Aceh dan Minangkabau

AKTAINDONESIA.COM – Dalam perjalanan budaya dan bangsa,s tersebutlah dua suku yang mempunyai hubungan erat, dua suku tersebut syarat akan kekentalan agama dan budayanya, sebutan negeri para ulama dan negeri pemegang teguh syariat islam menempel terhadap kelompok masyarakat yang mendiami Pulau Sumatera tersebut.

Suku tersebut adalah Aceh dan Minangkabau.

Seorang ulama besar asal minangkabau yg paling berpengaruh menyiarkan dakwah islam di minangkabau, yaitu Syekh Burhanuddin pernah belajar di Aceh dan berguru kepada Syekh Abdur Rauf as-Singkili, seorang Mufti Kerajaan Aceh yang berpegaruh, yang pernah menjadi murid dan Syekh Ahmad al-Qusyasyi dari Madinah. Sebaliknya peranan para perantau minang di aceh pun cukup berperan penting, salah seorang perantau minang yg di angkat sebagai hulubalang secara turun temurun oleh kesultanan aceh adalah Datuk makhudum sati.

Suku Aneuk Jamee

Datuk Makhudum Sati adalah salah seorang pemimpin dari kelompok perantau Minangkabau di wilayah pantai barat Aceh pada abad ke-18, yang pada awalnya dipercaya sebagai penjaga keamanan istana dan kemudian diberi kekuasaan sebagai Uleebalang VI Mukim secara turun temurun oleh Sultan Aceh. Beliau adalah salah seorang kepercayaan sultan ketika itu.

Mengenai asal usul dari Datuk Makhudum Sati masih terjadi perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan Datuk Makhudum Sati berasal dari Luhak Limopuluah, tetapi ada juga yang mengatakan dari Rawa Pasaman, tetapi keduanya adalah wilayah Minangkabau. Ia dan pengikutnya pergi merantau ke wilayah pantai barat Aceh atau sekitar Meulaboh sekarang sekitar abad ke-18 ketika Kesultanan Aceh diperintah oleh Sultan Jamalul Badrul Munir (1711-1733).

Datuk Makhudum Sati kemudian diberi gelar ‘Nanta Seutia Raja’, karena kesetiaannya dalam pengabdian pada sultan, bahkan diberi kekuasaan di VI Mukim untuk turun temurun. Ia mempunyai dua orang putra, yaitu Teuku Nanta Seutia dan Teuku Cut Mahmud. Sepeninggal Datuk Makhudum Sati anaknya yang bernama Teuku Nanta Seutia kemudian melanjutkan kepemimpinan sebagai uleebalang VI Mukim.

Teuku Nanta Seutia kemudian mempunyai anak yang bernama ‘Cut Nyak Dhien’, yang dikenal sebagai pemimpin perang Aceh dan dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. Sedangkan Teuku Ahmad Mahmud yang menikah dengan adik uleebalang Meulaboh mempunyai anak yang bernama ‘Teuku Umar’, yang juga dikenal sebagai pemimpin perang Aceh dan juga dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia. Jadi Cut nyak dhien dan Teuku umar adalah pahlawan nasional aceh yg berdarah aceh dan minangkabau.

Perantau minang semenjak abad ke 13 dan 14M sudah banyak yg menetap di aceh dan membaur dengan pribumi aceh. Selama ber abad-abad antara perantau aceh dan minangkabau telah menjalin kekerabatan yg begitu dekat.

Bagi kalangan masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat, Kota Tapaktuan tidak asing lagi ditelinga. Jika bicara Tapaktuan, Ibukota Kabupaten Aceh Selatan orang minang langsung merespon dengan ucapan “Urang Awak, dunsanak awak” yang artinya orang kita juga, family kita. Alasannya?, bahasa keseharian di kota mungil ini sama persis dengan bahasa Minangkabau, cuma dialeknya saja yang berbeda, malah di beberapa Gampong (Desa) dalam Kabupaten Aceh, mereka masih mempertahankan dialek Minangkabau.

Penduduk yang mendiami Kota Tapaktuan ini asal muasalnya merupakan perantauan dari Minangkabau yang saat ini dikenal sebagai Suku Aneuk Jamee. Suku Aneuk Jamee ini adalah sebuah suku yang juga tersebar di beberapa kabupaten di sepanjang pesisir barat -selatan Aceh. Secara etimologi, nama “Aneuk Jamee” berasal dari Bahasa Aceh yang secara harfiah berarti “anak tamu”. Suku aneuk jamee di terima baik oleh orang aceh sebagai suku kerabat dekat orang aceh.

Suku ini merupakan keturunan perantau Minangkabau yang bermigrasi ke Aceh dan telah berakulturasi dengan Suku Aceh. Mereka sudah mendiami beberapa kecamatan di wilayah barat – selatan Aceh sejak berabad-abad lalu.

Bagian pesisir barat Sumatra telah menjadi rantau tradisional bagi orang Minangkabau. Migrasi orang Minang ke pesisir barat Aceh telah berlangsung sejak abad ke-13 hingga ke abad 16, di mana ketika itu banyak dari saudagar Minang yang berdagang dengan Kesultanan Aceh. Selain berdagang banyak pula dari masyarakat Minang yang memperdalam ilmu agama ke Aceh. Salah satunya ialah Syeikh Burhanuddin Ulakan.

#Suku_aneuk_Jamee
#Aceh_Minangkabau
#Perantau_Minang

(Catt: Roby sikumbang & Boy paskand Okamara)
———————-
Referensi / Rujukan:

id.m.wikipedia.org/wiki/Suku_Aneuk_Jamee

id.m.wikipedia.org/wiki/Datuk_Makhudum_Sati

aceh.tribunnews.com/amp/2019/09/12/tapaktuan-kota-minangkabau-kedua-di-pesisir-barat-aceh

acehprov.go.id/jelajah/read/2014/02/12/73/sejarah-suku-jamee-di-aceh.html

——————–
Foto: suku aneuk jamee

Loading...
__Posted on
05/06/2020
__Categories
Culture

Author: Akta Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

PropellerAds