dan Hyderabad. Mahasiswa Indonesia dan muslim lainnya dari berbagai negara, sebut saja Thailand, Turkmenistan, Afganistan, dan Iran tidak menemukan kesulitan untuk mendapatkan makanan halal di sini. Bahkan bisa dikatakan hampir semua makanannya halal. Cuma, perlu pula saya kemukakan cuplikan diskusi saya dengan seorang teman muslim India tentang sedikitnya restoran cepat saji yang menjual ayam goreng di sini. Dia menasihati saya agar tidak ke gerai ayam goreng cepat saji. Dia katakan restoran tersebut diragukan kehalalannya dengan memberi contoh, “Apakah kamu yakin mereka membaca Bismillah ketika menyembelih ayam dalam jumlah yang banyak, sedangkan mereka menggunakan mesin dalam pengerjaannya?”

Baca Juga :  Perubahan Iklim Dan Kesuburan Pria Hingga Kepunahan

Kemudian dia mengajak saya ke Dodhpur, sebuah pasar tradisional, untuk membeli ayam. Dia jelaskan, “Ini lebih baik dan halal.”

India adalah negara yang sangat kaya rempah-rempah. Juga sangat banyak kita temukan varian bumbu masakan di sini. Hal itu memudahkan kami yang rindu akan kampung halamam untuk memasak makanan Indonesia. Sebagian besar makanan India pun terasa cocok di lidah orang Indonesia, terutama saya. Makanan khas India yang sangat familiar adalah nasi biryani dan kari yang dimakan dengan roti khas India. Kita bisa membelinya di warung makan dan terjamin halal.

Meskipun Aligarh mayoritas penduduk muslim, mereka di sini tidak memakan daging sapi. Mereka menggantinya dengan daging kerbau atau kambing. Terutama pada Hari Raya Idul Adha, muslim tidak menyembelih sapi. Ini adalah salah satu bentuk toleransi antarumat beragama di India. Bagi masyarakat Hindu, sapi adalah hewan suci laksana dewa. Mereka menyebutnya, “Gaye Hamari Mata Hai” yang berarti “Cow is our mother”. Muslim dan Hindu saling menghormati sehingga Aligarh menjadi kota yang damai berdampingan satu sama lain. Mahasiswa Indonesia menyebut Aligarh “Kampung Damai”.

Monumen bersejarah di Kota Aligarh

Berbicara soal pasar, belum pernah saya temukan ada pedagang wanita di sini. Pasarnya justru dipenuhi oleh laki-laki, baik penjual maupun pembeli. Baik itu pedagang sayur, buah, ikan, daging, penjaga toko, dan kasir swalayan semua adalah laki-laki. Tak banyak kita jumpai para wanita yang berseliweran di pasar. Kebanyakan mereka berada di rumah dan melaksanakan tugas utama mereka, yaitu mengurus anak dan rumah. Para laki-lakilah yang bekerja di luar.

Masyarakat pun Aligarh amat sopan dalam berpakaian. Banyak perempuan yang berjilbab bahkan bercadar. Yang tidak berjilbab, mereka tetap menggunakan pakaian yang tertutup khas perempuan muslim India, memakai celana panjang, jumper atau disebut dengan kurta, dan tak lupa selendang atau dupatta sebagai pelengkap.

Baca Juga :  Kisah Para Driver Taksi Online Bergaji Direktur

Ada satu cerita lucu ketika saya sedang berbelanja di Dodhpur, seorang perempuan yang sedang berada di atas riksha (becak) berteriak meminta riksha bhai (abang becak) untuk berhenti. Ternyata dupatta-nya terlilit roda riksha.

Pendeknya, Aligarh di mata saya adalah kota sederhana yang jauh dari kesan modern dan teknologi canggih. Tapi tidak boleh dipandang sebelah mata, terutama dalam bidang keilmuan dan keislaman mereka. Kiranya hal ini dapat menjadi cerminan bagi kita masyarakat muslim Indonesia, terutama Aceh yang mempunyai julukan “Serambi Mekkah” untuk bisa mengambil hal-hal positif dari masyarakat muslim India.

 

*Mahasiswi Magister Jurusan English Language Teaching, Faculty of Art Aligarh Muslim University

 

 

serambinews

Admin

aktaindonesia.com adalah portal media online yang melayani informasi dan berita dengan mengutamakan kecepatan serta kedalaman informasi. Portal berita ini selama 24 jam dalam sepekan selalu update. Selengkapnya

leave a comment

Create Account



Log In Your Account